Monday, March 21, 2016
Naninya Pindah!
Saturday, March 16, 2013
Kepala Polisi
Perempuan itu tersungkur tanpa banyak upaya.
Kepala polisi nyalang, nampaknya sedari tadi ia terantuk antuk menahan kantuk. Sebab tak banyak yang ia lakukan belakangan ini. Kecuali sesekali berpidato dan memimpin upacara. Ia berdehem di sela kumis yang dicukur tipis.
"Mau minta tolong apa, mbak?"
Perempuan yang sedari tadi menunduk kini menatap lurus ke arah kepala polisi. Wajahnya lebam, biru keunguan menggelayut di mata kanan, sementara bekas sundutan -seperti rokok- di pipi kiri yang berakhir pada jahitan di sudut bibir yang nampak masih basah. Tangisnya luruh, perempuan itu tengah menjadi bulan bulanan lelaki yang memperistrinya.
Kepala polisi berderak, seperti ingin batuk namun ditanggalkan. Sementara tangin perempuan itu kian deras hingga menggenangi sebagian teras kantor polisi. Ia tengah memikirkan jawaban paling memuaskan untuk perempuan itu. Dirinya menginginkan peradilan yang tertegak tinggi, apalagi jika menyangkut harkat martabat perempuan, perwujudan dari ibunya sendiri.
"Begini, mbak bisa masuk ke dalam ruangan penyidik yang ada di gedung utara, lalu nanti petugas yang ada di sana akan mencatat setiap aduan mbak secara rinci. Setelahnya, akan dilakukan pengusutan, jika terbukti bersalah, suami mbak akan dijadikan tersangka"
Kepala polisi bergumam gumam, disimpannya kalimat itu dalam hati. Ia tau pasti prosesnya tidak akan segampang itu. Apalagi jika perempuan di depannya bersuamikan petinggi, atau setidaknya, orang kaya yang mampu menggotong pengacara ternama. Akan lama, berbelit serta bukan tidak mungkin jika justru perempuan itu yang akan masuk penjara.
"Atas tuduhan pencemaran nama baik"
Tanpa sadar kepala polisi bersuara.
"Ya, Pak?"
Kepala polisi berdehem
"Ah, bukan apa apa mbak. Begini, coba ceritakan dulu sama saya soal masalah mbak ini"
Meluncur deras kalimat kalimat mengiba dari mulut perempuan yang airmatanya kini sudah semata kaki setiap petugas polisi di kantor itu. Kepala polisi hingga harus berkali kali menegur agar sedu sedan perempuan itu tidak menutupi tutur aduan yang sedang disampaikannya.
Saat matahari kian meninggi dan airmata sudah sedengkul, tangis perempuan itu reda seiring dengan selesainya ia mengadu. Kepala polisi menghela nafas panjang untuk kemudian meminta waktu untuk berpejam dan mencarikan solusi untuknya.
"Benar dugaanku, suaminya seorang petinggi"
Masih bersimpuh, perempuan itu bersuara
"Jadi bagaimana, Pak?"
Di sela hela nafas yang kelewat panjang, kepala polisi berkata
"Begini, mbak bisa masuk ke dalam ruangan penyidik yang ada di gedung utara, lalu nanti petugas yang ada di sana akan mencatat setiap aduan mbak secara rinci. Setelahnya, akan dilakukan pengusutan, jika terbukti bersalah, suami mbak akan dijadikan tersangka"
Perempuan itu beringsut mengenakan sendalnya, sementara airmatanya menguap terpapar matahari, mengkristal layaknya garam.
"Nanti setelah istirahat makan siang"
Kepala polisi lantas terpejam, lalu menggelinding pergi.
