Posts

Showing posts with the label Review

My 15 Most Inspiring Authors

Image
Kena tagnya di Path, nulisnya di sini karena for the glory of satan, of course. 1. Seno Gumira Ajidharma Kebiasaan membaca buku dimulai dari Enyd Bylton dan R.L Stine. Nani SD adalah pengunjung taman bacaan Pondok Rukun yang kerap menyewa buku buku Lima Sekawan dan Goosebumps. Disertai Lupus, Reuni Para Hantu hingga komik komik Jepang. Saat SMP ketika semua orang membaca teenlit yang tengah populer populernya saat itu, saya membaca Agatha Christie dan roman roman abad pertengahan (Jane Austen, Sandra Brown dkk). Mungkin ini sebabnya referensi romantisme saya sedemikian bebal hahaha. Seno Gumira adalah temuan di saat SMA sebenarnya. Bosan dengan gaya bahasa terjemahan buku buku luar saya mulai mencari penulis penulis dalam negeri yang bukunya bertebar di Lapak Tualang milik seorang kawan di Bandung. Dimulai dari membaca satu-dua cerpennya yang bertemakan Petrus lalu merambah ke Wesanggini dan Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian. Buku Saksi Mata yang mengangkat...

Catatan Sampit

Image
Berjanji kepada calon warga kota Sampit @RizmaNurani untuk menulis soal Sampit. Saya kesulitan mengumpulkan tulisan2 lama lantaran tidak begitu banyak menjabarkan kota ini. Ini akan menjadi posting soal kota Sampit, semoga Risma betah membacanya ^^ Sampit merupakan ibukota kabupaten. Nama kabupatennya sendiri adalah Kotawaringin Timur yang terdiri dari 15 kecamatan. Bertetangga dengan kabupaten Seruyan (Kuala Pembuang), Katingan, dan Kotawaringin Barat (pangkalanbun) Yang saat ini sedang ramai adalah upaya pembentukan provinsi bernama Kotawaringin yang akan menggabungkan lima kabupaten2 di atas. Prosesnya sudah masuk tahap pengajuan rekomendasi ke Mahkamah Konstitusi. Jadi, Sampit adalah sebutan untuk sebuah kota kecil yang terdiri dari 2 kecamatan (Baamang dan Ketapang) dan tidak terlalu luas. Yang luas adalah kabupaten Kotim-nya, bukan Sampit-nya. Di Sampit, lantmi dan pemerintahan ada di kota ini. Ada dua terminal, satu bandara, dua pelabuhan besar dan banyak seka...

Logika Rasa

Image
Saya lupa mereview tulisan ini. Eniwei awal bulan silam saya mengkontribusikan tulisan alakadarnya untuk zine Suketteki yang terbit fisik di kota Malang. Yang berada di kota itu monggo disabet zinenya, gratisan ini. Disusun oleh Eko Marjani dan Hangga Rachman, dua penggagas scene alternatif Malang yang namanya udah malang melintang itu (sumpah saya ga kreatif banget hari ini) menjadikan Suketteki sebuah zine yang ga ada hubungannya dengan Jepang sama sekali. Suket teki kali ya, pepatah jawa soal gajah yang tertimbun rumput teki itu. Eniwei saya menulis ini; L o g i k a Rasa                               Rusnani Anwar | @polariaaa Tidak semestinya perkara rasa dijabarkan melalui logika. Demikian yang saya dengar dari kicauan tweet seorang pesohor akademik. Diam diam saya mengamini. Tidak selayaknya sesuatu yang definisinya saja tidak jelas ditempatkan dalam logika jika A adalah B maka B adalah ...

Featured : Zine Late For School #3

Image
Penampakan LFs #3 setelah difisikkan Beberapa waktu lalu saya menemukan Late for School melalui twitter. Kini, sebulan berselang merekapun merilis edisi ketiga. Yang dibahas edisi kali ini adalah curhatan galaw para editor pemilukada yang bakal digelar 2014 kelak. Edisi #3 mengandeng beberapa kontributor yang cukup untuk mem- boost halaman hingga berjumlah delapan.  Tak seperti edisi sudah sudah, kali ini mereka sengaja merilis dalam versi .pdf printable. Jadi, kalau dibaca via .pdf, lumayan njelimet. Versi fisik akan segera beredar di Bloodshine Merch Jl. Ki Hajar Dewantara depan SMKN PGRI. Atau download di sini Saya mendapat kehormatan untuk turut menulis dalam zine ini. Click to enlarge Paradigma Kebebasan Kotak Suara /Sejak awal, pemilihan umum adalah akumulasi lawak sarat/ dimana birokrat, tengkulak, cukong dan militer bersejawat/ Konon, kita telah memasuki masa modern. Di mana demos dan kratos sudah diterapkan pada nyaris seluruh belahan dunia. Demo...

