Posts

Showing posts from November, 2012

Soal Koreksi Diri

2012 dan masih belum bisa tidak peduli atas segala sangkaan orang lain. Belum mampu memenuhi mimpi. Maaf.

Tentang Kematian

Image
Saya masih belum menyentuh konsep kematian. Sebab katanya, untuk bisa mengerti soal ini, seseorang harus bersinggungan langsung dengan kesedihan nyata saat ditinggalkan orang terdekat. Jadi sebutlah saya meraba raba, soal ranah yang belum saya cecap ini. Kelak dalam paragraf selanjutnya akan tertumpah semua upaya pembelaan diri, pertunjukan kesiapan serta keluhan atas yang mengeluh soal kematian. menemukannya di google untuk keyword "peaceful death" Kematian bukan perkara mudah untuk dijelang. Televisi menayangkan orang orang yang bersigap untuk menghindari maut pada saat kiamat. Untuk tetap hidup dan meneruskan kehidupan.   Pengetahuan saya soal dunia sana nihil jika spekulasi hari akhir ala kitab suci dikesampingkan. Sebab semuanya merupakan imajinasi yang masih hidup. Jadi perkara dosa-pahala tidak mengambil bagian dalam keinginan saya untuk kelak jika sudah tua dan belum mati juga, saya akan memilih euthanasia. Ini bukan ekstensi dari sikap petantang ...

Buang Perangai dan Paku Picik

Image
Apa istilah untuk seseorang yang ujug ujug bersikap baik di akhir hidupnya? Dalam bahasa Banjarmasin itu disebut buang perangai. Tiga paragraf cerpen muncul gara gara sepanjang akhir pekan memutar otak untuk mencari istilah yang benar dalam bahasa Indonesia.  Semua perangai buruk harus termaafkan sebelum aku bunuh diri. Dua minggu berselang sejak keinginan itu datang dan aku kini tengah menanti bus yang akan membawaku ke kota tempat Ratri berada. Ia temanku semasa sekolah dulu, sepuluh tahun yang lalu. Kekasihnya sempat kurebut atas nama kesal sebab nilai ujiannya selalu selangkah di depanku. Ratri marah besar, aku tak pernah meminta maaf. Selepas sekolah ia pergi ke luar kota, tidak pernah lagi kudengar kabarnya hingga halaman jejaring sosialku menautkan akun pribadinya. Ratri kini telah memiliki dua anak dan sebuah butik, setidaknya itu yang kubaca di jejaring sosialnya.  Paku Picik Dan tentu saja, cerpen ini tidak dilanjutkan. Karena nenek moyang terbi...

Sejauh Mana Kau Inginkan Sunyi?

PMS memang selalu menjadi periode paling kontemplatif. Dalam upaya memperbanyak posting blog agar tidak terlalu tertinggal dibanding tahun sebelumnya. Privasi menjadi kebutuhan mutlak yang tidak bisa ditawar. Aturan aturan soal pelanggarannyapun disusun sedemikian ruwetnya hingga tanpa sadar pelakunya sudah menjalani standar ganda. “Kamu ga boleh nanya nanya soal urusan dapur saya,” ujar penjunjung privasi yang sepuluh menit kemudian memunculkan deretan foto dirinya tengah mengunyah makanan kesukaan di restoran kesayangan dengan caption berisikan ia tengah maka apa dengan siapa di mana jam berapa dalam akun jejaring sosialnya. Tentu, tidak ada yang lebih menyebalkan dari tetangga yang menyetel keras keras mini komponya di pagi buta, saat saya tengah sakit gigi. Atau berisiknya pedagang panci yang kalau berjualan harus menggunakan megaphone diiringi lagu dangdut yang noraknya minta ampun. Atau seorang asing yang ujug ujug nanya kapan saya nikah. Dinding dinding tinggi ditega...

