Cerpen: Taksi
Pria itu menyimpan dendam. Pekerjaan sebagai supir taksi di Jakarta membuatnya merasa perlu untuk menumpuk dendam. Sekian tahun ia bekerja dan daftar dendamnya kian panjang. Ia sepenuhnya tau, tidak ada yang salah dengan pekerjaannya. Tidak dengan jalan yang macet berjam jam. Tidak dengan penumpang penuh keluh yang membuat kupingnya jenuh berjam jam. Ia hanya kesal, dengan dirinya sendiri. Pria itu menaruh dendam pada dirinya sendiri. Tentang ia yang tak kunjung mengunjungi anak istrinya di kampung. Tentang ia yang tak mampu memberi alasan jelas mengapa kontrakannya tak kunjung dibayar. Hari itu matahari terbit lebih awal. Orang orang terbangun dan memulai rutinitas pagi, seperti biasa. Pria itu menguap panjang dan mengumpat kepada matahari. Kelambu berbau tembakau disingkapnya. Jalan jalan sempit, rumah rumah petak, anak anak kumuh. bau sampah menguar.. Ia mengeluh lebih banyak hari itu. Mengeluh atas matahari yang menyala terlalu panas. Mengeluh terhadap jalanan pagi yang lebih...