Posts

Showing posts from December, 2011

Resolusi 20

Image
taken from here Kali ini saya tidak memikirkan resolusi spesifik-lenjeh-dramatik seperti biasanya. Baik untuk tahun baru dan ulang tahun ke 20, sepuluh hari lagi. Bukan menjadi pesimis atas kemungkingan tidak terwujudnya resolusi itu, tapi lebih kepada saya sudah sangat cukup puas dengan apa yang saya punya sekarang.  Tapi tentu saja, pada dasarnya saya adalah Nani yang selalu berpengharapan sangat tinggi. Dan semoga berkekuatan cukup untuk mengejar harapan itu lebih giat lagi. Menghadapi usia 20, menuju kepala dua, menjadi ketakutan tersendiri buat saya. Saya yang belum mampu merendahkan suara dan tidak terlalu bersemangat saat menguntai cerita, belum mampu mengimbangi percakapan orang orang sekitar saya, belum menjadi apa apa... Sisi baiknya, saya berusia 20 tahun dan sekarang sudah di Jakarta. Memiliki pekerjaan yang (sepertinya) bisa menghidupi saya. Terlepas dari kausal terakhir, hey, saya di Jakarta! imajinasi terjauh sudah direngkuh, saya tidak punya banyak alas...

Politik

Ayahku tahanan politik. Usianya 39 tahun kala namanya muncul di media nasional. Di ulang tahunnya yang ke 40, ayahku dihukum mati. Kalimat terakhirnya yang kurekam adalah "Aku mati bukan karena politik, aku hanya kurang restu"  Ibu merupakan orang yang paling terpukul atas kematian ayah. Ia mengutuk politik yang telah menjadikannya janda. Politik adalah hal terbusuk yang pernah ada, ia menggerogoti setiap jiwa lalu membunuhnya dengan semena mena. Di mata ibu, politik berwujud serupa monster, mungkin zombie. Sebab zombie membunuh, memakan dan menggerogoti. Aku beranjak dewasa, keingintahuanku atas politik semakin besar. Bukan sebagai tataran zombie versi ibu, bukan pula dalam konteks pembunuh ayah. Aku ingin tahu mengapa poliyik begitu membius, hingga seorang pria tinggi besar dan berpendirian kuat seperti ayahku, terhasut. Di suatu senja, ibu berteriak senyaringnya "Jangan sakiti ibumu seperti ini. Cukup ayah yang dibawa pergi." tangisnya membanjir. Tapi aku tet...

Mereka Tidak Lagi Membaca Koran

"Kulihat di koran, orang orang saling membunuh" ujarnya, suatu pagi saat sepucuk koran kupungut dari halaman depan selepas dilempar dengan penuh emosi oleh pengantar koran yang sepertinya hari ini lagi lagi anaknya terancam tak makan. "Oh ya?" kubalas dengan tatapan biasa seperti biasa seperti pagi pagi biasa yang kami lewati dengan biasa di teras biasa tempat kami berbincang biasa sebelum akhirnya kami memutuskan untuk berkemas dan berangkat bekerja. Seperti biasa. Ia menepis tangannya sendiri, merebut koran dari genggamanku. Dibentangnya halaman pertama, aku berdesis, jijik. Dari dalam koran keluar darah, menetes netes merah kehitaman. Darah terus mengalir hingga menggenang di ubin teras kami yang berwarna abu abu. "Apa ini?!" Pekikku nyaring saat tangannya terus membolak balik halaman koran yang sempat kukepit itu. Darahnya terus mengalir, warnanya kian pekat, teras kami banjir darah. Aku menjerit naik ke atas kursi. Kupukul pukul lengannya yang dudu...

Perpindahan

Saya tidak pernah benar benar mengerti tentang konsep transformasi. Apa yang sesungguhnya telah berubah, atau diubah, atau setidaknya, yang dicoba untuk dirubah. Saya juga kesulitan memahami apakah saya benar benar telah mengalami fase perubahan. Setidaknya dangan banyak sekali resolusi dan harapan harapan untuk berubah, saya -seharusnya- sudah menjadi sesuatu yang lain. Tidak sepenuhnya menjadi asing. Tapi.. berubah .      Tapi jauh di dalam sana, saya merasa sama. Saya tetap menjadi individu yang tidak suka menjadi disukai. Menjadi orang yang tidak pandai berbicara. Saya tetap saya, hanya dalam wujud -ah ga juga, saya tetap sama seperti dulu. secara harfiah maupun analogi- dan sedikit gaya bicara.      Yang berubah hanyalah titik. Layaknya hukum fisika yang merangkum tentang teori teori perpindahan, maka saya mengalami itu. Saya berpindah. Dari titik A ke titik B.  Sesederhana itu.

