Posts

Showing posts from 2011

Resolusi 20

Image
taken from here Kali ini saya tidak memikirkan resolusi spesifik-lenjeh-dramatik seperti biasanya. Baik untuk tahun baru dan ulang tahun ke 20, sepuluh hari lagi. Bukan menjadi pesimis atas kemungkingan tidak terwujudnya resolusi itu, tapi lebih kepada saya sudah sangat cukup puas dengan apa yang saya punya sekarang.  Tapi tentu saja, pada dasarnya saya adalah Nani yang selalu berpengharapan sangat tinggi. Dan semoga berkekuatan cukup untuk mengejar harapan itu lebih giat lagi. Menghadapi usia 20, menuju kepala dua, menjadi ketakutan tersendiri buat saya. Saya yang belum mampu merendahkan suara dan tidak terlalu bersemangat saat menguntai cerita, belum mampu mengimbangi percakapan orang orang sekitar saya, belum menjadi apa apa... Sisi baiknya, saya berusia 20 tahun dan sekarang sudah di Jakarta. Memiliki pekerjaan yang (sepertinya) bisa menghidupi saya. Terlepas dari kausal terakhir, hey, saya di Jakarta! imajinasi terjauh sudah direngkuh, saya tidak punya banyak alas...

Politik

Ayahku tahanan politik. Usianya 39 tahun kala namanya muncul di media nasional. Di ulang tahunnya yang ke 40, ayahku dihukum mati. Kalimat terakhirnya yang kurekam adalah "Aku mati bukan karena politik, aku hanya kurang restu"  Ibu merupakan orang yang paling terpukul atas kematian ayah. Ia mengutuk politik yang telah menjadikannya janda. Politik adalah hal terbusuk yang pernah ada, ia menggerogoti setiap jiwa lalu membunuhnya dengan semena mena. Di mata ibu, politik berwujud serupa monster, mungkin zombie. Sebab zombie membunuh, memakan dan menggerogoti. Aku beranjak dewasa, keingintahuanku atas politik semakin besar. Bukan sebagai tataran zombie versi ibu, bukan pula dalam konteks pembunuh ayah. Aku ingin tahu mengapa poliyik begitu membius, hingga seorang pria tinggi besar dan berpendirian kuat seperti ayahku, terhasut. Di suatu senja, ibu berteriak senyaringnya "Jangan sakiti ibumu seperti ini. Cukup ayah yang dibawa pergi." tangisnya membanjir. Tapi aku tet...

Mereka Tidak Lagi Membaca Koran

"Kulihat di koran, orang orang saling membunuh" ujarnya, suatu pagi saat sepucuk koran kupungut dari halaman depan selepas dilempar dengan penuh emosi oleh pengantar koran yang sepertinya hari ini lagi lagi anaknya terancam tak makan. "Oh ya?" kubalas dengan tatapan biasa seperti biasa seperti pagi pagi biasa yang kami lewati dengan biasa di teras biasa tempat kami berbincang biasa sebelum akhirnya kami memutuskan untuk berkemas dan berangkat bekerja. Seperti biasa. Ia menepis tangannya sendiri, merebut koran dari genggamanku. Dibentangnya halaman pertama, aku berdesis, jijik. Dari dalam koran keluar darah, menetes netes merah kehitaman. Darah terus mengalir hingga menggenang di ubin teras kami yang berwarna abu abu. "Apa ini?!" Pekikku nyaring saat tangannya terus membolak balik halaman koran yang sempat kukepit itu. Darahnya terus mengalir, warnanya kian pekat, teras kami banjir darah. Aku menjerit naik ke atas kursi. Kupukul pukul lengannya yang dudu...