Monday, August 27, 2012
Sore Itu Kudengar Derap Kaki
Menjawab dentum dan tatapan ngeri
Setiap mata yang menatap nanar
Kepada yang seolah dibenarkan untuk bertingkah onar
Sore itu kudengar derap kaki
Menyeruak masuk dari serambi
Ayah mendesakku ke dalam lemari
Bersembunyi
Aku mendengar popor
Aku mendengar jerit
Aku mendengar sunyi
Sore itu kudengar derap kaki
Bersama senja mereka pergi
Lalap api kian meninggi
Dedy Hamdun HILANG Mei 1997
Ismail HILANG Mei 1997
Hermawan Hendrawan HILANG Maret 1998
Hendra Hambali HILANG Mei 1998
M Yusuf HILANG Mei 1997
Nova Al Katiri HILANG Mei 1997
Petrus Bima Anugrah HILANG Maret 1998
Sony HILANG April 1997
Suyat HILANG Februari 1998
Ucok Munandar Siahaan HILANG Mei 1998
Yadin Muhidin HILANG Mei 1998
Yani Afri HILANG April 1997
Wiji Tukul HILANG Mei 1998
Monday, June 25, 2012
Tentang Miskin dan Tidak Bertuhan
baru pulang kerumah. kelar nonton razia gelandangan dan pengemis.
sebut saja aku berlebihan.
tapi mendengar kalimat "Suami sudah meninggal, kalau nggak ngemis mau makan apa," dituturkan nenek-nenek 79 tahun, nggak tahan juga.
ternyata, aku bisa nangis juga :D
hahahaha.
yang paling bertanggung jawab siapa? pemerintah? masyarakat? diri mereka sendiri?
tuhan?
entahlah.
"Memangnya nggak takut anaknya sakit bu? kalau di ajak ngemis malem-malem gini?"
"Tuhan yang menghidupkannya, tuhan jua yang mematiakannya,"
itu anak loh bu, bukan gameboy yang bisa di on-offkan atau dicabut baterainya.
nggak berlebihan kan, kalau lantas aku nulis
Sebuah Murka
Ketidakberdayaan ini membuat kami pesimis.
Ketidakmakmuran ini membuat kami apatis.
Kemiskinan ini membuat kami atheis.
Kami berdesak di antara jalan berdebu dan parit parit penuh kotoran.
Kami merajut nyawa dengan membanting segalanya di jalanan.
Kami tak lagi sekedar pemenuh peta Kalimantan.
Kami bernyawa, bersuara, tapi senantiasa teredam.
Wahai bapak bapak penjual tuhan.
Kami tak tau bagaimana perasaan bapak waktu bilang sumpah demi Allah di gedung kenegaraan.
Tapi kami orang orang desa sungguh takut bersumpah menggunakan nama tuhan.
Kami takut jika mengingkarinya kami akan berubah menjadi orang utan.
Kami tau ini terdengar klise, corny dan berlebih lebihan.
Tapi seperti biasa kami berkata “padamu harapan kami sandarkan”
Kami harap jawaban bapak tidak “seperti biasanya”, karena biasanya kami hanya menerima kata “tunggu hingga kebinet mendatang” sebagai jawaban.
Kami menjerit lewat puisi dan lagu.
sastrawan dan musisi adalah wakil kami dari dulu.
Kami hanya pesimis suara kami mampu menembus gedung kenegaraan itu.
Konon katanya temboknya tebal sekali, anti peluru.
Pantas saja, ketika kami menjeritkan kelaparan ini, mereka tidak tahu menahu.
Kami ini memang manja.
Kami memang terbiasa meraung untuk hentikan rasa lapar yang merajalela.
Habisnya, kami sudah kehabisan akal mengakali kemiskinan yang tak ada habisnya.
Mungkin bukan perkara benar-salah yang kita cari. Mungkin kita hanya perlu pembenaran atas segala ketidakpedulian. Mungkin saja.
| Sampit Expo, 2010. Tuhan menyayangi kita semua. |
Yang Berlari Dari Masa Lalu
Saturday, October 01, 2011
Pancasila Hilang Saktinya
Kemanusiaan di ujung senapan penguasa
Kerakyatan yang dipimpin keprihatinan,
Keadilan bagi segelintir kelompok pemenang.
Pancasilaku hilang saktinya
Menjerit ia dihujani lecehan penuh murka.
Tuesday, August 16, 2011
Popor
Menjamah sepenjuru rumah tanpa, menyeret orangtuaku dari kelambu.
Itu tengah malam. Hari sabtu.
Popor pertama menyentak tengkukku. Ngilu. Mereka berteriak soal aku dan konspirasi untuk menjatuhkan negara. Negara palsu.
