Posts

Showing posts with the label Sajak sajak dan puisi

Kepala Polisi

"Pak, tolong saya dan keluarga saya Pak," Perempuan itu tersungkur tanpa banyak upaya. Kepala polisi nyalang, nampaknya sedari tadi ia terantuk antuk menahan kantuk. Sebab tak banyak yang ia lakukan belakangan ini. Kecuali sesekali berpidato dan memimpin upacara. Ia berdehem di sela kumis yang dicukur tipis. "Mau minta tolong apa, mbak?" Perempuan yang sedari tadi menunduk kini menatap lurus ke arah kepala polisi. Wajahnya lebam, biru keunguan menggelayut di mata kanan, sementara bekas sundutan -seperti rokok- di pipi kiri yang berakhir pada jahitan di sudut bibir yang nampak masih basah. Tangisnya luruh, perempuan itu tengah menjadi bulan bulanan lelaki yang memperistrinya. Kepala polisi berderak, seperti ingin batuk namun ditanggalkan. Sementara tangin perempuan itu kian deras hingga menggenangi sebagian teras kantor polisi. Ia tengah memikirkan jawaban paling memuaskan untuk perempuan itu. Dirinya menginginkan peradilan yang tertegak tinggi, apalagi jika...

Sore Itu Kudengar Derap Kaki

Sore itu kudengar derap kaki Menjawab dentum dan tatapan ngeri Setiap mata yang menatap nanar Kepada yang seolah dibenarkan untuk bertingkah onar Sore itu kudengar derap kaki Menyeruak masuk dari serambi Ayah mendesakku ke dalam lemari Bersembunyi Aku mendengar popor Aku mendengar jerit Aku mendengar sunyi Sore itu kudengar derap kaki Bersama senja mereka pergi Lalap api kian meninggi Kepada yang hilang, Dedy Hamdun HILANG Mei 1997 Ismail HILANG Mei 1997 Hermawan Hendrawan HILANG Maret 1998 Hendra Hambali HILANG Mei 1998 M Yusuf HILANG Mei 1997 Nova Al Katiri HILANG Mei 1997 Petrus Bima Anugrah HILANG Maret 1998 Sony HILANG April 1997 Suyat HILANG Februari 1998 Ucok Munandar Siahaan HILANG Mei 1998 Yadin Muhidin HILANG Mei 1998 Yani Afri HILANG April 1997 Wiji Tukul HILANG Mei 1998    Kami menunggumu pulang.

Tentang Miskin dan Tidak Bertuhan

Image
baru pulang kerumah. kelar nonton razia gelandangan dan pengemis.   I hate to admitted, but I just cry, badly. sebut saja aku berlebihan. tapi mendengar kalimat "Suami sudah meninggal, kalau nggak ngemis mau makan apa," dituturkan nenek-nenek 79 tahun, nggak tahan juga. ternyata, aku bisa nangis juga :D hahahaha. yang paling bertanggung jawab siapa? pemerintah? masyarakat? diri mereka sendiri? tuhan? entahlah. "Memangnya nggak takut anaknya sakit bu? kalau di ajak ngemis malem-malem gini?" "Tuhan yang menghidupkannya, tuhan jua yang mematiakannya," itu anak loh bu, bukan gameboy yang bisa di on-offkan atau dicabut baterainya. nggak berlebihan kan, kalau lantas aku nulis Sebuah Murka Ketidakberdayaan ini membuat kami pesimis. Ketidakmakmuran ini membuat kami apatis. Kemiskinan ini membuat kami atheis. Kami berdesak di antara jalan berdebu dan parit parit penuh kotoran. Kami merajut nyawa dengan membanting segalanya di jalanan. Kami tak lagi seked...

Yang Berlari Dari Masa Lalu

Langkahnya terseok, meningkahi kucur merah dari lubang menganga di pangkal kakinya Sesekali ia mengeram, jatuh bersimpuh Darah masih mengalir, bertambah deras dari lubang telinga Liurnya menetes, merah juga warnanya, geraham bungsu hingga taring remuk semua Matanya mengerjap, terik matahari merangsek masuk Kali ini darah masih di sana, kepalanya tersayat delapan Nafasnya memburu, meregang nyawa Dicengkramnya lengan kirinya, melepuh bekas setrika Wenggini coba menghapus tattonya Pun tetap jua sepatu lars dan todongan senjata kejutkan pagi harinya Di sela nafas yang sepenggal sepenggal Tetes liur bercampur darah dari lidahnya yang dipotong Menggumam gumam tanpa suara “Aku takkan mengaku..”

