Posts

Showing posts from March, 2013

Kepala Polisi

"Pak, tolong saya dan keluarga saya Pak," Perempuan itu tersungkur tanpa banyak upaya. Kepala polisi nyalang, nampaknya sedari tadi ia terantuk antuk menahan kantuk. Sebab tak banyak yang ia lakukan belakangan ini. Kecuali sesekali berpidato dan memimpin upacara. Ia berdehem di sela kumis yang dicukur tipis. "Mau minta tolong apa, mbak?" Perempuan yang sedari tadi menunduk kini menatap lurus ke arah kepala polisi. Wajahnya lebam, biru keunguan menggelayut di mata kanan, sementara bekas sundutan -seperti rokok- di pipi kiri yang berakhir pada jahitan di sudut bibir yang nampak masih basah. Tangisnya luruh, perempuan itu tengah menjadi bulan bulanan lelaki yang memperistrinya. Kepala polisi berderak, seperti ingin batuk namun ditanggalkan. Sementara tangin perempuan itu kian deras hingga menggenangi sebagian teras kantor polisi. Ia tengah memikirkan jawaban paling memuaskan untuk perempuan itu. Dirinya menginginkan peradilan yang tertegak tinggi, apalagi jika...

Review : Zine Sampit Bernama Late For School

Image
Jadi begini, saya sesungguhnya berniat buat kalem dan mereview zine ini seanggun mungkin. Namun maafkanlah, saya jejeritan -tertahan- dari dalam kubikal tempat segala kemuliaan internet berasal berkat 7 halaman zine ini. Late For School saya terima tadi malam, edisi kedua. Terkutuklah yang membuat saya tak lagi mampu mendeteksi perkembangan perindiean Sampit. Terlepas dari itu, zine ini mengingatkan saya pada dua zine favorit saya saat ini; Apokalips dan Paperzine. Edisi Pertama Late For School Apalagi kalau bukan rentetan kalimat anti-kapitalis, profil Homicide dan gaya bahasa Late For School yang mengingatkan saya pada dua zine di atas. Meski baru dua edisi, senang rasanya bisa membaca tulisan tulisan seperti ini dengan lingkup bahasan yang lebih lokal. Seperti kondisi jalanan Bagendang, misalnya. Atau sekutip dua kutip kalimat berbahasa Sampit serta review musik mereka yang cukup menarik. Zine ini layak mendapat wadah dan kesempatan untuk diterbitkan secara fisik. Follo...

Euforia Atas Apa?

Setelah Hari Perempuan Sedunia mencapai titik nisbi di mana manusia kelas intelektualis secara masif menyebutnya sebagai sexism, saya kehilangan semangat untuk menuliskan satu dua paragraf kalimat di blog ini. Kalimat kalimat pemberi kabar meski tak satupun audiens peduli soal itu. Sosial media ini memang ajaib. Setiap pengguna diajak tenggelam dalam ranah surealis soal segala hal tentang saya adalah penting dan harus dibagikan kepada orang lain lalu pengunjung maya menjadi layaknya penghuni bangsal penyakit jiwa. Tertawa, menangis dan beremosi atas benda mati. Ini akan menjadi posting blog yang merembet ke hal hal yang awam saya ketahui namun setengah mati dipoles dengan gaya bahasa biar terlihat keren. Intinya saya hanya ingin berkabar. Jika bukan pada audiens hidup maka sekurangnya kepada benda mati agar saya dapat menghirup candu berusia ribuan tahun bernama "ilusi didengarkan" Saya tengah dalam euforia. Perayaan atas terwujudnya satu-dua ingin, atas status sosial yang...