Popor kedua menghujam perut ayahku. Kali ini teriakan mereka pertanyakan keterlibatan ayahku dalam Kelompok Petani Berontak.
Jawaban ayahku tidak menuai paham. Ibuku menjerit, seseorang menumbangkan tubuh ringkihnya. Kepala wanita itu diinjak sepatu sepatu lars hingga darah mengucur dari telinga.
Popor ketiga menghantam pelipis kananku. Pandanganku buram, yang terlihat hanya samar wajah ayahku yang kesakitan saat bayonet mengiris kupingnya.
"Kami bukan pemberontak. Kami keluarga petani..,"
Kian pelan suara ayah. Daun telinganya berlumur darah.
Selanjutnya tiada popor. Api menjilat ruang tamu.
Aku tidak mengingat apa apa saat popor selanjutnya merangsek tulang keringku.
Tiang penyangga rumah berderit. Pria berseragam berlalu dengan derum mobil bak terbuka.
Ayahku tertawa. Sebelum api menjilat tubuh kami, ia berteriak.
"Kita ini tumbal atas ketakutan petinggi"
Monday, April 25, 2011
In Memoriam, Gus Dur

Telah gugur pahlawan bangsa
Seorang pembela pluralitas dengan jargon sederhana
“Tuhan Tidak Perlu Dibela”
Seorang pemimpin yang lebih sipil dari jelata dan lebih gagah dari panglima.
Seorang pembela minor, kembali pada-Nya.
Dianggap gila untuk alasan luar biasa.
DPR korup, berperilaku labil layaknya anak remaja.
Yang labil, harus dicabut hingga ke akarnya.
Ah, jika bapak masih jadi presiden negara ini,
Saya yakin tak akan ada Crown Royal seharga 1,3 miliar terbuang untuk para mentri
Tapi apa boleh buat pak, perlu sebuah mobil mewah agar para petinggi itu “terlihat” kompeten dalam tugasnya mengatur negeri.
Jujur,
Kami takut, duhai bapak yang telah kembali padanya.
Kami takut tak lagi bisa bersuara.
Kami takut, tak lagi bisa merdeka.
menemukan tulisan ini di folder folder lawas komputer.
Rupanya aku sempat menulis ini beberapa hari setelah Gus Dur wafat.
Dalam kenangan, Gus Dur.
Thursday, February 10, 2011
Negeri Tanpa Negara
Aku percaya tak ada manusia yang diciptakan sia sia
Aku percaya setiap manusia memiliki jejak sejarah yang patut dihargai
Aku percaya tak ada manusia yang berhak mencabut nyawa manusia lainnya
Untuk alasan apapun.
Alasan apapun.
Tidak Tuhan tidak pula agama.
Ya, tunjukkan padaku sejuta ayat ayat Tuhan yang kalian rangkum dalam kitab agama
Yang dengannyalah nyawa nyawa itu mendapat pembenaran untuk dilepas dari kerongkongannya
Tunjukkan padaku sejuta ayat yang perbolehkan manusia mencabut nyawa manusia lainnya
Aku siap membantahnya dengan nurani.
Dengan Tuhan yang tak pernah membenci.
Wednesday, February 09, 2011
Reduce, Reduce.
Jadi ceritanya, aku udah setaun lebih bermain main di twitter, dan gilaa, adiksinya parah abis abisan hahaha. Ini persis seperti pas aku pertama kali kenal facebook, even worse :P, aku bukan tipe tipe orang yang mampu mengelola waktu dengan cukup baik. Jadi, aku putuskan buat stop twitteran dulu.
