Posts

Showing posts from September, 2010

Kucing

Image
Ada apa antara kucing dan gadis manis seperti saya? (informasi yang SUNGGUH nggak penting). Sebelumnya kenalin dulu, ini emak saya : Foto di ambil ketika beliau berumur 18 tahun. Emak seumuran saya di foto itu. Dan konon, beliau adalah kembang kampung. Saya yakin, kampung emak isinya adalah jejaka buta :D piss, mak. Nah, emak merupakan penyayang binatang. Buktinya, beliau selalu mencurahkan kasih sayang berlebih kepadaku. (wait.. ini kalimat ngajak berantem). Saat ini, di rumah kami yang sempitnya monyet monyetan itu dijejali 14 ekor kucing. May I Repeat. 14 biji!!!!! Dan mereka makan nasi. Kira kira ini kalimat regular yang kerap emak katakan: (aku pulang siaran, menuju dapur) Emak : Kamu mau makan? Aku : Yep (buka rice cooker) Emak : Jangan! jangan makan dulu, nunggu nasinya masak Aku : Lah, ini apa? (menatap ke dalam rice cooker. nasi masih SETENGAHNYA) Emak : Pokoknya jangan, itu buat kucing. Dan setengah jam ke depan, aku mendengarkan orkestra keruyuk sambil menatap 14 biji kucing...

Orientasi

Bukan, posting kali ini bukan untuk mengklarifikasi orientasi seksual saya. Mereka tetap begitu, mengambang dan apa adanya (loh). Enggak! saya normal kok! masih suka lakilaki, terutama yang setampan Tom Cruise. Huahahaha. Orientasi kali ini adalah mengenai poros idup. Banyak yang berubah, belakangan ini. Terutama mengenai kemana hidupku berorentasi. Setahun lalu, lepas lulus SMA, poros hidupku berkblat pada bagaimana nyari duit sebanyak banyaknya. Dan memang, kerja keras never fail us, guys. Di umur 17 tahun aku bisa menghasilnya setidaknya dua juta rupiah sebulannya. Untuk anak lulusan SMA yang tidak punya pengalaman kerja (dan FYI, saya bukan model lebih lebih artis sinetron), duajuta sebulan adalah nilai fantastis. Syaratnya, tidak mudah kawan. Aku harus berani bekerja dari jam delapan pagi sampai delapan malam. Bahkan lebih. Duabelas jam sehari kuhabiskan untuk bekerja. Dan menjual jiwa pada setan (woh, opo iki). Enam bulan menjalani pola hidup yang mengerikan seperti itu, berhasil...

Ruang Imaji

Image
Kenalin, Mrs. Bleki. Dan yak, Mrs. Bleki adalah komputer tua ini. Mr. Bleki adalah sebutan buat motorku dulu. Yang sekarang sudah almarhum dan digantikan Tuan Putih. Mrs. Bleki sekarang janda. Kemarin dia curhat, katanya ga mau menikah lagi. Meskipun Tuan Putih lebih baru dan lebih gaul, Mrs. Bleki tetap setia. Sungguh kisah cinta yang luar biasa (elu bego, bego.). Pasalnya, meskipun Tuan Putih adalah motor yang bagus, baru, dan gaul, dia masih belum menemukan jati diri. Identitasnya masih menggantung pada duapuluhempat bulan kreditan (which is truly killing me monthly). Anda belum dewasa, Tuan Putih. Eniwei, aku harus membuat semacam koneksi antara judul dan isi postingan ini. Ruang imaji yang kumaksud adalah kamar hitam. Ide untuk mewarnai dinding kamar dengan warna hitam adalah keputusan yang salah, kawan. Pertama, kamarku tidak seluas lapangan bola. Dan warna hitam memiliki efek memperkecil ruangan. Saat ini, kamarku yang selalu berantakan itu telah bertransformasi menjadi semacam ...

Kembali Membongkar!