Perpindahan

Saya tidak pernah benar benar mengerti tentang konsep transformasi. Apa yang sesungguhnya telah berubah, atau diubah, atau setidaknya, yang dicoba untuk dirubah. Saya juga kesulitan memahami apakah saya benar benar telah mengalami fase perubahan. Setidaknya dangan banyak sekali resolusi dan harapan harapan untuk berubah, saya -seharusnya- sudah menjadi sesuatu yang lain. Tidak sepenuhnya menjadi asing. Tapi.. berubah .      Tapi jauh di dalam sana, saya merasa sama. Saya tetap menjadi individu yang tidak suka menjadi disukai. Menjadi orang yang tidak pandai berbicara. Saya tetap saya, hanya dalam wujud -ah ga juga, saya tetap sama seperti dulu. secara harfiah maupun analogi- dan sedikit gaya bicara.      Yang berubah hanyalah titik. Layaknya hukum fisika yang merangkum tentang teori teori perpindahan, maka saya mengalami itu. Saya berpindah. Dari titik A ke titik B.  Sesederhana itu.

Resensi Film: 3 Hati dua dunia, satu cinta

Image
taken from here “Dia cakep banget Cid, anaknya sopan lagi. Umi demen, tapi lu harus tau, dia beda sama kita…” Perbedaan menjadi tema besar dalam film garapan Benni Setiawan (Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku) berjudul 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta ini. Seakan menegaskan tema tersebut, film ini merangkum begitu banyak perbedaan sepanjang 98 menit. Mulai dari status sosial, agama, suku, hingga kesenjangan pendidikan membuat Rosid (Reza Rahardian) dan Delia (Laura Basuki) harus berjuang sekuatnya untuk memenangi hati orangtua masing masing. Mampukah? Meski memiliki tema yang cukup sensitif, film ini disajikan dengan ringan. Hadirnya lelucon segar yang disampaikan oleh beberapa cameo menggiring penonton untuk tidak mengerutkan kening untuk memahami drama yang dibangun. Sosok Abah dalam film ini akan mencuri banyak perhatian. Karakter yang begitu polos sekaligus tegas (walau pada akhirnya, luluh juga) berhasil mengingatkan penonton pada perjuangan seorang ayah untuk memast...

Moving

Saya akan pindah ke Jakarta. Bekerja sebagai publicist di sebuah production house. Yea, surprise! Sabtu siang saya tiba di Jakarta, bertemu dengan orang orang baik yang membuat saya batal berburuk sangka tentang ibukota. Kawan kawan lama yang hanya saya kenal di dunia maya. Saya yakin setiap makhluk hidup memiliki instingnya sendiri. Saya, berpendapat bahwa walaupun mereka belum pernah saya temui dalam absensi fisik, mereka orang orang baik. Dan selama di Jakarta, saya menemui simpulan bahwa pertemanan bukanlah soal intensitas hadir dan berbicara :D Eniwei, Minggu sore saya bertemu dengan pemilik production house dan kami berbicara banyak. Long story short, saya diterima dan mulai bekerja Senin depan. Di Jakarta. Hidup di Jakarta sudah masuk dalam bucket list saya sejak beberapa tahun lalu. Berbulan bulan belakangan saya semakin intens memikirkan probabilitas untuk hidup di Jakarta atau Bandung. Apapun, asal keluar dari kota kecil ini. Tidak ada yang salah dengan Sampit, tempat y...

Kepala Sang Demonstran

Rumah sakit itu tiba tiba terkenal. Seorang dokternya berhasil menemukan cara untuk melihat isi pikiran manusia. Dokter itu hanya perlu memenggal kepala orang yang sudah mati (atau yang masih hidup pun tak apa, kalau dia memang benar benar ingin dilihat isi pikirannya). Dokter itu kemudian menjadi sangat terkenal. Banyak kasus pembunuhan berantai dan perampokkan yang memakan nyawa bisa diselesaikan berkat tampilan gambar dari kepala korban. Apa yang dilakukan si dokter sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Banyak dukun dan jejampi kampung yang bisa melakukan hal serupa. membaca isi kepala orang. Tapi si dokter menjadi fenomena. Tentu saja, lantaran gelar dokternya, dan betapa mudahnya teori si dokter dicerna logika. Di negara itu, orang orang menjadi sangat paranoid dan ketakutan hingga tak mudah percaya pada apapun yang tak berbukti nyata. Ketenaran si dokter dengan cepat menyebar kemana mana. Si dokter kemudian dipekerjakan oleh negara untuk membantu polisi. Si dokter a...