Teman Terbaik Sepanjang Tahun

Image
Menjelang akhir tahun, seperti biasa resolusi saya tahan hingga ulang tahun di Januari nanti. Namun semangat untuk ikut menikmati euforia menjelang akhir tahun turut melingkupi saya. Semacam kaleidoskop -sebab saya tak bisa membuat mixtape- terkait lagu lagu favorit di tahun ini terluncurlah. Beserta sedikit ulasan yang keseluruhannya berdasarkan pada alasan melankoli. Enjoy~ 1. Radiohead - No Suprises Waktu itu Januari, Cipete tengah malam. Menyelesaikan download untuk album rilisan 1997 ini. Skip setelah seperempat lagu menuju lagu selanjutnya, selanjutnya, lalu "Eh, ini yang jadi opening song House season 6!" lalu dicopy ke dalam mp3 player, dan bertahan hingga sekarang. Sesekali didengarkan saat dalam perjalanan pulang siaran, menuju magrib. 2. The Doors - People Are Strange Seorang kawan di twitter memposting lagu ini akhir Januari. Merasa punya koleksi the Doors dalam HDD, menemukan judulnya dan memutarnya setengah jalan. Lalu bersemayam dalam pera...

Nyaringlah Dalam Berdoa

Subuh buta suara adzan menggema tanpa dinyana. Tidak sedikit yang tinggal berdekatan dengan surau atau masjid tersentak bangun, terganggu mimpinya. Atau yang tengah merenung di depan layar monitor dan berharap satu-dua kalimat indah terlontar, buyar konsentrasinya. Masing masing lalu menggerutu, meraih telepon pintarnya, lalu menulis satu-dua kalimat makian di twitter. Tentang betapa mengganggunya bising adzan di subuh hari. Di ujung kampung ada seorang gila. Terganggu jiwanya sejak istri dan anaknya menjadi korban dalam tragedi kemanusiaan. Setiap hari ia berkeliling kampung, menyeret kakinya. Bertahun tahun ia tak bersuara, hanya sesekali mengetuk pintu, yang dimahfumi semua orang kemudian memberinya makan. Matanya kosong, mengunyah dalam diam, berteduh kala hujan, begitu seterusnya. Hingga suatu hari ia berteriak seperti kesetanan. Dua jam tanpa jeda hingga terengah nafasnya. Ternyata yang diinginkannya selama ini sederhana saja. Kepala desa dan beberapa warga mengantar...

Menggugat Persepsi

Disclaimer: REPOST Kepada yang menghujani cecar kepada tertuduh. Kepada yang lelah untuk menyanggah.    Langkahnya terseok, meningkahi kucur merah dari lubang menganga di pangkal kakinya Sesekali ia mengeram, jatuh bersimpuh Darah masih mengalir, bertambah deras dari lubang telinga Liurnya menetes, merah juga warnanya, geraham bungsu hingga taring remuk semua Matanya mengerjap, terik matahari merangsek masuk Kali ini darah masih di sana, kepalanya tersayat delapan Nafasnya memburu, meregang nyawa Dicengkramnya lengan kirinya, melepuh bekas setrika Wenggini coba menghapus tattonya Pun tetap jua sepatu lars dan todongan senjata kejutkan pagi harinya Di sela nafas yang sepenggal sepenggal Tetes liur bercampur darah dari lidahnya yang dipotong Menggumam gumam tanpa suara “Aku takkan mengaku..”  *** Aku lupa, mungkin September tanggal tiga.  Saat puluhan berseragam menyesak di ruang tamu tanpa melepas sepatu.  Menjam...

Soal Wajar tak Wajar

Kawan baik saya semenjak SMA menikah, hari ini. Kami kawan baik yang kerap kali melewati masa susah senang bersama. Saya sangatlah turut berbahagia untuknya. Namun dengan sangat kurang ajarnya saya hanya singgah selama beberapa belas menit di resepsinya, dan menolak untuk berfoto bersama. Sungguh, saya meminta maaf untuk itu. Selamat menikah, Vina :) berbahagialah selamanya. Seperti biasa, setiap kali menyaksikan peristiwa yang porsinya cukup besar dalam hidup seseorang (perceraian, pernikahan, seorang dekat meninggal dunia), sisi mellow-dramatis saya akan muncul tak terkendali. Ditambah, mungkin ini sebabnya, saya mengajak mama sebagai plus one dalam resepsi itu, tak pelak pertanyaan paling tersohor dalam abad modern; "Kamu kapan nyusul?" Sekarang, di sela waktu siaran, saya menuliskan posting ini. Sekedar menegaskan betapa waktu sudah menjadi hal yang rancu untuk saya. Soal panjang dan pendek, pantas tak pantas, patut tak patut. Sebab saya dibesarkan dalam lingkun...