Pancasila Hilang Saktinya

Satu Oktober Pancasilaku tak lagi sakti Tuhan Esa diludahi intoleransi beragama Kemanusiaan di ujung senapan penguasa Persatuan atas dasar suku dan agama Kerakyatan yang dipimpin keprihatinan, permusyawaratan perwakilan pepat kepentingan Keadilan bagi segelintir kelompok pemenang. Pancasilaku hilang saktinya Menjerit ia dihujani lecehan penuh murka. Kembalilah menjadi sakti, Pancasilaku* *Tulisan di ambil dari blogpost tahun 2010 lalu, di sini

Popor

Aku lupa, mungkin September tanggal tiga. Saat puluhan berseragam menyesak di ruang tamu tanpa melepas sepatu. Menjamah sepenjuru rumah tanpa, menyeret orangtuaku dari kelambu. Itu tengah malam. Hari sabtu. Popor pertama menyentak tengkukku. Ngilu. Mereka berteriak soal aku dan konspirasi untuk menjatuhkan negara. Negara palsu. Popor kedua menghujam perut ayahku. Kali ini teriakan mereka pertanyakan keterlibatan ayahku dalam Kelompok Petani Berontak. Jawaban ayahku tidak menuai paham. Ibuku menjerit, seseorang menumbangkan tubuh ringkihnya. Kepala wanita itu diinjak sepatu sepatu lars hingga darah mengucur dari telinga. Popor ketiga menghantam pelipis kananku. Pandanganku buram, yang terlihat hanya samar wajah ayahku yang kesakitan saat bayonet mengiris kupingnya. "Kami bukan pemberontak. Kami keluarga petani..," Kian pelan suara ayah. Daun telinganya berlumur darah. Selanjutnya tiada popor. Api menjilat ruang tamu. Aku tidak mengingat apa apa saat...

In Memoriam, Gus Dur

Image
Telah gugur pahlawan bangsa Seorang pembela pluralitas dengan jargon sederhana “Tuhan Tidak Perlu Dibela” Seorang pemimpin yang lebih sipil dari jelata dan lebih gagah dari panglima. Seorang pembela minor, kembali pada-Nya. Dianggap gila untuk alasan luar biasa. DPR korup, berperilaku labil layaknya anak remaja. Yang labil, harus dicabut hingga ke akarnya. Ah, jika bapak masih jadi presiden negara ini, Saya yakin tak akan ada Crown Royal seharga 1,3 miliar terbuang untuk para mentri Tapi apa boleh buat pak, perlu sebuah mobil mewah agar para petinggi itu “terlihat” kompeten dalam tugasnya mengatur negeri. Jujur, Kami takut, duhai bapak yang telah kembali padanya. Kami takut tak lagi bisa bersuara. Kami takut, tak lagi bisa merdeka. menemukan tulisan ini di folder folder lawas komputer. Rupanya aku sempat menulis ini beberapa hari setelah Gus Dur wafat. Dalam kenangan, Gus Dur.

Negeri Tanpa Negara

Aku percaya tak ada manusia yang diciptakan sia sia Aku percaya setiap manusia memiliki jejak sejarah yang patut dihargai Aku percaya tak ada manusia yang berhak mencabut nyawa manusia lainnya Untuk alasan apapun. Alasan apapun. Tidak Tuhan tidak pula agama. Ya, tunjukkan padaku sejuta ayat ayat Tuhan yang kalian rangkum dalam kitab agama Yang dengannyalah nyawa nyawa itu mendapat pembenaran untuk dilepas dari kerongkongannya Tunjukkan padaku sejuta ayat yang perbolehkan manusia mencabut nyawa manusia lainnya Aku siap membantahnya dengan nurani. Dengan Tuhan yang tak pernah membenci.