Popor

Aku lupa, mungkin September tanggal tiga. Saat puluhan berseragam menyesak di ruang tamu tanpa melepas sepatu.  Menjamah sepenjuru rumah tanpa, menyeret orangtuaku dari kelambu. Itu tengah malam. Hari sabtu. Popor pertama menyentak tengkukku. Ngilu. Mereka berteriak soal aku dan konspirasi untuk menjatuhkan negara. Negara palsu. Popor kedua menghujam perut ayahku. Kali ini teriakan mereka pertanyakan keterlibatan ayahku dalam Kelompok Petani Berontak. Jawaban ayahku tidak menuai paham. Ibuku menjerit, seseorang menumbangkan tubuh ringkihnya. Kepala wanita itu diinjak sepatu sepatu lars hingga darah mengucur dari telinga. Popor ketiga menghantam pelipis kananku. Pandanganku buram, yang terlihat hanya samar wajah ayahku yang kesakitan saat bayonet mengiris kupingnya. “Kami bukan pemberontak. Kami keluarga petani..,” Kian pelan suara ayah. Daun telinganya berlumur darah. Selanjutnya tiada popor. Api menjilat ruang tamu. Aku tidak mengingat apa apa saat popor se...

Tentang Ayah

Saya rasa setiap perempuan tumbuh besar dengan melihat punggung ayahnya. Meraba dan mengkomparasi laki laki yang akan singgah di hidupnya dengan sang ayah. Sayapun demikian. Betapa ayah memiliki peranan besar dalam hidup saya :) Kala saya masih kanak kanak, ayah selalu menjadi  penyelamat   dari amukan ibu. Tidak ada yang salah dengan ibu saya, beliau layaknya seluruh ibu di seluruh dunia, yang sungguh pandai mendidik anak walaupun kadang sedikit keras. Ayah yang menghentikan tangisan saya saat ibu mencubit lantaran saya mangkir ngaji dan berangkat ke TK Al Quran. Ayah pula yang mengganti airmata dan bilur di tubuh saya dengan satu-dua buah arumanis, yang kemudian membuat saya batuk batuk, mengundang lagi amarah ibu :D Ayah yang tidak pernah marah, selalu mengajari saya tentang bersyukur. Bersyukur bahwa kami masih bisa makan, memiliki rumah dan tidak kedinginan. Ini meredam semua rengekan saya atas boneka  barbie   dan tas bergambar sailor moon yang kala itu d...

Social Media

Kadang, ada beberapa hal yang tidak laik untuk ditulis dalam sosial media. Pertama, karena terlalu personal. Sosial media adalah tempat di mana seorang asing bertemu dengan asing lainnya. Saat pertemanan menjadi semudah follow-add as friend-pin request, batasan antara hal hal pribadi sebaiknya dipertegas, antara dibagikan atau untuk konsumsi sendiri :) Kedua, some people just not giving a shit on it. Ketika seseorang asing di halaman facebook saya -oh well, saya tipikal orang yang sulit meng-ignore permintaan pertemanan- mengenai betapa ia menderita lantaran pacarnya tidak menelpon seharian, saya, seperti yang telah disebutkan di atas, not giving any shit on it. Pada akhirnya, sosial media menjadi tempat dengan setiap sudut berisi orang orang yang gemar memamerkan segalanya. Seni menelisik seseorang dengan menerka nerka apa makanan favortinya, siapa musisi kesukaannya menjadi hilang saat mengenal seseorang menjadi semudah membaca brosur membosankan di ruang tunggu rumah sakit. Atau...