Sampit Berisik Present ; Silent Scream

Image
"Nama acara ini tuh apa ya?" Saya tak sengaja melontarkan pertanyaan ini kepada salah seorang pembesut kegiatan, Mas Edy, saat acara setengah berjalan. Pasalnya, saya mendapat rantaian pesan singkat yang menyebut Sampit Berisik namun kemudian menemukan backdrop panggung berbuyi Silent Scream. Beliau tertawa dan bilang kalau ini (belum) Sampit Berisik, namanya Silent Scream. Gig kecil sebelum nanti digelar Sampit Berisik yang lebih besar. Dan konon akan mengundang nama besar dalam skema blackmetal indonesia. ihiy. Maka begitulah, sebuah gig yang diprakarsai (Mas Agus yang resmi membuka Bloodshine Merch malam itu), Mas Edi, Padung Hitam dan komunitas metalcore Sampit berlangsung sejak pukul setengah delapan malam di halaman gedung KNPI. Saya datang bersama kru dari zine Late for School yang mengemban tugas mulia : untuk membagikan sekurangnya 50 pcs zine laknat itu kepada kawan kawan luar daerah. Yang kemudian habis dalam hitungan menit. Soalnya dikit. Hahahaha. ...

Review : Zine Sampit Bernama Late For School

Image
Jadi begini, saya sesungguhnya berniat buat kalem dan mereview zine ini seanggun mungkin. Namun maafkanlah, saya jejeritan -tertahan- dari dalam kubikal tempat segala kemuliaan internet berasal berkat 7 halaman zine ini. Late For School saya terima tadi malam, edisi kedua. Terkutuklah yang membuat saya tak lagi mampu mendeteksi perkembangan perindiean Sampit. Terlepas dari itu, zine ini mengingatkan saya pada dua zine favorit saya saat ini; Apokalips dan Paperzine. Edisi Pertama Late For School Apalagi kalau bukan rentetan kalimat anti-kapitalis, profil Homicide dan gaya bahasa Late For School yang mengingatkan saya pada dua zine di atas. Meski baru dua edisi, senang rasanya bisa membaca tulisan tulisan seperti ini dengan lingkup bahasan yang lebih lokal. Seperti kondisi jalanan Bagendang, misalnya. Atau sekutip dua kutip kalimat berbahasa Sampit serta review musik mereka yang cukup menarik. Zine ini layak mendapat wadah dan kesempatan untuk diterbitkan secara fisik. Follo...

Miss Havisham, or Should I Call You Eleanor Rigby?

Image
Google, what else did you expect? Menemukan novel ini berkat lagu the Beatles - Eleanor Rigby. Seperti yang saya tulis di sini , bisa jadi inilah lagu milik beatles yang paling saya suka. Lagu tentang orang orang yang kesepian. Apa yang lebih sepi dari duduk diam dan tidak berbicara kepada siapapun selama 40 tahun? Ms. Havisham adalah perempuan yang mewarisi seluruh harta ayahnya -seorang earl- dan ibunya meninggal saat ia masih bayi. Tanpa saudara, Ms. Havisham menghabiskan masa mudanya di kastil ( catatan; setting di tahun 1891 ) dan akhirnya jatuh cinta pada Compeyson (Compassion?) pria yang mengejar hartanya. Kerabatnya sudah memperingatkan perempuan muda itu soal Compeyson. Tapi namanya cinta, Ms. Havisham keukeh dan akhirnya ditinggalkan di altar. Dua puluh menit sebelum pukul sembilan, pernikahannya. Patah hati, Ms. Havisham mengurung diri di dalam kastilnya, mematikan semua jam dan duduk di sebuah kursi di depan perapian hingga tua tanpa melepas gaun dan keru...

Teman Terbaik Sepanjang Tahun

Image
Menjelang akhir tahun, seperti biasa resolusi saya tahan hingga ulang tahun di Januari nanti. Namun semangat untuk ikut menikmati euforia menjelang akhir tahun turut melingkupi saya. Semacam kaleidoskop -sebab saya tak bisa membuat mixtape- terkait lagu lagu favorit di tahun ini terluncurlah. Beserta sedikit ulasan yang keseluruhannya berdasarkan pada alasan melankoli. Enjoy~ 1. Radiohead - No Suprises Waktu itu Januari, Cipete tengah malam. Menyelesaikan download untuk album rilisan 1997 ini. Skip setelah seperempat lagu menuju lagu selanjutnya, selanjutnya, lalu "Eh, ini yang jadi opening song House season 6!" lalu dicopy ke dalam mp3 player, dan bertahan hingga sekarang. