Posts

Showing posts with the label Resolusi resolusi

December OCD Project - The Beginning

Image
Saya memulai perjalanan diet dietan ini sejak lama banget sebenarnya. Saya ingat satu fase di mana saya menolak makan apapun kecuali apel dan turun hingga delapan kilo di 2013 silam. Lalu berhenti, lalu menggebu lagi di beberapa bulan lalu lalu berhenti. Diet yoyo ini saya coba gali apa masalahnya, kenapa sebegitu susah buat saya untuk memulai sesuatu yang baik untuk diri saya sendiri. 1. Motivasi Alasan untuk menjadi kurus harus cukup kuat dan tidak fluktuatif. Karenanya jangan memulai diet jika tujuannya hanya untuk menarik perhatian orang yang disuka misalnya. Saat orang tersebut tidak menyukaimu lagi, apa alasan untuk tidak memulai emotional eating (lagi?)  oke ini curhat. 2. Metode diet Fuck you Karl. Oh you named it, I've tried them all. Katering sehat yang isinya melulu nasi merah dengan porsi anak ayam itu? Sudah. Diet mayo? sudah. Program 13 hari, OCD, food combining sampai belasan merk pil pelangsing sudah saya coba. Hasilnya? teteup, yoyo. Hari ini d...

Bucket List, Revised

Image
Saya adalah pendoa yang lantang. Saya tuliskan banyak sekali harapan di blog ini untuk alasan saya ingin didengar. Ia mungkin menjadi satu dari sekian banyak medium untuk berkomunikasi. Karenanya dari tahun ke tahun saya punya kebiasaan menuliskan resolusi dan pengharapan melalui momentum tahun baru sekaligus ulang tahun. Ada keinginan keinginan yang begitu subtil nan kerdil yang saya tuliskan untuk kemudian diharapkan dapat terwujud. Somehow. Saya bukan pembaca gejala yang baik, ada banyak kejadian yang tidak saya duga terjadi meski saya merasa sudah sepenuh upaya membaca semesta. Untuk tidak ignoran dan menakar nakar kemungkinan dari segi logika. Toh kecolongan juga, untuk menegaskan bahwa saya selaku manusia memang selemah itu. Salah satu yang rutin saya update adalah Bucket List. Terinspirasi dari film lawas dengan judul serupa, saya menuliskan hal hal yang ingin saya lakukan sebelum mati di bulan Mei 2011. Setelah bucket list itu ditulis, apa yang terjadi di tahun selanj...

2015, Another Good Year

Desember adalah bulan melankoli (melan koli hehehe. okay). Bulan di mana banyak orang menulis kata kata perpisahan. Sementara Januari adalah bulan pengharapan, Desember seolah menjadi tumpuan semua kenangan.  Iya ya, kita memang setidakcocok itu. Desember menjadi bulan di mana buku buku menemui lembar terakhirnya. Bulan di mana satu per satu kenangan dipilah untuk dibawa ke tahun berikutnya dan diam diam diselipkan menjadi harapan. Ada yang lewat, ada yang singgah untuk sesaat, ada yang tergenggam lalu terlepas, ada upaya untuk menjadi ikhlas.  2015, indeed, is another good year for me. Enam tahun terakhir saya habiskan bulan Desember dalam kesibukan merancang dan mengerjakan event pisah sambut tahun perusahaan orang. Saya semacam menolak untuk merayakan perpindahan tahun dengan tidak larut dalam euforia itu dan justru memilih untuk bekerja. Seperti ada upaya rebel di sana, entah. Tahun ini, ajakan pemilik event organizer tempat saya iseng freelance selama ini s...

Jelang 2015

Layaknya ulang tahun, saya selalu bersemangat soal tahun baru. Tahun di mana hal hal bisa dilakukan dengan perasaan baru walopun sebenarnya bentukan saya ya begitu begitu saja. Saya percaya pada kekuatan doa, bahwa doa doa kecil yang dilempar dengan kesungguhan hati akan menemui titik wujudnya kelak. Banyak sekali doa doa kecil yang saya lontarkan melalui blog ini, dengan sejumput perasaan percaya bahwa ia akan terwujud kelak entah kapan. 2014 akan habis dalam hitungan jam, saya menulis ini melalui kubikal kecil di sore hari yang longgar selepas marathon deadline terkirim dan dipresentasikan. Saya selesai, untuk hari ini. Saya menulis resolusi 2014 di postingan ini . Keinginan saya polos sekali tahun itu: Resolusi 22: 1. KULIAH  2. LAPTOP DAN KENDARAAN BARU 3. JATUH CINTA 4. BEPERGIAN 5. LEBIH SABAR DAN BERKOMPROMI 6. NEW YORK Ini adalah tahun yang memalukan kerena tidak satupun dari resolusi tersebut terpenuhi hahaha. Namun entah mengapa saya merasa baik baik saja ...

Selamat Menjadi 22, Nani!

Image
Saya berulangtahun kemarin. Genap menjadi duapuluhdua tahun, tua yaaa hahahaha. Saya menelikung kebiasaan menulis resolusi (yang biasanya berlabel 'Resolusi 20, Resolusi 21 dst itu) dan menggunakan judul di atas. Tapi konten posting ini sama saja kok, ini adalah Resolusi 22 saya.  Setahun terakhir saya diizinkan untuk mengalami usia 21 yang luar biasa. Semuanya sudah saya tumpahkan dalam beberapa posting blog berbulan bulan belakangan sehingga tak perlulah ia menemui repetisi di tulisan kali ini. Intinya saya sangat senang pada 2013, pada usia 21 dengan segala keramaian dan kesunyiannya. Dengan jatuh dan patah cintanya ^^ Kali ini saya merayakan ulang tahun dengan membungkus rapi 22 kopi print out Perempuan Kopi dalam bungkus kado cantik berhiaskan pita. Nani memang perempuan sekali hihi. Semuanya menemui pemilik, baik dalam maupun luar kota, baik yang saya serahkan langsung maupun melalui berkloter kloter pengiriman via pos. Semuanya berisi keinginan untuk berbagi keriaa...

Makanya, Minta.

Minta, kamu bakal dikasih. Ini kata temen saya yang jago filsafat. Iya, terlepas dari konteks kanon sekalipun,  meminta  adalah kata kerja yang termasuk dalam kategori berkomunikasi. Kita manusia ini tidak pandai membaca gelagat pikiran orang -walaupun sebagian ada yang mengaku bisa membaca isi kepala orang melalui gesture dan pembacaan sikap- sehingga komunikasi menjadi kebutuhan penting. Mediumnya banyak, melalui tulisan, orasi, ceramah, lukisan, kode morse, apapun. Intinya adalah bagaimana menyampaikan isi kepada kepada manusia lain. Formatnya ada dalam banyak kata kerja. Menggugat, mengiba, memarahi, mencintai, atau ini, meminta. Objeknya bisa apa saja, barang atau jasa. Namun yang ingin saya tulis kali ini adalah wujud komunikasi interhuman bernama 'harapan'. Komunikasi interhuman? istilah ini tidak ada di rujukan manapun soalnya saya ngarang hahaha. Gimana manusia berkomunikasi dengan dirinya sendiri gitulah. Tuhan ada di kedalaman akal, kata kawan saya yang...

