Posts

Showing posts with the label Sehari hari

A Farewell

Image
Sebagai yang gemar menitipkan perasaan pada setiap jengkal kejadian dalam hidupnya, aku agak tertelan blues kecil bernama pindahan. Yep, genap setahun aku ngekos dan meninggalkan rumah Abah. Meskipun sekota dan jarak antara rumah-kosan relatif dekat, tapi selama setahun terakhir frekwensi aku main ke rumah Abah bisa dihitung dengan jari. Bahkan saat lebaran aku menolak pulang dan memilih sendirian di kos dengan alasan bekerja.  Sudah seminggu lewat sejak barang barang dipak dan dibawa pergi dari kos. Masih ada setengah bulan sewa yang tersisa. Aku sisakan beberapa barang dan baru hari ini main lagi ke kos pas istirahat siang. Men itu satu setengah jam paling reflektif dalam hidup hahaha. Ada banyak sekali kejadian yang mengubah perspektif dan cara menjalani hidup setahun belakangan. Perkenalan dengan orang orang baru, pertemanan yang sedemikian akrab, persahabatan yang berhenti begitu saja dan satu-dua kejadian yang begitu mengguncang fondasi yang kukira sudah sempurna terbe...

100 Buku Untuk 2016

Image
Lelah mata Hayati. Hahaha, satu dari kepinginan (atau romantisnya; resolusi resolusian) di tahun 2016 ini adalah membaca 100 buku. Asal muasalnya dari goodreads yang terkonek di facebook dan kawan kawan saya banyak sekali membaca buku di tahun 2015 kemarin! Merasa tertantang sayapun membentang ingin untuk menuntaskan sekurangnya 100 buku di tahun ini.  Januari masih panjang, apalagi Desember. Semangat menggebu untuk terus membaca menghantarkan saya pada sepertiga akhir di bulan ini dengan runut buku yang telah dibaca: Aleph - Paulo Coelho The Devil and Miss Prym - Paulo Coelho Kereta Malam - Avianti Ahmad Perempuan Yang dihapus Namanya - Avianti Ahmad Anjing Anjing Menggali Kuburan - Kumcer Terbaik Kompas 2014 Senja dan Cinta Yang Berdarah - Seno Gumira Ajidharma Philosophy 101 - Paul Kleinman Pohon Pohon Sesawi - YB Mangunwijaya Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer - Pramoedya Ananta Toer Tiga Menguak Tabir - Kumpulan Puisi Chairil Anwar, Rivai ...

A Tale of Quarter Life Crisis - The Nothingness

Image
"Nothingness itu ngeri, lebih mengerikan daripada tenggelam dalam pikiran pikiranmu sendiri" Kalimat nona @mpokgaga dalam perbincangan kelewat singkat soal quarter life crisis membuat saya mengangguk setuju. Nothingness itu ngeri.     Semenjak mengenal konsep quarter life crisis (tujuh delapan tahun silam kalau tak salah, berkat membaca autobiografi Kurt Cobain) saya menjadi agak rajin mencari artikel terkait hal itu bertahun tahun selepasnya hingga sekarang. Mencoba memahami apa itu quarter life crisis dan bagaimana cara melewatinya dengan baik. Overthinking memang, tapi rather be prepared than doing so many regrettable things, rite? Stage QLC saya dimulai di usia 17 saya rasa. Tahap awalnya adalah baru menyelesaikan pendidikan SMA dan tidak tau harus berbuat apa. Lulus sekolah, saya ingat ada banyak sekali malam yang saya habiskan untuk tenggelam dalam pikiran pikiran soal seperti apa saya kudu memulai kehidupan saya sebab saya meyakini, salah ambil langkah sek...

Lingua

Image
Perjalanan liburan saya ke Malang diiringi buku Seno Gumira Ajidharma, Lingua. Satu cerpen yang saya baca berulang ulang hingga akhirnya berujung pada posting ini. Tentang pria yang mencintai perempuan yang tidak pernah ada. *** Seberapa sering kita menemukan diri sendiri jatuh dan patah hati, menemukan diri sendiri mendeklarasikan cinta yang menggebu kepada lebih dari satu orang. Untuk jadian, lalu putus, jadian, putus dan seterusnya hingga kelak settle dalam pernikahan lalu bercerai, mungkin.  Seberapa sering kita menemukan diri sendiri berikrar bahwa tidak akan menemukan cinta lain selain seseorang yang kita cintai saat itu. Berikrar bahwa adalah mustahil untuk berbahagia, tertawa dan merasakan sepenuhnya hidup bersama orang lain selain dirinya. Seberapa sering kita mencoba memahami bahwa tidak satupun perkara di dunia ini yang bisa berkekalan namun toh sepenuh hati pula kita memaksakan diri untuk berkata "inilah kekekalan perasaan yang bisa aku ikrarkan...

