Friday, April 17, 2026

Kabar Untuk Diri Sendiri: Sepuluh Tahun Dalam Satu Artikel

Laman blog ini sudah aku hapus sejak 2016. Namun ternyata akunnya nyangkut ke alamat email yang masih kugunakan hingga sekarang. Gara-gara mencari foto lawas, ndilalah masuk ke blog ini dan 300++ entry tulisan aku habiskan dalam separuh malam. 

Sejak usia 16 tahun aku menuliskan banyak hal di blog ini, hampir sepuluh tahun awal ditulis dalam keadaan miskin mentok, tapi somehow, bukan kemiskinan yang aku keluhkan, tapi sistem negara, isu sosial politik dan kesepian-kesepian khas remaja yang gak punya pacar.

Setelah menamatkan seluruh entry itu, aku jadi ingin "berbicara" kepada diriku sendiri melalui blog ini. Tentang apa saja yang terjadi sepuluh tahun terakhir sejak 2016, sejak usia 24 tahun.

2017 bulan Maret kamu pertama kalinya ke psikolog di Sampit. Rasanya asing sekali mengantri di Poli Kejiwaan RSUD tapi kamu tau that's the only way to fix yourself. Sepanjang 2016 kamu menangis tanpa sebab hampir setiap hari dan tidak bisa tidur tanpa bantuan obat. Kamu memikirkan kematian (dan beberapa kali, mencobanya) tanpa alasan kuat. Diagnosa saat itu adalah bipolar dan kamu dirujuk ke psikiater untuk mengentaskan masalah tidak bisa tidurmu. Hingga 2025 kamu sudah menghabiskan puluhan jika tidak ratusan visit psikolog-psikiater dan melewati segenap label mulai dari depresi klinis hingga unipolar disorder. Sekarang sudah setahun kamu tidak mengunjungi keduanya dan kamu menerima kalau you're simply an unhappy person, and learn to live with it.

2018 adalah tahun pertama kamu "merasa kaya" setelah miskin mentok meski sudah bekerja setengah mati sejak usia belasan. Pekerjaanmu di perusahaan kelapa sawit sangat baik dan kamu naik jabatan 4 kali dalam kurun 4 tahun, dengan gaji yang lebih dari cukup. Kamu akhirnya punya mobil, Honda Mobilio hitam yang di hari pertama keluar dari dealer kamu bawa ke kuburan Mama dan bilang it takes time, but you finally made it. Kamu merasa telah menggenapi janji di usia 17 kepada Mama saat kamu dipaksa segera bekerja dan gak usah mikir kuliah saat lulus SMA. Janji kalau kamu akan sukses (dengan takaran dangkal berupa punya rumah, mobil dan gaji 4 kali UMR). Kamu pulang dengan menangis, kesuksesan itu terasa banal karena Mama sudah nggak ada.

Di titik ini, kamu sudah mencentang semua whistlist remeh temeh yang ditulis karena kemiskinan menjadi makanan sehari-hari waktu itu. Beberapa di antaranya malah kamu tulis dengan satir dan sadar itu mustahil mengingat kondisimu saat itu --seperti punya mobil dan pergi ke Jepang--

Kamu sudah liburan ke luar negeri belasan kali, pergi ke Jakarta/Surabaya/Bali sebulan sekali untuk menginap di hotel bagus dan makan makanan yang sebelumnya hanya berupa konsep di dalam kepalamu. Kamu akhirnya tahu rasanya berbelanja di supermarket tanpa melihat label harga, dan membayar ratusan ribu hanya untuk sekali nongkrong di cafe. Tapi dalam setiap kegiatan dan pencapaian itu, kamu dihantui perasaan yes, I made it. But my mom died. 

Januari 2019 untuk pertama kalinya perasaan cintamu bersambut. Untuk pertama kalinya orang yang kamu taksir, naksir balik. Dalam sejarah percintaanmu yang selalu bertepuk sebelah tangan itu, atau hubungan yang kamu punya tapi berdasar dari disukai terlebih dulu -- lalu kamu berkompromi, untuk pertama kalinya kamu menghidupi lirik lagu kesukaanmu the greatest thing you'll ever learn is to love and be loved in return di usia 27 tahun. Kamu menyukai orang ini sejak pertama bertemu dengannya di Desember 2015, lalu bersambut 4 tahun setelahnya tanpa melalui fase apa-apa.