Langgam Maya

Image
Sudah keburu 2013 untuk mengkritisi soal bagaimana internet sudah mengubah generasi sekarang dan bagaimana generasi sebelumnya memaknai perubahan tersebut melalui hashtag #generasi90 yang disebarkan melalu internet jua. Saya sendiri tidak tau berada di generasi mana. Terlalu tua untuk menjadi generasi maya dan terusir dari generasi 90 tadi. Yang pasti, internet telah menjadi bagian dari sekurangnya 24 jam perputaran hidup. Informasi yang sedemikian mudahnya diakses membuat saya menjadi pelupa. Soal mana yang lebih penting dan apa yang sebelumnya saya pikirkan hingga berakhir pada situs situs absurd atau lepas ratusan gambar di 9gag. Sekarang bulan puasa dan saya bekerja di media. Kesibukan justru menemui puncaknya, setiap hari berkutat soal acara acara yang mengkhutbahkan diri sebagai spesial ramadhan namun toh ujung ujungnya profit dan share penonton. Keluh? saya rasa bukan, sejak dulu saya memang seorang yang pahit dan saya sadar betul soal itu. Karenanya tidak banyak yang bisa ...

Kemungkinan Itu Bernama New York

Image
Taken from here Pergi dan berkehidupan di New York adalah keinginan terbesar dari sekian keinginan keinginan besar yang saya punya. Untuk menjadi newyorker, untuk berjalan di pagi hari lalu membeli roti untuk sarapan, atau duduk di bangku taman di suatu musim semi. Menjalankan hidup, dan menjadi hidup. Walau hingga sekarang saya belum tau apa definisi hidup itu sendiri. Sejak saya paham bahwa tidak ada yang salah dari bermimpi (yang mengada ada sekalipun), keinginan itu masih sama besarnya. Masih menjadi alasan untuk bergumam gumam dalam bahasa inggris di kamar mandi. Alasan, untuk terus mengayuh ingin dan usaha untuk bisa ke sana. Entah bagaimana. Lalu pagi ini saya bangun tidur dengan beberapa kemungkinan untuk bisa sampai ke New York; Scholarship Ini adalah alasan mengapa saya belajar sedemikian kerasnya hingga lolos masuk ke SMA terfavorit kala itu. Penyebab kantuk bermalam malam untuk menghapal tensis dan verb agak kelak ketika saya melanjutkan ke perguruan tinggi j...

Resolusi 21

Tahun lalu saat menggenapi usia menjadi kepala dua, saya tidak banyak berprasangka soal seperti apa hidup akan menjadi setelahnya. Setahun lalu saya berada di pencapaian tertinggi karenanya tanpa banyak watir dan keluh, saya senyam senyum saja melewati usia 20 dengan optimisme yang tingginya melebihi kepala saya. Maka 10 Januari kali ini menjadi titik balik. Ketika semua rencana sudah tersusun matang tanpa cela, saya dengan kesadaran penuh memutar balik, merevisi dan mencentang hal hal yang sudah saya temui jawabannya untuk kemudian menjadi putusan untuk tidak meneruskan resolusi resolusi saya di tahun tahun silam. Soal resolusi resolusian ini kian menjadi sejak saya kehilangan wadah untuk berbicara soal ingin dan keluh. Selain menuliskannya di blog, tidak banyak yang mampu saya lakukan untuk menunaikan ibadah manusia modern; curhat sekaligus pamer. Jadi beginilah kira kira pencapaian saya di tahun silam; Keluar pulau dan tinggal di kota besar Bertemu dengan orang orang hebat ...

Bucket List, Revised

Image
Mei 2011 lalu, saya menulis ini , soal bucket list, rentetan keinginan sebelum menemui ajal. Sejak mengetahui bahwa kematian adalah hal yang pasti dan saya tidak bisa hidup selamanya meski sudah menenggak susu setiap pagi saat kanak kanak, saya menyusun satu per satu keinginan untuk kelak menjalani hidup. Beberapa di antaranya bersifat remeh, seperti makan mushroom cheeseburgernya Burger King sampai puas dan ngobrol panjang lebar dengan orang asing di transportasi publik. Maka kira kira begini runutan keinginan saya sampai dengan Mei 2011 tersebut; 1. Aku pengen nonton hujan di Jepang dan jalan kaki di malam hari di Manhattan. 2. Aku pengen ngebaca Wesanggini di kota tua Jakarta. 3. Belajar gitar, piano dan biola. 4. Ngobrol panjang lebar sama orang asing dalam pesawat. 5. Belajar renang. 6. Kiss a stranger. 7. Makan di Pizza Hut dan make fun with their waitress. 8. Nyanyi lagu Someone Like You-nya Adele di kawinan mantan. 9. Merayakan ulang tahu...