Next. Tidak banyak yang bisa kuceritakan hari ini, Tuan Blog, bukan lantaran aku tidak bisa menemukan kata kata yang tepat, tapi lebih lantaran memang tidak banyak yang terjadi dalam hidupku ^^
Lagi rame masalah SARA nih, antara Ahmadiyah dan kelompok kelompok keras islam fundamental. Televisi dibanjiri debat debat dan diskusi diskusi yang melahirkan konsep konsep dan teori teori. Masalah yang awalnya simpel (Ada-tiga-orang-mati-dibantai-oleh-sekelompok-orang), berubah menjadi ribet (Benarkah-ahmadiyah-sesat-dan-haruskah-FPI-serta-MUI-dan-SKB tiga menteri-dicabut)
Seperti biasa, negaraku hilang fokus. Disetir menuju diskusi diskusi melelahkan yang hanya menelurkan konsep konsep dan teori teori. Orang orang berdasi menjejali televisi, berkoar tentang kesetaraan hak atas keimanan. Dan tiga mayat yang dibantai tadi, membusuk dalam diam. Tak bisa melakukan pledoi apa apa.
Negara ini boleh berkonsep dan berteori tentang Ahmadiyah, lakukan secara kontinyu dan (harusnya) sedari dulu. Bukan secara sporadis dan meletup letup dalam satu momentum lalu lenyap hilang tewas selepasnya. Lalu berulang lagi saat momentum tercipta. Begitu seterusnya.
Ah, negaraku hilang fokus. Puluhan tahun kita mengalami kasus serupa yang berulang ulang tak pernah lekang. Tapi begitu sulitnya temukan jalan tengah. Atau setidaknya, temukan jalan untuk kembali fokus. Bahwa tidak ada ahmadiyah tidak ada kelompok radikal muslim di mata negara, di mata lembaga peradilan.
Hanya ada manusia yang dibantai manusia lainnya.
Gitu aja, kok repot :)
Minggu, 6 Pebruari 2011. Kami menghitam, Negaraku.
Friday, October 29, 2010
Petrus
Bau amis menyengat di setiap langkahnya menuju pengadilan
Babak belur ayah dihakimi massa,
Ayahku mencuri
Alasannya sederhana, ayah tak lagi bisa bekerja
Negara ini terlalu buta untuk mengasihaninya
Maka ayah berdarah-darah kakinya terinjak beling di belakang kandang ayam tetangga
Hanya ayam buras biasa, putih warnanya
Ditenteng ayah menengahi adzan subuh yang mulai bergema
Kami senang, emak memasak dengan riang, ayah ke mushola menghadap tuhan
Di subuh buta pula ayah dihajar masa, darah dikakinya berlipat banyaknya
...
3 tahun lamanya
Beliau tak berubah, tetap sayang padaku
Hanya saja tubuhnya telah dirajah paksa oleh sipir penjara
DS 1098 NK tercetak di lengannya
Ayah bilang itulah identitas narapidana
Tubuh rentanya semakin tirus
Semakin kurus
Suatu senja
Kampung kami di kunjungi para bertopeng rajut warna hitam bersenjata
Bersenapan
Mereka geledah semua rumah
Mencari pengkhianat bangsa
Atau dalam versi mereka
Memburu mereka para pengancam kedudukan mutlak presiden negara
Ayah memintaku bersembunyi di bawah meja
Mereka masuk ke bilik kami
Seorang bertopeng rajut hitam todongkan senjata pada ayah
Sebuah suara letusan sederhana membuatku menjadi yatim selamanya
Ayah jatuh berdegum ke lantai tanah
Kaku tubuh tirusnya bersimbah darah
Seorang bertopeng berteriak pada kawanannya
“Dia Bertato! Dia Dalangnya!”
Rusnani Anwar, dalam sebuah malam, Agustus silam.
*petrus, sisa-sisa kesejahteraan
Sajak Tiga
Mencentang Gamang,
Lalu Perlahan Menghilang…
Berdiri Disini.
Merentang Sepi,
Lantas Pergi Tak Berperi.
Menjadi Ada,
Mengemban Tiada.
Ada Aku Ingin Jadi Tiada.
Bertuak Asa
Mencandu Rasa.
Kamu Bagai Heroin Raksasa.
Direntas Kabut
Menyulam Kalut
Tak Payah Kau Kusebut.
Mencinta Gelap
Mencerca Terang
Lama Pengap Kau Tak Juga Hilang.
Menyusup Angin
Gerogoti Dingin
Hilang Peluh Kusibak Ingin.
Menjadi Aku.
Menjadi Ada.
Menyusup Angin.
Ada Aku Menjadi Angin.
