Posts

Showing posts from December, 2010

Resolusi 19

Yep, dua hari lagi taun baru. Saya tengah mencatat catat apa saja yang sudah terjadi di taun 2010 ini. Dan ternyata, my 2010 turn well ^^ According into this post , saya memaparkan apa yang menjadi resolusi saya di 2010. Saya Ingin Lebih Baik Lagi Dalam Pekerjaan Saya. Resolusi tersebut di tulis saat saya masih bekerja sebagai wartawan. Dan ternyata, saya berhenti di bulan Juli ^^. lantas apakah resolusi saya tak tercapai? Well, standar lebih baik itu ternyata tercapai. Saya berhenti, menjadi penyiar tetap di radio kemudian tergabung sebagai kru event dan sebagainya. Dan ya, saya merasa lebih baik di titik ini. Siapa bilang saya resign dari kora justru mematikan kreativitas saya hah? :D itu kejadian satu, saya resign. kemudian, di bulan2 september-an, saya menggarap tulisan dengan judul Malam Teror Malam. semacam mini novel dengan kisah tentang komunisme. Haha, ini sebenarnya proye iseng saja, tapi pas dibicarakan sama seorang kawan dibandung, saya dapet respon positif. ...
Image
PT Meranti Mustika Plywood Sebuah Kisah Tentang Kejayaan Perusahaan Kayu Oleh: Rusnani Anwar, Sampit Meranti Mustika berlokasi di Tanjung Katung (yang sekarang lebih dikenal dengan nama Tanjung Mas), Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur. Lokasinya hanya 15 kilometer perjalanan darat dan l0 menit perjalanan sungai dari kota penulis, Sampit. Awalnya, di tahun 1975, Tanjung Katung terkenal sebagai tempat sawmill (pembelahan kayu), lantas pada tahun 1982, PT Meranti Mustika Plywood (MMP) resmi dibuka dengan Njoto Soenarto menjabat sebagai direktur utama perusahaan kayu yang memiiliki Hak Pengelolaan Hutan (HPH) seluas 46.879 hektar ini. PT MMP mengalami puncak kejayaan di tahun 80-an akhir hingga 90-an awal. Terdapat dua periode kepemimpinan atas perusahaan ini. PT Meranti Mustika Plywood pada periode 1982-1995, dan PT Industri Kayu Meranti Mustika (IKMM) pada tahun 1995-2003. Luas tanah milik perusahaan ini adalah 104 hektar, membentang sepanjang 5 kilometer Tanjung ...

Tentang Menikah dan Keharusan Kuliah

Image
Baru pulang nyari makan. Nemu mie goreng enak di warung tenda taman kota. Hm.. Sudah lama, sejak awal bulan April lalu, aku mempertimbangkan buat kuliah. Universitas lokal saja lah, jangan yang jauh dan makan biaya. Sekedar demi selembar kertas bernama ijazah. Status. Titel. Kredibilitas yang konon katanya bisa dibuktikan melalui selembar kertas bertuliskan SARJANA. Aku muak dengan sistem pendidikan, sebenarnya. Aku muak belajar dengan pola seperti itu. dengan mudahnya mengkotak kotakkan manusia berdasar angka. 4 = Genius 3 = Pinter 2 = Bolehlah 1 = Siapa sih bapaknya, bego banget Semua sistem di mana orang harus menelan disiplin ilmu yang tidak disukai demi meraih nilai. Demi sebuah titel. Honestly, aku iri. Iri dengan kawan-kawan seangkatan yang sudah mulai menata masa depan. Ada yang jadi dokter, akuntan, bidan, guru, banyak profesi kerja. Mereka mempersiapkannya dengan matang. Dengan kuliah. Juga iri dengan teman-teman yang mantap menjawab : "IPB bogor, Unibraw malang," k...

Resolusi 18

Image
Sebenarnya saya tidak terbiasa merayakan ulang tahun. Dulu misalnya, saat tujuhbelas, saya hanya melewati malam di kos teman, numpang nginep sambil nonton Saw 3, minum coca cola dan menulis sampai pagi. Saya masih menyimpan resolusi tujuh belas saya. dan dalam perjalanannya beberapa tidak terpenuhi. Saya masih ingat pas ulang tahun ke tujuh belas dulu, saya menulis : Saya hanya akan bekerja jika pekerjaan itu mampu bersinergi dengan ideologi saya (saya tau ini terdengar sangat sangat super sombong) Well, saya rasa ini salah satu dari resolusi ulang tahun yang mampu saya penuhi. Ideologi saya sebenarnya tidak muluk, saya hanya ingin pekerjaan yang tidak terpaku hanya pada satu space. Tidak hanya diam, menunggu tanggal gajian lalu berulang sampai tahun berlalu tanpa terasa lantas saya jadi tua dan kalang kabut nyari jodoh :D. saya waktu tujuhbelas itu pengen jadi penulis. Jadi sastrawan. Jadi seseorang yang dapet duit dari sesuatu yang disenangi. Dan saya sangat senang menulis. Sa...