Mari Bicara Tentang Inkonsistensi

So, I was back into twitter, yesterday. SIGH.

Dan Hidup (Harusnya) Berjalan Semudah Itu

Hujan turun seperti ditumpahkan dari bejana surga, tadi sore. Saya terjebak di jalan Ahmad Yani, menepi sambil sesekali menyeka tetesan air yang jatuh di kacamata. Gedung seberang, dipenuhi jejeran orang yang juga berteduh. Tidak jauh, anak anak bermain di kubangan air. Hujan masih mengguyur hingga setengah jam setelahnya. Wajah wajah dewasa di gedung seberang mulai mengerutkan kening sambil melirik ke arloji masing masing. Yang lain sibuk memainkan ponsel. Entah untuk membunuh waktu, atau sekedar mencari cara untuk tidak mati gaya. Kubangan air kian ramai, nyaris sepuluh anak memekik girang kala hujan kian deras. Setiap dewasa berwajah masam. Merutuk kecil pada hujan yang turun tiba tiba. Arloji lagi lagi dilirik. Ponsel mulai berdering, satu per satu mulai mengkalkulasi, meraba raba estimasi waktu. Akankah terlambat, masih sempatkah, penat sudah memuncak. Namun tak satupun beranjak dan menembus hujan. Saya tersenyum simpul dan membungkus laptop yang saya bawa dengan plastik putih pem...

Berapa Lama Kamu Harus Bermimpi?

Saya, selamanya.

I'm Recently in Love With

Image
*Jessie J - Who's Laughing Now* Mummy they call me names They wouldn’t let me play I’d run home, sit and cry almost everyday ‘Hey Jessica, you look like an alien With green skin you don’t fit in this playpen’ Well they pull my hair They took away my chair I keep it in and pretend that I didn’t care ‘Hey Jessica, you’re so funny You’ve got teeth just like Bugs bunny’ Oh, so you think you know me now Have you forgotten how You would make me feel When you drag my spirit down But thank you for the pain It made me raise my game And I’m still rising, I’m still rising Yeah So make your jokes Go for broke Blow your smoke You’re not alone But who’s laughing now But who’s laughing now Cos I’m in L.A You think I’ve made my fame If it makes us friends When you only really know my name ‘Oh Jessie, we knew you could make it I’ve got a track and I’d love you to take it’ So now because I’m signed You think my pockets lined 4 years now and I’m still waiting in the line ‘Oh Jessie, I saw you on you...

Life Change

I start my first day at work tomorrow :D sounds fun. Kabar lainnya, saya memulai usaha baru di rumah. Membuka percetakan kecil yang melayani pembuatan undangan-kartu nama dan pengetikan. Siapa tau ada yang butuh jasa saya, feel free to come into my house (Jl. Kopi Gg Pinang 2 no. 18) Senang rasanya menemukan progress seperti ini dalam kehidupan nyata. Setelah nyaris dua tahun saya tidak melakukan apa apa, memulai lagi rutinitas sepertinya bukan hal yang buruk. Siapa tau hasilnya cukup untuk bepergian di akhir tahun. Sekaligus memenuhi janji pada diri sendiri untuk memiliki hidup yang lebih baik. * halah, baru juga mulai usaha dua hari* Langkah selanjutnya setelah memulai usaha sendiri adalah kuliah. Setidaknya ini dulu cita cita saya. Saya terlibat diskusi menarik beberapa hari lalu, tentang mulai mencari tau apa yang saya mau. Menentukan cita cita dan mengejarnya. Itu saja yang harus dilakukan saat ini. Kebahagiaan akan menyusul kemudian, datang dengan sendirinya. Dan saya harus membo...