Resensi Film: 3 Hati dua dunia, satu cinta

Image
taken from here “Dia cakep banget Cid, anaknya sopan lagi. Umi demen, tapi lu harus tau, dia beda sama kita…” Perbedaan menjadi tema besar dalam film garapan Benni Setiawan (Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku) berjudul 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta ini. Seakan menegaskan tema tersebut, film ini merangkum begitu banyak perbedaan sepanjang 98 menit. Mulai dari status sosial, agama, suku, hingga kesenjangan pendidikan membuat Rosid (Reza Rahardian) dan Delia (Laura Basuki) harus berjuang sekuatnya untuk memenangi hati orangtua masing masing. Mampukah? Meski memiliki tema yang cukup sensitif, film ini disajikan dengan ringan. Hadirnya lelucon segar yang disampaikan oleh beberapa cameo menggiring penonton untuk tidak mengerutkan kening untuk memahami drama yang dibangun. Sosok Abah dalam film ini akan mencuri banyak perhatian. Karakter yang begitu polos sekaligus tegas (walau pada akhirnya, luluh juga) berhasil mengingatkan penonton pada perjuangan seorang ayah untuk memast...

Moving

Saya akan pindah ke Jakarta. Bekerja sebagai publicist di sebuah production house. Yea, surprise! Sabtu siang saya tiba di Jakarta, bertemu dengan orang orang baik yang membuat saya batal berburuk sangka tentang ibukota. Kawan kawan lama yang hanya saya kenal di dunia maya. Saya yakin setiap makhluk hidup memiliki instingnya sendiri. Saya, berpendapat bahwa walaupun mereka belum pernah saya temui dalam absensi fisik, mereka orang orang baik. Dan selama di Jakarta, saya menemui simpulan bahwa pertemanan bukanlah soal intensitas hadir dan berbicara :D Eniwei, Minggu sore saya bertemu dengan pemilik production house dan kami berbicara banyak. Long story short, saya diterima dan mulai bekerja Senin depan. Di Jakarta. Hidup di Jakarta sudah masuk dalam bucket list saya sejak beberapa tahun lalu. Berbulan bulan belakangan saya semakin intens memikirkan probabilitas untuk hidup di Jakarta atau Bandung. Apapun, asal keluar dari kota kecil ini. Tidak ada yang salah dengan Sampit, tempat y...

Kepala Sang Demonstran

Rumah sakit itu tiba tiba terkenal. Seorang dokternya berhasil menemukan cara untuk melihat isi pikiran manusia. Dokter itu hanya perlu memenggal kepala orang yang sudah mati (atau yang masih hidup pun tak apa, kalau dia memang benar benar ingin dilihat isi pikirannya). Dokter itu kemudian menjadi sangat terkenal. Banyak kasus pembunuhan berantai dan perampokkan yang memakan nyawa bisa diselesaikan berkat tampilan gambar dari kepala korban. Apa yang dilakukan si dokter sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Banyak dukun dan jejampi kampung yang bisa melakukan hal serupa. membaca isi kepala orang. Tapi si dokter menjadi fenomena. Tentu saja, lantaran gelar dokternya, dan betapa mudahnya teori si dokter dicerna logika. Di negara itu, orang orang menjadi sangat paranoid dan ketakutan hingga tak mudah percaya pada apapun yang tak berbukti nyata. Ketenaran si dokter dengan cepat menyebar kemana mana. Si dokter kemudian dipekerjakan oleh negara untuk membantu polisi. Si dokter a...

Popor

Aku lupa, mungkin September tanggal tiga. Saat puluhan berseragam menyesak di ruang tamu tanpa melepas sepatu.  Menjamah sepenjuru rumah tanpa, menyeret orangtuaku dari kelambu. Itu tengah malam. Hari sabtu. Popor pertama menyentak tengkukku. Ngilu. Mereka berteriak soal aku dan konspirasi untuk menjatuhkan negara. Negara palsu. Popor kedua menghujam perut ayahku. Kali ini teriakan mereka pertanyakan keterlibatan ayahku dalam Kelompok Petani Berontak. Jawaban ayahku tidak menuai paham. Ibuku menjerit, seseorang menumbangkan tubuh ringkihnya. Kepala wanita itu diinjak sepatu sepatu lars hingga darah mengucur dari telinga. Popor ketiga menghantam pelipis kananku. Pandanganku buram, yang terlihat hanya samar wajah ayahku yang kesakitan saat bayonet mengiris kupingnya. “Kami bukan pemberontak. Kami keluarga petani..,” Kian pelan suara ayah. Daun telinganya berlumur darah. Selanjutnya tiada popor. Api menjilat ruang tamu. Aku tidak mengingat apa apa saat popor se...