World After 85 Scale

Image
Two IGD visits, numerous times of doctor appointment and I'm still a sad, sad fat girl.  I'm cursing A LOT lately, especially during night because I'm hungry as fuck.  Kondisi tubuhpun menurun drastis, saya sangat sangat mudah lelah. Satu lembur saja mampu membuat saya dan dokter langganan keluarga ketemu. Rasanya nyaris delapan kali saya bolak balik dokter untuk keluhan keluhan ringan seperti demam, flu, sakit kepala, pingsan gegara kurang tidur, maag hingga yang paling mutakhir, jatuh dari motor gegara somehow saya kehilangan fungsi gerak. Lalu beberapa kejadian paska ditasbihkannya niatan diet itu, dua bulan tepatnya, saya kembali berdiri di atas timbangan badan sambil menggumamkan sejumlah umpatan dan voila. Satu onspun tidak berkurang. Saya tetap seorang perempuan kelewat gendut dengan berat 85 kilo. Saya kira saya bakal menangis sejadinya, atau kecewa hingga ubun ubun, atau menyalahkan pemprogram diet saya. Nyatanya tidak. Oke, saya menghabiskan se...

Keresahan Perpindahan

Image
"Tidak ada yang berketetapan di muka bumi kecuali ketidaktetapan itu sendiri" Rekan sejawat saya dalam dunia tulis menulis di jejaring maya bernama blog, Bapak Ilham Satrio telah mengembangkan blognya hingga sedemikian mutakhir saya sampai malu sendiri bermain ke stereofolk.blogspot.com dan dialektikata.blogspot.com miliknya. Rasanya seperti bertandang ke rumah kawan lepas naik haji gegara menang undian alfamart hahaha. Megah, besar lagi matang. Posting kali ini akan banyak berisi keluhan. Saya menahan diri untuk tidak banyak mengeluh karenanya sepanjang tahun posting blog yang memang ditujukan untuk menelan segala keluhan ini hanya sejumlah hitungan jari.  Saya larut dalam terlalu banyak kenangan dalam rentang tidak hanya bulan tapi bertahun tahun belakangan. Saya telah menjadi seseorang yang sedemikian sensitif terhadap kenangan hingga sejengkal bait lagu atau sepenggal kalimat random bisa memicu tangis. Saya cengeng, melankolis, pesimis dan tidak begitu pandai ...

Obstacle

Image
Why its so hard to say : "Please stay, I'm not okay" or "I admit it, I'm weak and I need your help" instead of pushing everyone who cares about you away and refuse to accept a help from a pure hearted people? Why its easier to say : "Go, I don't need your help" or "Your attention makes me dependent" Why its so important for me to be independent? As if when someone help me I'll drown into an endless hole of moral duty? I can't live that way yet I don't want to feel like I'm using or taking people for granted. Or maybe, Maybe I just had to find someone I can relying to without feeling guilty at all. 9/9/2015 I've learned to say No thanks before Thank You, I guess.

A How To : Forgive Yourself

Image
worry not about the source, its a random pic from internet I remember many many sleepless night and lousy day back in my young day. I remember when I get mad easily and yelled at my mother like she's the one who should took all the responsibilities of my problem. I can't even remember if there's any fine day when I spoke or showed an affection to her back there. Since my mother died, I'm contemplating too much, I spend too many time of feeling guilty and worthless. I've become so sensitive and worrying if there's any chance of me hurting or taking people for granted. Its all because she's gone before I even realize that its too late to ask for a forgiveness and say that I love her. Such a lovely feeling to have, eh? I think its my own way to redeem every glance of mistake that I've made before.  And by far, a year gone and I'm still grieving about it. Forgiving is a hard thing to do, its like allowing people to hurt you, like s...