Reduce, Reduce.

Image
Hehe, aku kangen kamuh, Tuan Blog :D  Jadi ceritanya, aku udah setaun lebih bermain main di twitter,  dan gilaa, adiksinya parah abis abisan hahaha. Ini persis seperti pas aku pertama kali kenal facebook, even worse :P, aku bukan tipe tipe orang yang mampu mengelola waktu dengan cukup baik. Jadi, aku putuskan buat stop twitteran dulu. Next. Tidak banyak yang bisa kuceritakan hari ini, Tuan Blog, bukan lantaran aku tidak bisa menemukan kata kata yang tepat, tapi lebih lantaran  memang tidak banyak yang terjadi dalam hidupku  ^^ Lagi rame masalah SARA nih, antara Ahmadiyah dan kelompok kelompok keras islam fundamental. Televisi dibanjiri debat debat dan diskusi diskusi yang melahirkan konsep konsep dan teori teori. Masalah yang awalnya simpel (Ada-tiga-orang-mati-dibantai-oleh-sekelompok-orang), berubah menjadi ribet (Benarkah-ahmadiyah-sesat-dan-haruskah-FPI-serta-MUI-dan-SKB tiga menteri-dicabut) Seperti biasa, negaraku hilang fokus. Disetir menuju diskusi diskusi melelahkan yang hany...

Petrus

Ayahku digiring melalui pasar dan selokan Bau amis menyengat di setiap langkahnya menuju pengadilan Ayah tak dibela, ayah tak punya daya upaya Babak belur ayah dihakimi massa, Diseret tubuh rentanya menuju penjara Ayahku mencuri Seekor ayam milik tetangga Alasannya sederhana, ayah tak lagi bisa bekerja Tubuhnya sudah renta Negara ini terlalu buta untuk mengasihaninya Demi aku agar tak lagi mengeluhkan lapar padanya Maka ayah berdarah-darah kakinya terinjak beling di belakang kandang ayam tetangga Bukan ayam bangkok, pejantan atau bekisar yang mahal harganya Hanya ayam buras biasa, putih warnanya Ditenteng ayah menengahi adzan subuh yang mulai bergema Kami senang, emak memasak dengan riang, ayah ke mushola menghadap tuhan Di subuh buta pula ayah dihajar masa, darah dikakinya berlipat banyaknya ... Ayah telah pulang dari penjara 3 tahun lamanya Beliau tak berubah, tetap sayang padaku Hanya saja tubuhnya telah dirajah paksa oleh sipir penjara DS 1098 NK tercetak di lengannya Ayah bilang i...

Sajak Tiga

Aku Datang Menjelang, Mencentang Gamang, Lalu Perlahan Menghilang… Berdiri Disini. Merentang Sepi, Lantas Pergi Tak Berperi. Menjadi Ada, Mengemban Tiada. Ada Aku Ingin Jadi Tiada. Bertuak Asa Mencandu Rasa. Kamu Bagai Heroin Raksasa. Direntas Kabut Menyulam Kalut Tak Payah Kau Kusebut. Mencinta Gelap Mencerca Terang Lama Pengap Kau Tak Juga Hilang. Menyusup Angin Gerogoti Dingin Hilang Peluh Kusibak Ingin. Menjadi Aku. Menjadi Ada. Menyusup Angin. Ada Aku Menjadi Angin. Rusnani Anwar, sebuah sore, suatu Sabtu.

Silogisme

Dunia kita terbagi atas tatanan benar salah. Atas simpulan pragmatis dengan dogma dosa-pahala Atas destinasi surga neraka. Dengan doktrin hitam putih. Berkebalikan, berkesimpulan. Nilai-nilai moral yang di junjung adalah dengan menjadi sama maka manusia akan bahagia dunia akhirat Dengan tertata maka dunia akan damai sentosa Dengan menata maka akan ada seorang pemimpin yang berkelayakan untuk mengatur kita semua Lalu dibangunlah sebuah negara dengan konstitusi luar biasa Dengan undang-undang dan pasal-pasalnya. Menjadi putih berarti warga yang baik, Menjadi hitam berarti sebuah penyangkalan atas konkritas suatu tatanan sempurna Berkebalikan, berkesimpulan. Lalu bagaimana yang dengan yang mendobrak batasan dan memilih tidak menjadi apa-apa? Menjadi abu-abu misalnya. Bauran warna dari solidnya hitam-putih Atau menjadi banci misalnya Probabilitas opsi lain atas doktrin pria-wanita Salah? Bagaimana bisa. Ia bauran dari dosa dan pahala. Jadi, yang manakah kita? Rusnani Anwar, dalam sebuah ke...

