Posts

Showing posts from March, 2012

Getting Old

Mungkin menggelikan jika seseorang melihat manusia yang baru menjadi 20 bercerita panjang mengenai perasaannya sebagai orang tua. Mungkin saya akan terlihat seperti anak umur 12 tahun yang sudah menyimpulkan betapa tidak adilnya dunia lantaran ibunya tidak mengizinkan pergi ke diskotik di Sabtu malam (sigh, kids these day). Attention whore yang menyebalkan. Tapi sejujurnya, saya merasa tua. Dari segi fisik, saya mengalami sakit punggung ketika mencuci terlalu banyak baju. Kehabisan nafas setelah berbelas menit membereskan kamar dan tulang tulang saya berkeretak setiap waktu. Oke, kesampingkan dulu dua  buntilan keras di bawah kulit di sekitar leher dan paha. Kesampingkan juga fakta bahwa saya malas berobat, atau tepatnya, enggan pergi ke dokter. Saya merasa tidak se-energetik dulu. Ditambah dengan tubuh yang kian jarang bergerak dan bertambah lebar dari waktu ke waktu.. Di satu sisi, saya merasa menua dari segi pikiran. Tua, bukan dewasa. Saya mulai memikirkan hal...

Cerpen: Luka

Tidak ada yang tau mengapa aku bernama Luka. Pun diriku sendiri, ibuku hidup tak cukup panjang untuk memberitau mengapa aku bernama Luka. Ayah? Sejak lahir aku tidak mengenal sosoknya. Hanya ada ibu dan bermalam malam shift kerjanya yang itupun tidak bertahan lama. Ia meninggal saat aku mulai bisa membaca. Semula kupikir tak ada salahnya bernama Luka. Seorang guruku mengeja namaku sebagai L-U-C-C-A, ia menyebut itu nama yang indah. Hingga tahun ketiga sekolah dasar aku bahagia sebab mempunyai nama Lucca yang indah artinya. Lalu kartu pelajar yang dibuat di tahun keempat harus melongok kembali akta kelahiranku. Seluruh kelas akhirnya tau bahwa aku bernama Luka. Dan mereka mulai menyampirkan kata ‘borok’, ‘koreng’, ‘bopeng’ di belakang namaku. Pengasuh panti asuhan sempat menambahkan nama marganya di belakang namaku. Ia kemudian diseret ke dalam sidang adat karena sembarangan memberi marga ke seorang asing yang tak jelas asalnya. Ditambah, kata Luka harus berada di depan marga yang kon...

Jeda

Akan terus di sana sampai kamu bilang iya.

Yang Sampai dan Tidak dalam Kebersampaian dan Ketidaksampaian

Image
Tadinya berniat untuk menulis sedikit review tentang pementasan teater Nabi Darurat Rasul Ad Hoc yang diglar di Gedung Kesenian Jakarta tadi malam. Tapi saya kehabisan kalimat untuk dituliskan. Tak berhasil pula menyaripatikan meski sudah sepanjang jalan pulang saya pikirkan. Jadi ya sudahlah, tinimbang saya berputar putar dalam bahasa sederhana yang nyaris tak memiliki makna, maka saya simpulkan bahwa pementasan teater yang naskahnya ditulis Emha Ainun Nadjib itu luar biasa. Mengapa? entahlah, ini kali pertama saya menonton pertunjukan seni dalam skala 'serius' (dalam artian tidak ada properti asal jadi dan pemain yang berulang kali keselimpet membaca naskah) sebagai yang pernah membaca tulisan2 cak nun dan dua tiga kali menghadiri kenduri cinta, saya terkagum dengan visualisasi dalam bentuk teater ini.  Sisanya, mungkin berupa senyum lebar saya yang susah pergi hingga menjelang pagi lantaran untuk pertama kalinya saya menonton Letto secara langsung. #EAAAA #GrupisMurtad p...

Kelahiran Tanpa Marka

Image
Hari ini saya menemukan setidaknya empat orang memposting “Selamat Ulang Tahun Ayah/Ibu” di twitter dan facebook. Saya langsung teringat pada ibu dan ayah. Keduanya tak memiliki tanggal lahir. Mereka tidak ingat atau memang tak tau kapan mereka dilahirkan.  Keluarga ayah adalah para pekerja yang hidup di desa, tak penting kapan bayi itu dilahirkan, yang penting tumbuh dan bisa berladang.  Sementara ibu, adalah anak sulung dari tujuh bersaudara. Nenek mungkin terlalu sibuk hingga tak sempat mengurus surat surat kelahiran, atau mengabadikan tanggal di sebuah kalender di masa lalu. Yang saya tau, ibu lahir di tahun 1968 dan ayah dua tahun lebih tua. Itupun hasil meraba saat ibu sudah menjelang 40an. Untuk kartu keluarga dan KTP, ibu dan ayah mengarang tanggal lahir mereka. Ibu di 23 Nopember dan ayah sekitar bulan Juli. Keduanya tak punya marka kelahiran. Tak punya tanggal untuk dirayakan. Sedari kecil kami ketiga anaknya tidak sekalipun berkesempatan merayakan ulang tahun ibu...

Blurry Blue

It been three month I invaded Jakarta. every night I spend half of hour to think and write down every sense that i've sensed  that day. Named Jurnal Jakarta, handwriting, lay next to my Frank Sinatra cassette. And every single night I wrote "I miss home" on the bottom of it. I do, its kinda lonely to live in a strange place, barely without friends or family so I rarely in touch with others. But the saddest part is, I have no place called home. I feel insecure, cold, and.. lonely :') maybe I have to re-think about this dream. Yes, I'm the one who refuse to stay at a small place named Sampit. Yes, I'm, the one who insist to share my dream with this monstrous city. But still, I hate this homeless thingy. The traffic, the poisonous air, the sun that bright too damn hot, the weather that impersonating old-just-had-men-o-pouse-lady, the language that sounds like anger in every words, it takes three month for me to hate Jakarta, yet I'm not entirely see this ci...