2019 juga menjadi tahun paling menyakitkan dalam hidupmu. Hubungan yang seharusnya kasual, yang dimulai dengan disclaimer this relationship could end anytime darinya, kamu anggap sebagai magnum opus percintaanmu. Tentu saja, kamu yang kecintaan sendiri membuat hubungan LDR itu berat sebelah dan hanya bertahan 5 bulan sampai akhirnya dia memutuskan buat ending the relationship.

Setelahnya, Juni hingga Oktober kamu membayar harga mahal karena kamu bertemu dengan orang yang salah dalam rangka mengindahkan patah hati, yang menyukaimu lebih dulu dan kamu berkompromi, tapi lalu menjadi beban dan merugikan substansial amount from your savings to support his business. Hingga sekarang hutangnya tidak dibayarkan dan perbuatan-perkataannya melukaimu lebih dari sekadar kehilangan uang. Kamu tidak yakin apakah kamu bisa recover dari hal itu.

2020 satu dunia mengalami pandemi dan pekerjaanmu di perusahaan kelapa sawit terasa semakin jauh dari values yang kamu pegang. Bahkan ketika pekerjaan itu memberikanmu kesempatan untuk mencecap perasaan "jadi orang kaya" menurut versimu, kamu tidak bisa mengalah pada nilai-nilai yang kamu pegang lebih jauh lagi. Oktober 2020, kamu resign dan menerima pekerjaan remote dengan 1/5 gaji yang kamu terima saat itu. Mobilio Hitam kamu jual, rumahmu dihuni Kakak dan anaknya, lalu tanggal 23 November 2020, tepat di tanggal ulang tahun Mama, kamu pindah ke Bali dan hidup dari gaji imut dan tabungan.

Desember 2020, kamu bertemu dengannya lagi dan tanpa belajar apapun dari kejadian sebelumnya, kamu jatuh cinta lagi kepadanya. Hingga Maret 2021 hatimu terasa penuh, jika dulu cintamu hanya terucap lewat telpon singkat pagi dan malam hari, kali ini kamu bisa mengekspresikannya langsung saat bertemu 1-2 kali setiap minggu. Kamu merasa api di dadamu menyala lebih terang, paling terang. Sayangnya, kali ini, cintamu tidak bersambut. Kamu harus menerima satu lagi cinta bertepuk sebelah tangan.

Hampir dua tahun kamu hidup dari gaji seadanya dan eating out your savings sampai akhirnya tabungan itu habis di 2022 akhir. Kamu sudah memutuskan untuk pulang ke Sampit tapi rejekimu berkata lain, kamu menemukan 2 pekerjaan remote tambahan yang bisa men-support kehidupan di Bali bahkan sedikit berlebih untuk menabung. Sejak itu kamu pindah dari kos-kosan petak ke rumah kontrakan, dan menjadikan pindah rumah sebagai bagian dari hobi. Saat itu kamu belum sadar kalau alasan besarmu untuk bersikukuh tetap tinggal di Bali adalah kamu diam-diam menyimpan harapan kalau kelak kamu akan bertemu lagi dengannya, dan mungkin saat itu cintamu akan bersambut.

2023 hingga 2024 berlalu dengan mundane. Tidak ada yang buruk dan semua berjalan baik-baik saja, pekerjaan lancar dan menyenangkan karena bos-bosnya selaras dengan values yang aku pegang, sesekali casual fuck dating dengan bule dari berbagai benua, di tahun 2024 bahkan bisa pindah kontrakan ke rumah 2 lantai dengan harga kontrak setengah harga rumah beli baru di Sampit yang hanya bertahan setahun karena ruang sebanyak itu terasa berlebihan untukku seorang. Oya, di tahun ini KPR rumahmu di Sampit sudah lunas dan kamu ambil KPR satu rumah lagi, dan kamu membeli mobil Brio Abu-Abu. Kamu kembali menghidupi definisi kaya menurut versimu. Di tahun ini juga kamu sudah melihat Aurora dan pergi ke negara paling mahal sedunia.