Silogisme
Atas simpulan pragmatis dengan dogma dosa-pahala
Atas destinasi surga neraka.
Dengan doktrin hitam putih.
Berkebalikan, berkesimpulan.
Nilai-nilai moral yang di junjung adalah dengan menjadi sama maka manusia akan bahagia dunia akhirat
Dengan tertata maka dunia akan damai sentosa
Dengan menata maka akan ada seorang pemimpin yang berkelayakan untuk mengatur kita semua
Lalu dibangunlah sebuah negara dengan konstitusi luar biasa
Dengan undang-undang dan pasal-pasalnya.
Menjadi putih berarti warga yang baik,
Menjadi hitam berarti sebuah penyangkalan atas konkritas suatu tatanan sempurna
Berkebalikan, berkesimpulan.
Lalu bagaimana yang dengan yang mendobrak batasan dan memilih tidak menjadi apa-apa?
Menjadi abu-abu misalnya.
Bauran warna dari solidnya hitam-putih
Atau menjadi banci misalnya
Probabilitas opsi lain atas doktrin pria-wanita
Salah?
Bagaimana bisa.
Ia bauran dari dosa dan pahala.
Jadi, yang manakah kita?
Thursday, October 28, 2010
Diam
meningkahi kucur merah dari lubang menganga di pangkal kakinya
Sesekali ia mengeram, jatuh bersimpuh
Darah masih mengalir, bertambah deras dari lubang telinga
Liurnya menetes, merah juga warnanya, geraham bungsu hingga taring remuk semua
Matanya mengerjap, terik matahari merangsek masuk
Kali ini darah masih di sana, kepalanya tersayat delapan
Nafas memburu, meregang nyawa
Dicengkramnya lengan kiri, melepuh bekas setrika
Wenggini coba menghapus tattonya
Pun tetap jua sepatu lars dan todongan senjata kejutkan pagi
Di sela nafas yang sepenggal sepenggal
Tetes liur bercampur darah dari lidahnya yang dipotong
Menggumam gumam tanpa suara
“Aku takkan mengaku..”
Ke-Benar-an
Pemimpin pemimpin lalim silih berganti
Berserabut menutupi
Lalim pemimpin sebelumnya
Betapa sulitnya mencari pembenaran di negeri ini
Atas tangis para ibu yang kehilangan anak lelakinya
Atas tangis para istri yang ditinggal mati suami
Betapa sulitnya sampaikan kebenaran di negeri ini
Terlampau lama tuli, terlampau lama mengidap penyakit hati
Dengus mendengus, ludah meludah pada onggokan kalimat kebenaran, dikebiri
Betapa sulitnya menjadi benar di negeri ini
Terpapar peluru
Tertikam sangkur tak bertuan
Tercekat racun
Mati
dalam peringatan kematian Munir.
Medan Perang Terasa Menjemukan
Ada kalanya, ketika kematian menjadi semacam lelucon.
Mayat mayat tak bernyawa menjadi semacam mainan.
Ada kalanya, kematian menjadi semacam guyon
Beberapa mengencingi malaikat maut
Padanya ditunjukkan seringai kebal senjata
Ada kalanya, tubuh tubuh kaku berserak
Lemas dan perlahan disetubuhi
Tertawa tawa, meningkahi sorai bersenjata
Pesing desing mesin Jepang
Gagahi langit subuh buta
Pun terdengar juga, sayup adzan
Mayat mayat tak bernyawa
Dicabik dan disayat
Dimakan
Kadang kala jemu menunggu
Mayat mayat bercelana jeans
Didandani dengan segumpal ilalang kering
Atau cemoreng arang
Mayat mayat busuk tunarupa
Dibuang
Atau ditinggalkan
Kala serdadu beranjak, meninggalkan lokasi perang
Mencari cari (lagi)
Mayat mayat bercelana jeans yang bisa
Dijadikan mainan
Siang memanggang
Medan perang terasa begitu menjemukan
Rusnani Anwar, dalam candu film Atonement, Kiera Knightly.