Kematian

Image
Entah angin apa, sy sedang banyak bertanya tentang kematian, akhir akhir ini. Ditambah satu-dua kabar kematian -entah dari jauh maupun dekat- yang datang, rasa rasanya tidak berlebihan jika kemudian tertuang dalam tulisan (halah gw ngemeng apeeee) Ini dia yang saya tulis dalam chapter terakhir dalam naskah proyek tulisan saya akhir2 ini: Wenggini menghambur berlari menuju Sloan, tak pernah ia berlari sekuat itu dalam hidupnya. Pria itu kini tampak kurus, pipinya tirus dengan rambut acak acakkan. Gelayut lelah menghitam di bawah matanya yang tertutup kacamata. “Wengi?” bola mata Sloan membesar kala melihat perempuan yang namanya selalu ia bisikkan sepanjang waktu itu. Kini keduanya berhadapan, saling menatap. Keduanya mengejar 23 tahun yang terlewat. Wenggini kembali menjadi gadis 19 tahun yang lugu dan Sloan kembali menjadi pria 30 tahun yang gagah, berbalut jas dan dasi serta kacamata berbingkai emas. Sloan mendekap Wenggini sangat erat sambil menggumamkan nama perempuan itu berul...

Distraksi

Selama ini, saya cuma ketawa saat maen ke blog2 kawan. Rata rata mengaku teralihkan atensinya oleh jejaring sosial bernama Twitter. Dan sekarang, saya yang mengalaminya (menertawakan diri sendiri). Twitter ternyata sangat menggoda, kawan! (pengakuan seorang blogger yang udah setaun punya akun twitter tapi baru ngeh cara gunainnya) Oke, kabar baru dari saya : Tanggal lima desember lalu, kakak Menikah. Terus tetangga depan rumah meninggal sehari sebelum resepsi. Ini ironi, kawan.. Well, seperti yang saya bilang, tidak banyak yang ingin saya sampaikan, yang pasti.. Selamat Twitteran Lagi!!!

Fuzzy Friday

Image
Bayangkan, dalam satu rumah ukuran kecil, diisi 17 orang yang hidup bersama. Serius, ini keadaan rumah saya sekarang. Keluarga abah datang dari Jaro, Kalimantan Selatan, 12 orang. Keadaan penuh sesak. Malam ini saya rencananya mau nyari penginapan. T_T can u imagine that? nyari penginapan di kota sendiri? haha, tapi tak apalah, sepuluh tahun sekali ini. Kakak saya akan menikah hari minggu ini, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 26. Kakak selalu bilang beliau lega, akhirnya melepas lajang di usia yang relatif tidak terlampau tua. Orang tua, sanak saudara juga lega, kemungkinan punya anak perawan tua di keluarga berkurang. Saya mungkin masih belum cukup tua untuk mengerti mengapa orang orang tua yang notabene masih teguh pegang adat seperti orangtua saya, begitu paranoid dengan label 'punya anak perawan tua'. Apakah mungkin lantaran stigmasi sosial yang terbentuk kemudian? atau sang orang tua khawatir anak perempuannya yang belum juga menikah akan mengundang ghibah? (buset,...

Menghajar Minggu!

Image
Selamat sore ^^, saya kelar maraton talkshow beberapa hari di minggu ini. Desember juga bakal di isi dengan beberapa garapan acara dari event organizer yang saya ikuti. Sounds like a busy month. Saya kembali sibuk dengan beberapa draft tulisan. Senja Merah akhirnya selesai, total 55 halaman. Kategorinya fiksi, semi novel kali ya. Ntar mau dikirim ke publisher di bandung, milik kawan. Semoga layak terbit, hehehe. Dua bulan yang benar benar menguras kepala. Hahahaha, baru kali ini saya baca buku paket sejarah SMA dan beberapa buku lain demi sebuah karya fiksi. Ntar mau dikelarin lagi. eh, saya juga nemu foto pas siaran di komputer radio.  Dan jangan bilang foto ini yang bakal dijadiin pamflet program T_T lesson of today: "Setiap ghibah yang orang lain berikan padamu, akan memotong pahala 70 sholat fardhu si pelaku ghibah." Jadi guys, banyak banyakin ngomong hal jelek tentang saya doonggg :P

Di Manakah Tuhan Saya?

Image
Pertanyaan itu terlintas di kepala saya sejak kelas enam SD. Usia bertambah, orang tua saya masih berfikiran kaku tentang tuhan dan dogma dogma agama. Tidak hanya agama, saya mulai mempertanyakan takhayul dan pamali pamali yang dipercayai lantaran merasa takut. Ibu saya selalu bilang di kebun pisang ada hantu. Sayapun mempertanyakan dan ingin tahu apa benar ucapan ibu saya itu. Untuk mencari jawaban atas rasa ingin tahu, saya harus membebaskan diri saya dari rasa takut. Malam itu saya berkemah di kebun pisang dan saya sakit kuning selama tiga hari. Istilah banjarnya : kepidaraan. Tapi setidaknya saya tau, itu harga untuk jawaban rasa ingin tahu saya. Orangtua saya bukanlah tipe orangtua yang memukul anaknya kala tak sholat. Meski ayah saya ikut lembaga masjid dan menjadi pengurus surau, beliau selalu bilang bahwa saya akan tiba pada titik pencarian tuhan. Kala itu, ayah saya hanya bilang : Yakini dengan hati Saya masih gemar bertanya tanya hingga bangku SMP, SMA, hingga lulus. SMA kela...