Desember 2024 Abah meninggal karena kanker mulut. Kabarnya kamu terima subuh hari saat kamu masih di Bali, kamu tidak sempat menemui beliau di akhir hidupnya. Kamu pulang seminggu untuk menghadiri tahlilan dan menyelesaikan segala sangkutan hutang beliau, lalu menjual rumah dan memberikan seluruh hasil penjualannya untuk Kakak dan Adikmu. Setelah total 13 tahun keluar dari rumah, menjalani hidup tanpa orang tua bukan hal baru buatmu, tapi menjadi yatim-piatu rasanya masih asing hingga sekarang.

Kematian Abah mengguncang sesuatu yang fundamental dalam dirimu, kamu belum bisa memberikan definisi yang mantep tapi output-nya adalah pertanyaan "Kamu mau apa sih, Nan?" Januari 2025 saat usiamu 33 (yes, Nan, kita setua itu sekarang) dan melaluinya dengan liburan ke Jepang, di sudut taman di Tokyo untuk pertama kalinya setelah kematian Abah, kamu menangis panjang dan mempertanyakan hal itu "Aku mau apa sih?" karena kamu akhirnya sadar 5 tahun terakhir adalah waktu yang terlalu panjang untuk menunggu pertemuan dengan seseorang yang dengan sadar memilih keluar dari hidupmu. Lima tahun adalah uang yang tidak sedikit untuk memaksakan diri tetap tinggal tanpa alasan di kota yang membuatmu semakin gendut.

Lalu, Juni 2025 kamu memutuskan untuk pulang, menempati rumah yang cicilan KPRnya masih terbentang 10 tahun ke depan. Kamu menutup chapter Bali dengan postlude menghapus eksistensi digitalmu sebagai simbolik kalau kamu sudah selesai dengan versi dirimu yang mengharapkan orang itu. Kamu deactivate akun twitter, blog dan website pribadi, kompasiana, hingga jika sebelumnya kalau kamu Googling namamu sendiri maka 2 halaman pertama adalah tautan relevan, kini kamu cuma bakal menemukan satu entry akun linkedIn, sisanya irrelevant.

Kamu yang berhenti menulis jurnal di blog dan website berdampak banyak kepada kemampuanmu menulis. Diksimu gak se-tweak dulu, pola kalimatmu nggak menarik, entry ini adalah buktinya. 

Sekarang April 2026, kamu sudah 34 tahun. Dibanding 10 tahun lalu, kamu lebih gendut dan jauh lebih kesepian. Sekarang karena pekerjaanmu full remote, kamu bisa menghabiskan 1-2 minggu tanpa keluar rumah, tanpa berinteraksi dengan siapapun. Semua teman-teman lamamu sudah pindah ke kota lain. Sesekali saat kesepian kamu akan mengingatnya dan hal-hal baik yang dilakukannya kepadamu, yang membuatmu jatuh cinta. Tapi kamu sudah menerima bahwa tidak ada yang bisa kamu lakukan dan kerinduan itu akan hilang dengan sendirinya, untuk muncul lagi sesekali. 

Ini bulan kelima kamu kembali mengalami gangguan tidur. Kamu nggak bisa tidur awal tanpa terbangun dengan mimpi buruk. Kamu hampir setiap hari terjaga hingga pukul 4-5 pagi, lalu tidur sampai siang. Kamu kuatir this will took a toll tapi merasa solusi yang tersedia hanya ke psikiater untuk diberikan obat tidur dan kamu gak yakin itu solusi terbaik.

Aku tidak bisa menyebut jika saat ini hidupmu lebih baik dibanding 10 tahun lalu. At least we still alive, and willing to. Semoga 10 tahun ke depan hidup semakin membahagiakan, ya, Nan. 

No comments:

Post a Comment