Diam

Langkahnya terseok, meningkahi kucur merah dari lubang menganga di pangkal kakinya Sesekali ia mengeram, jatuh bersimpuh Darah masih mengalir, bertambah deras dari lubang telinga Liurnya menetes, merah juga warnanya, geraham bungsu hingga taring remuk semua Matanya mengerjap, terik matahari merangsek masuk Kali ini darah masih di sana, kepalanya tersayat delapan Nafas memburu, meregang nyawa Dicengkramnya lengan kiri, melepuh bekas setrika Wenggini coba menghapus tattonya Pun tetap jua sepatu lars dan todongan senjata kejutkan pagi Di sela nafas yang sepenggal sepenggal Tetes liur bercampur darah dari lidahnya yang dipotong Menggumam gumam tanpa suara “Aku takkan mengaku..” Rusnani Anwar, dalam lesakkan insiden dili milik Seno Gumira

Ke-Benar-an

Betapa sulitnya kebenaran tegak di negeri ini Pemimpin pemimpin lalim silih berganti Berserabut menutupi Lalim pemimpin sebelumnya Betapa sulitnya mencari pembenaran di negeri ini Atas tangis para ibu yang kehilangan anak lelakinya Atas tangis para istri yang ditinggal mati suami Betapa sulitnya sampaikan kebenaran di negeri ini Terlampau lama tuli, terlampau lama mengidap penyakit hati Dengus mendengus, ludah meludah pada onggokan kalimat kebenaran, dikebiri Betapa sulitnya menjadi benar di negeri ini Terpapar peluru Tertikam sangkur tak bertuan Tercekat racun Mati Rusnani Anwar, dalam sebuah resah atas ketiadaan adil dalam peringatan kematian Munir.

Medan Perang Terasa Menjemukan

Ada kalanya, ketika kematian menjadi semacam lelucon. Mayat mayat tak bernyawa menjadi semacam mainan. Ada kalanya, kematian menjadi semacam guyon Beberapa mengencingi malaikat maut Padanya ditunjukkan seringai kebal senjata Ada kalanya, tubuh tubuh kaku berserak Lemas dan perlahan disetubuhi Tertawa tawa, meningkahi sorai bersenjata Pesing desing mesin Jepang Gagahi langit subuh buta Pun terdengar juga, sayup adzan Mayat mayat tak bernyawa Dicabik dan disayat Dimakan Kadang kala jemu menunggu Mayat mayat bercelana jeans Didandani dengan segumpal ilalang kering Atau cemoreng arang Mayat mayat busuk tunarupa Dibuang Atau ditinggalkan Kala serdadu beranjak, meninggalkan lokasi perang Mencari cari (lagi) Mayat mayat bercelana jeans yang bisa Dijadikan mainan Siang memanggang Medan perang terasa begitu menjemukan Rusnani Anwar, dalam candu film Atonement, Kiera Knightly.

Senja Merah

Sore itu aku teringat, sepotong senja merah Yang berpendar, sesekali berkeriap, angin terbangkan awan kecil Seperti gulali Sepuluh tahun lalu, ya, ya, sepuluh tahun lalu Aku masih kanak kanak dengan sepatu kuning bergambar kartun Kala peluru berdesing, pria berparang berlarian, darah tumpah Di pelabuhan Ya, ya, sepuluh tahun lewat Saat badan badan tunakepala Dibuang ke tepian sungai Amis menguar ke udara Laki laki berseragam, sibuk berbalas tembak Dengan senjata rakitan dan tebasan parang Sesekali, asap pekat mengepul di sudut sudut kota Sesekali, tubuh tumbang bersimbah darah Kadang berlubang, kadang terpenggal Nafas Ayah tersengal, digendongnya aku Puluhan berparang Menyentakku dari gendongan, berteriak teriak Uluh itah kia, uluh itah kia *, disoraikan ayah Burung burung elang* Berputar putar, magis Ya, ya, sepuluh tahun lewat Dan aku masih sulit terlelap Di Minggu senja merah *Uluh itah kia : Bahasa Dayak Ngaju, artinya “Orang kita juga” *Burung Elang yang berputar putar di atas rum...