Senja Merah. 161-165

Image
Keberlaluan Ada tahun yang berlalu, ada udara yang mengalir pergi. Kini di sudut ruangan, ada seorang wanita tengah duduk di kursi malas. Kacamata baca masih menempel di wajahnya, matanya setengah terpejam, buku buku berserak di meja yang menganggur diam di sampingnya. Wanita itu setengah tertidur tapi kepalanya masih terus mengenang. Ada dua interval lima tahunan yang membuat jantungnya hampir meledak lantaran menunggu hasil pemilu. Hatinya kemudian mencelos lepas dari rongganya ketika tahu, presiden itu terpilih lagi. Untuk yang keempat, kelima, dan entah berapa kali lagi. 161 | S e n j a M e r a h Wajahnya kini dihiasi satu dua kerutan, matanya tak lagi awas. Usianya 42 tahun hari itu. Baginya, ulang tahun terasa seperti kokang senjata milik berseragam. Ia diingatkan, bahwa bertambah lagi satu tahun tanpa Sloan. Ia diperingatkan bahwa dirinya kian tua, pun dengan Sloan, pria yang terus ditunggunya sejak usia 19 tahun. Ada puluhan tahun yang ia lewatkan untuk menanti pria itu, dengan...

Pancasila Hilang Saktinya

Satu Oktober Pancasilaku tak lagi sakti Tuhan Esa diludahi intoleransi beragama Kemanusiaan di ujung senapan penguasa Persatuan atas dasar suku dan agama Kerakyatan yang dipimpin keprihatinan, permusyawaratan perwakilan pepat kepentingan Keadilan bagi segelintir kelompok pemenang. Pancasilaku hilang saktinya Menjerit ia dihujani lecehan penuh murka. Kembalilah menjadi sakti, Pancasilaku* *Tulisan di ambil dari blogpost tahun 2010 lalu, di sini

Perspektif

Image
Darimana simpulan didapat? Seperti apa perspektif terbentuk? Apakah betul betul berasal dari kesadaran diri, stimulasi berfikir dan yang sering disebut self conscious ? Bagaimana dengan pihak ketiga? vektor, perantara, lingkungan sekitar, pendapat orang lain, kecondongan berfikir, dan sejumlah kausal kausal lain yang mampu membentuk -bahkan mempengaruhi- sebuah sudut pandang dan simpulan? Dari sini saya belajar mengenai perspektif itu relatif. Selain relatif, saya belajar bahwa asumsi itu tidaklah murni berasal dari apa yang disebut sebagai self conscious . Postingan kali ini akan mengarah pada apa yang tengah saya amati belakangan ini. Indonesia rupanya tengah mengalami masalah pelik dengan terorisme dan radikalisme agama. Terakhir kabar, saya mendengar mengenai situs situs propagandis berbau agama yang tengah marak dan akan diblokir oleh keminfo. Sejak awal penciptaannya hingga masa manusia yang berada di era paleotikum percaya bahwa tuhan adalah api, petir, air, bahkan pohon dan bat...

Separates

Saya tengah betul betul merindukan moral support dalam wujud pukpuk di kepala dan kawan berbicara dalam bentuk nyata. Satu dua masalah tengah singgah pada saya dan juga keluarga. Kakak sedang dalam masalah dan saya merupakan yang paling sibuk mempersiapkan segala kebutuhan beliau. Kakak memerlukan dukungan besar dan rasanya tenaga saya habis untuk menjadi penyemangat beliau. Semoga masalah ini cepat selesai. Agak sedih rasanya menemukan ruang tengah selalu dipenuhi argumen dan pekikan sesekali. Kemudian, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa naskah novel Senja Merah tidak kunjung mendapat tanggapan resmi. Dalam postingan sebelumnya, saya menulis bahwa Senja Merah ditanggapi oleh Media Kalimantan, namun tanggapan itu baru sebatas pemberitahuan seorang kawan bahwa penerbit yang bersangkutan menganggap naskah saya menarik. Belum ada kelanjutan. Rasanya seperti terus berdebar debar dan kehabisan tenaga. Dua hal di atas menguras energi saya hingga batas maksimal. Hanya pada saat seperti ini,...