Resolusi 20

Image
taken from here Kali ini saya tidak memikirkan resolusi spesifik-lenjeh-dramatik seperti biasanya. Baik untuk tahun baru dan ulang tahun ke 20, sepuluh hari lagi. Bukan menjadi pesimis atas kemungkingan tidak terwujudnya resolusi itu, tapi lebih kepada saya sudah sangat cukup puas dengan apa yang saya punya sekarang.  Tapi tentu saja, pada dasarnya saya adalah Nani yang selalu berpengharapan sangat tinggi. Dan semoga berkekuatan cukup untuk mengejar harapan itu lebih giat lagi. Menghadapi usia 20, menuju kepala dua, menjadi ketakutan tersendiri buat saya. Saya yang belum mampu merendahkan suara dan tidak terlalu bersemangat saat menguntai cerita, belum mampu mengimbangi percakapan orang orang sekitar saya, belum menjadi apa apa... Sisi baiknya, saya berusia 20 tahun dan sekarang sudah di Jakarta. Memiliki pekerjaan yang (sepertinya) bisa menghidupi saya. Terlepas dari kausal terakhir, hey, saya di Jakarta! imajinasi terjauh sudah direngkuh, saya tidak punya banyak alas...

Resolusi 19

Yep, dua hari lagi taun baru. Saya tengah mencatat catat apa saja yang sudah terjadi di taun 2010 ini. Dan ternyata, my 2010 turn well ^^ According into this post , saya memaparkan apa yang menjadi resolusi saya di 2010. Saya Ingin Lebih Baik Lagi Dalam Pekerjaan Saya. Resolusi tersebut di tulis saat saya masih bekerja sebagai wartawan. Dan ternyata, saya berhenti di bulan Juli ^^. lantas apakah resolusi saya tak tercapai? Well, standar lebih baik itu ternyata tercapai. Saya berhenti, menjadi penyiar tetap di radio kemudian tergabung sebagai kru event dan sebagainya. Dan ya, saya merasa lebih baik di titik ini. Siapa bilang saya resign dari kora justru mematikan kreativitas saya hah? :D itu kejadian satu, saya resign. kemudian, di bulan2 september-an, saya menggarap tulisan dengan judul Malam Teror Malam. semacam mini novel dengan kisah tentang komunisme. Haha, ini sebenarnya proye iseng saja, tapi pas dibicarakan sama seorang kawan dibandung, saya dapet respon positif. ...

Resolusi 18

Image
Sebenarnya saya tidak terbiasa merayakan ulang tahun. Dulu misalnya, saat tujuhbelas, saya hanya melewati malam di kos teman, numpang nginep sambil nonton Saw 3, minum coca cola dan menulis sampai pagi. Saya masih menyimpan resolusi tujuh belas saya. dan dalam perjalanannya beberapa tidak terpenuhi. Saya masih ingat pas ulang tahun ke tujuh belas dulu, saya menulis : Saya hanya akan bekerja jika pekerjaan itu mampu bersinergi dengan ideologi saya (saya tau ini terdengar sangat sangat super sombong) Well, saya rasa ini salah satu dari resolusi ulang tahun yang mampu saya penuhi. Ideologi saya sebenarnya tidak muluk, saya hanya ingin pekerjaan yang tidak terpaku hanya pada satu space. Tidak hanya diam, menunggu tanggal gajian lalu berulang sampai tahun berlalu tanpa terasa lantas saya jadi tua dan kalang kabut nyari jodoh :D. saya waktu tujuhbelas itu pengen jadi penulis. Jadi sastrawan. Jadi seseorang yang dapet duit dari sesuatu yang disenangi. Dan saya sangat senang menulis. Sa...