Kepala Polisi
"Pak, tolong saya dan keluarga saya Pak," Perempuan itu tersungkur tanpa banyak upaya. Kepala polisi nyalang, nampaknya sedari tadi ia terantuk antuk menahan kantuk. Sebab tak banyak yang ia lakukan belakangan ini. Kecuali sesekali berpidato dan memimpin upacara. Ia berdehem di sela kumis yang dicukur tipis. "Mau minta tolong apa, mbak?" Perempuan yang sedari tadi menunduk kini menatap lurus ke arah kepala polisi. Wajahnya lebam, biru keunguan menggelayut di mata kanan, sementara bekas sundutan -seperti rokok- di pipi kiri yang berakhir pada jahitan di sudut bibir yang nampak masih basah. Tangisnya luruh, perempuan itu tengah menjadi bulan bulanan lelaki yang memperistrinya. Kepala polisi berderak, seperti ingin batuk namun ditanggalkan. Sementara tangin perempuan itu kian deras hingga menggenangi sebagian teras kantor polisi. Ia tengah memikirkan jawaban paling memuaskan untuk perempuan itu. Dirinya menginginkan peradilan yang tertegak tinggi, apalagi jika...