Dawn

Terbangun di subuh hari selalu membuat saya gelisah. Gelisah ingin tidur lagi, dan gelisah terhadap terlalu banyak hal yang saya pikirkan. Kebiasaan lama, mengawang-menerawang membiarkan banyak hal mengisi kepala. Baik nyata maupun harapan. Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kabar bahwa novel Senja Merah yang saya tulis mendapat tanggapan dari Media Kalimantan, sebuah koran sekaligus (penerbit?) yang ada di Banjarmasin. Kabar ini, yang paling banyak mengisi subuh-mengawang awang saya :D Membayangkan kelak, saya bisa memperkenalkan diri sebagai penulis dengan tulisan yang dikaryakan kepada orang orang baru. Atau, mengatakan pada tuan hujan bahwa saya menulis buku, yang menurutnya; "Penulis itu hebat. Menuangkan isi pikiran dalam bentuk lisan tuh susah, apalagi menulisnya" Lagi, saya suka menya menye sendiri akhir akhir ini. Berkat postingan sebelumnya, saya sukses menyerahkan diri dalam dekapan kenangan. Membuai, menenangkan dan rasanya nyaman. Menjebak. Harus menghentikan...

Settle Down

Image
Saya dipaksa kakak untuk memfoto dan mengedit foto anak beliau, beberapa hari yang lalu. Baru selesai tadi siang, foto foto ini, membuat saya sedikit banyak berfikir tentang masa depan. Meski saya tau masih terlalu jauh untuk saya memikirkan kehidupan berumah tangga di usia yang bahkan belum kepala dua. Saya mencoba untuk membayangkan seperti apa saya sepuluh, duapuluh tahun mendatang. Alih alih mendapat gambaran samar tentang seorang suami dan satu-dua anak gembul yang lucu lucu, saya malah membayangkan diri saya tengah duduk di suatu taman di Austria, sendirian. Dengan tas besar di samping saya. Saya bukan bermaksud ingin menghabiskan umur dengan menjadi backpacker dan tidak membangun apa yang orang sebut sebagai tujuan hidup bagi setiap perempuan di seluruh dunia. Menikah. Saya sendiri gagal menemukan alasan kenapa menikah harus disebut sebagai tujuan akhir sementara di sisi lain pernikahan justru membawa banyak 'masalah' baru dan bukan sesuatu yang bisa disebut sebagai ...

Repost : Telepon Tuhan

Sore itu kuseduh segelas kopi. Kuaduk pelan dan kusesap aromanya beberapa saat. Harum, kalau ini sebangsa teh, pastilah namanya teh poci atau teh melati. Kulirik bungkusnya, tanpa nama, putih keabuan tanpa marka. Kuangkat bahu sepintas, tak penting apa namanya, yang penting aku tau ini kopi. Sebentar, darimana aku bisa tahu bahwa yang sedang kusesap baunya ini adalah kopi? Karena warnanya hitam pekatkah? Ah, aspal juga warnanya hitam. Oli juga, air got, dan berputarlah nama nama cairan berwarna hitam di kepalaku. Sendok kecil masih berdenting sesekali saat berbentur dengan dinding gelas. Kuletakkan gelas berisi kopi (atau sesuatu –apapun itu-yang kuanggap sebagai kopi) di atas meja dekat telepon. Berseberang dengan meja kecil bermahkota telepon, ada televisi, tengah menyala. Suaranya pelan, kumatikan sekalian. Kulirik telepon bertombol belasan itu. Kopi masih mengepul, urung kuminum. Gagang telepon berderit gaung, gegas kupencet beberapa digit nomor. Tut.. tut.. “Halo,” aku bersuara...