Kembali, menemukan tulisan tulisan lama. Dari sekian banyak sajak yang kutulis. Dua dibawah ini mungkin paling favorit. Keduanya kutulis dengan banyak melibatkan emosi. Sebuah Murka Ketidakberdayaan ini membuat kami pesimis. Ketidakmakmuran ini membuat kami apatis. Kemiskinan ini membuat kami atheis. Kami berdesak di antara jalan berdebu dan parit parit penuh kotoran. Kami merajut nyawa dengan membanting segalanya di jalanan. Kami tak lagi sekedar pemenuh peta Kalimantan. Kami bernyawa, bersuara, tapi senantiasa teredam. Wahai bapak bapak penjual tuhan. Kami tak tau bagaimana perasaan bapak waktu bilang sumpah demi Allah di gedung kenegaraan. Tapi kami orang orang desa sungguh takut bersumpah menggunakan nama tuhan. Kami takut jika mengingkarinya kami akan berubah menjadi orang utan. Kami tau ini terdengar klise, corny dan berlebih lebihan. Tapi seperti biasa kami berkata “padamu harapan kami sandarkan” Kami harap jawaban bapak ti...

Borneo Dangerous

Image
Sekitar awal bulan Agustus lalu saya menerima sepotong pesan singkat melalui handphone. Kurang lebih seorang kawan yang tinggal di Palangkaraya menginfokan mengenai pagelaran musik keras yang akan diadakan di Taman Kota Palangkaraya. Pagelaran ini merupakan panggung musik keras kedua di tahun ini. Sebelumnya semacam gig metal juga diselenggarakan (Dstorsi Maksimum) Saya gagal menyambangi keduanya lantaran kesibukan di Sampit (beh, sok sibuk). Nah, untuk yang terakhir, saya berhasil mendapatkan kompilasinya. Tanpa bayar pula (per CD dikatrol harga Rp 15.000). Huahahaha, itulah indahnya pertemanan, kawan. Album kompilasi sendiri merupakan semacam resume gig yang digelar 7 Agustus malam itu. Yah, seperti layaknya album yang di’sponsori’ rasa independensi yang kuat, maka albumnya sendiri jauh dari ranah komersil. Yang menarik dari kompilasi Borneo Underground adalah genre yang diusung. Untuk ranah Kalimantan Tengah, terutama Sampit, menemukan band yang dengan bangga mengaku metal cuku...

Apa Kabar Yahoo Mail?

Image
Judul di atas sama sekali tidak berhubungan dengan keraguan saya terhadap yahoo mail. Mungkin lebih tepatnya 'Apa kabar Yahoo Mail saya?' Tepat. Sudah tiga bulan lebih rasanya belum buka imel. rusnani.anwar@yahoo.com. Barusan nyoba buka. Ada ratusan imel masuk. 80 persen imel sampah. Sisanya, imel dari kawan kawan, bekas kantor dulu. Dan ada satu imel yang menarik. Sedikit mengingatkan kisah lama :D Tercatat masuk tanggal 9 April 2010. Rupanya dari public relation XL Balikpapan. Tentang media gathering. Hmm... Dear teman-teman media yang baik, Tak terasa sudah hampir 2 minggu berlalu dari pertemuan terakhir kita di samarinda-balikpapan, 30 dan 31 Maret lalu. Terima kasih kami haturkan untuk teman-teman yang sudah berpartisipasi di acara tersebut dan menjadi bagian dari kami di dua hari acara tersebut. Terima kasih juga untuk tulisan di media teman-teman tentang acara kami…keren abessss dehhhh… JJJ Acara ini sangat berkesan bagi kami. Dalam waktu 2 hari kami bi...

Fiksi

Image
kembali beres beres kamar, setelah sebelumnya menemukan naskah drama kancut (baca disindang) , kali ini nemu naskah mini novel yang udah keprint. Sekitar dua pertiga. Sepertiganya masih belum selesai. Heran, aku ini paling susah nulis sesuatu yang lebih dari tig lembar. Cepet bosenn. Naskah ini ditulis pas kelas 2 SMA. Umur masih 15 taun, abege abegenya, gila gilanya. Waktu itu, aku punya hobi menyakiti diri sendiri. Mulai ga makan, nindik kuping, sampai doyan nabrak nabrakin motor ke truk sampah. (oke, yang terakhir lebay). yang warna ungu, diketik oleh Aulia Mandasari , kawan seperjuangan hahaaha. Waktu itu masih belum punya komputer, Lia yang baik hati itupun rela menerjemahkan tulisan tanganku (yang sumpah jelek abis) ke dalam ketikan komputer. i love u dah, aw. Isinya, kurang lebih seperti hiperbolanya diariku. Believe me, itu mungkin termasuk salah satu dari karyaku yang paling makan emosi. Pas nulis endingnya (yang sampai saat ini masih berbentuk tulisan tangan), aku sampai nan...