Wednesday, October 27, 2010
Senja Merah
Yang berpendar, sesekali berkeriap, angin terbangkan awan kecil
Seperti gulali
Sepuluh tahun lalu, ya, ya, sepuluh tahun lalu
Aku masih kanak kanak dengan sepatu kuning bergambar kartun
Kala peluru berdesing, pria berparang berlarian, darah tumpah
Di pelabuhan
Ya, ya, sepuluh tahun lewat
Saat badan badan tunakepala
Dibuang ke tepian sungai
Amis menguar ke udara
Laki laki berseragam, sibuk berbalas tembak
Dengan senjata rakitan dan tebasan parang
Sesekali, asap pekat mengepul di sudut sudut kota
Sesekali, tubuh tumbang bersimbah darah
Kadang berlubang, kadang terpenggal
Nafas Ayah tersengal, digendongnya aku
Puluhan berparang
Menyentakku dari gendongan, berteriak teriak
Uluh itah kia, uluh itah kia*, disoraikan ayah
Burung burung elang*
Berputar putar, magis
Ya, ya, sepuluh tahun lewat
Dan aku masih sulit terlelap
Di Minggu senja merah
*Uluh itah kia : Bahasa Dayak Ngaju, artinya “Orang kita juga”
*Burung Elang yang berputar putar di atas rumah terbakar dimitoskan sebagai jelmaan Panglima Burung, konon, dengan adanya elang yang berputar di atas rumah, api takkan menyebar
*Jelang sepuluh tahun peristiwa kerusuhan Sampit, 18 Februari 2001
Pelajaran Cita Cita
“Mari bermain cita cita”
Seru guru itu dalam ruang kelasnya, Selasa pagi
Di sebuah sekolah kumuh,
Dengan murid murid kumuh,
Dengan dana remah remah anggaran daerah
Puluhan bocah empat SD, bergemuruh, beberapa bertepuk tangan
Satu per satu, ditanyai ingin menjadi apa
Berloncatan senang, masing masing punya jawaban
Dokter-astronot-artis-hingga presiden dilontarkan
Ada yang memukul mukul meja,
Tak sabar menunggu cita citanya terpapar
Amin diam,
Tak bergeming kala sang guru mengetuk ngetukkan ujung sepatu, menunggu
“Saya tak punya cita cita Pak, lihat nanti saja”
Gumam menggumam, tawa cela memburai seketika
Ruang kelas gaduh, Amin dihukum berdiri di depan kelas
Karena tak punya cita cita
Puluhan tahun lewat, tak ada satupun kawan kelasnya yang menjadi dokter-astronot-artis
Lebih lebih presiden
Satu satu mati, ada yang bolong kepalanya ditembak, gara gara bertatto
Ada yang mati kesetrum, kala menjaja asongan di atas atap kereta
Ada yang mati beranak, semata tak mampu ikut KB
Tak pula ada yang menjadi dokter bertatto
Astronot kemudi kereta
Atau bahkan artis dengan anak kelewat banyak
Amin, mengais sisa sisa sampah rumah mewah
Sekolahnya tak tuntas, SD-nya diratakan di tahun ke lima
Deru menderu, bisik membisik sampaikan padanya
Kawannya yang ingin jadi presiden mati
Ketangkapan warga sekampung mencuri televisi
Kais mengais, sampah yang bisa dimakan
Gumam pelan Amin tak tertangkap udara
“Hidup kok kebanyakan cita cita..”
Monday, October 18, 2010
Air, Udara, Apa Kami Punya?
Siang itu panas memanggang
Kampungku lengang
Udara gerah
Lenguh mendesah
Gerombol kambing kurus
Merumput di lapangan tak terurus
Sela menyela, gerutu wanita paruh baya
Menatap langit kian biru menganga
Panas
Tercenung, anak anak legam berpeluh campur daki
Terancam tak mandi lagi hari ini
Pun tetap dikejarnya layangan, berdebu, bertelanjang kaki
Drum drum kaleng kosong
PDAM mendengus tiap kali dirongrong
Mengapa air kami diberangus
Dijawab masa tenggang telah hangus
Peluh menetes, kemarau masih singgah
Drum drum kaleng kosong, menelan ludah
Kapan hujan datang?
Kami lelah.
(Foto musim kemarau 2009. Stadiun 29 November, Sampit Expo)