Another Chapter

Image
Limbo, taken from here I feel like I wanna write so many things on blog lately since I had barely no where to shout. I had few close friends but they're still human with tons of problem and I had to put them first before me so our curhat session always ended up with me, listening and nurturing them with my wisdom craps. The thing is, I don't know what I feel now. I'm 'skipping' Hari Raya this year simply because I don't feel like I want to celebrate it. I feel like I'm not worth enough to jump into the crowd and mass euphoria. So I spend my hari raya by eating Indomie Soto Ayam and watching television alone while my father and the rest of my family celebrating it in another province.  I think I'm depressed. I know its so damn exaggerated but I think I am. I can't feel anything anymore. I'm not sad but I'm not happy, I don't feel like I'm in an excruciating life but I'm constantly feel like I need more sleep, I need mo...

Membaca Gejala

Image
Membaca gejala dari jelaga Kemarau sedang terik teriknya. Gersang dan hawa panas di siang hari disusul malam gigil yang menggeretakkan gigi kala menempuh perjalanan mencari sahur sudah menjadi hal biasa beberapa minggu belakangan. Ramadhan menemui puncaknya, tiga hari jelang lebaran. Saya paling jago soal ini: Menerka nerka. Sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk mengambil jeda dari pikuk rutin seharian dan tepekur, memikirkan soal apa saja yang telah terjadi dan apa yang terlewat untuk dilakukan. Semata agar besok saya tidak mengulangi hal hal yang tidak selayaknya diulangi, meminimalisir perasaan sesal, atau memenuhi janji yang terlewat di hari itu lalu introspeksi. Sisanya membaca gejala, menerka nerka soal apa yang ingin semesta beritahukan pada saya saat hal hal tidak biasa terjadi. Kehilangan kunci motor, air kamar mandi yang luber hingga dua hari, komputer yang lupa dimatikan, dompet tertinggal hingga kematian mama.  Gejala gejala tidak biasa yang s...

When We Connect, We Connected

Image
Era modern adalah era yang serba cepat. Mulai dari industri, pemungutan suara hingga makanan makanan siap saji. Akibatnya perspeksi terhadap waktu turut mengalami perubahan. Betapa 24 jam era sekarang sudah tidak terasa selama dulu, kala internet, peranti smartphone dan televisi yang menawarkan ratusan channel belum ditemukan. Saya lahir dan menjadi remaja tanpa internet, kala itu 24 jam sama dengan berjam jam bermain petak umpet dan berpuluh puluh buku komik. Tak heran jika saya kecil selalu merasa keberhasilan berpuasa sehari penuh adalah sesuatu yang wajib dirayakan dengan rengekan rengekan baju baru di hari raya. Kini saya selalu bersinggungan dengan internet dan peranti komunikasi. Kebutuhannya menjadi semakin besar sebab kini saya bekerja di televisi. Saya tak segan 'menagih' informasi dari orang lain melalui kedua media itu kapanpun di manapun. Pun sebaliknya, rekan kerja, klien dan siapapun menjadi berhak untuk menuntut informasi tersebut melalui kanal telepon, sms...

Damn, I'm Good

Image
Kegiatan bongkar membongkar kumpulan data tahun 2010 untuk kawan yang akan bertandang ke Sampit berujung pada sekardus penuh coretan tangan maupun print out puisi-sajak-cerpen era 2005-2010. Data yang dicari baru ketemu sebagian, saya yang perhatiannya gampang sekali teralihkan itupun sibuk membaca ulang, menertawakan cerpen cerpen yang ditulis saat SMP (salah satunya berjudul F4 Nyasar) lalu terkagum kagum dengan tidak kurang 214 lembar print out puisi-sajak yang semuanya ditulis di tahun 2010. Saat itu saya sign out dari koran di bulan agustus dan menjadi pengangguran hingga akhir 2011. Satu satunya sumber penghasilan adalah siaran radio yang jumlahnya tidak lebih dari 300 ribu per bulan. hahaha. Dalam kondisi demikian, indra perasa saya menjadi sangat sensitif terutama untuk perkara kemiskinan. Semua hal menjadi tidak benar, semua hal menjadi tidak sesuai. Dalam kondisi serba tidak nyaman itulah puisi puisi satir muncul dan hingga saat ini, saya sangat menaruh respek pada ...