Pelajaran Cita Cita

“Mari bermain cita cita” Seru guru itu dalam ruang kelasnya, Selasa pagi Di sebuah sekolah kumuh, Dengan murid murid kumuh, Dengan dana remah remah anggaran daerah Puluhan bocah empat SD, bergemuruh, beberapa bertepuk tangan Satu per satu, ditanyai ingin menjadi apa Berloncatan senang, masing masing punya jawaban Dokter-astronot-artis-hingga presiden dilontarkan Ada yang memukul mukul meja, Tak sabar menunggu cita citanya terpapar Amin diam, Tak bergeming kala sang guru mengetuk ngetukkan ujung sepatu, menunggu “Saya tak punya cita cita Pak, lihat nanti saja” Gumam menggumam, tawa cela memburai seketika Ruang kelas gaduh, Amin dihukum berdiri di depan kelas Karena tak punya cita cita Puluhan tahun lewat, tak ada satupun kawan kelasnya yang menjadi dokter-astronot-artis Lebih lebih presiden Satu satu mati, ada yang bolong kepalanya ditembak, gara gara bertatto Ada yang mati kesetrum, kala menjaja asongan di atas atap kereta Ada yang mati beranak, semata...

Air, Udara, Apa Kami Punya?

Image
Siang itu panas memanggang Kampungku lengang Udara gerah Lenguh mendesah Gerombol kambing kurus Merumput di lapangan tak terurus Sela menyela, gerutu wanita paruh baya Menatap langit kian biru menganga Panas Tercenung, anak anak legam berpeluh campur daki Terancam tak mandi lagi hari ini Pun tetap dikejarnya layangan, berdebu, bertelanjang kaki Drum drum kaleng kosong PDAM mendengus tiap kali dirongrong Mengapa air kami diberangus Dijawab masa tenggang telah hangus Peluh menetes, kemarau masih singgah Drum drum kaleng kosong, menelan ludah Kapan hujan datang? Kami lelah. (Foto musim kemarau 2009. Stadiun 29 November, Sampit Expo)

Meragu Mencintaimu

Image
Aku mencintaimu dengan meragu Aku tak pandai merayu Pun merangkai lagu Aku tak yakin bisa memenangi hatimu Aku mencintaimu dengan meragu Meragui kemampuanku Untuk menggapai apa yang kumau Darimu Aku, mencintaimu dengan meragu Karenanya aku tak tau Bagaimana caranya ungkap rasa ini, aku ragu.

Suatu Ketika, di Pedalaman Kalimantan

Image
Selong adalah anak rimba Kalimantan Ayahnya kepala suku Selong, berusia 10 tahun. Usia di mana kawan kawan seusianya sibu belajar membaca, menulis dan mengaji, di kota Selong, putra dayak asli yang akan menjaga sukunya, suatu saat kelak Badannya legam, sangat pandai berburu Babi hutan, anjing hingga kijang pernah ditangkapnya Selong, membuat ayahnya bangga Suatu hari, segerombol orang pintar menyambangi sukunya Orang orang pintar dari kota Mendirikan bilik dan menamainya sekolah Anak anak seusia Selong diajari membaca, menulis dan bernyanyi Selong, baru mengenal moral, logika, dan berkasih kasihan Lepas bertahun Selong sekolah Ia kini tak lagi gemar berburu Bocah itu kini senang membaca buku Ayahnya murka kala Selong menolak berburu lantaran tak tega Ibunya mengaduh kala melihat Selong kini senang berdiam di rumah dan sesekali bernyanyi Sore itu, sekolah bilik hilang menjadi abu "Kita gagal lagi" Gumam pria bersafari Ayah Selong naik pitam, anaknya berubah menjadi banci Serua...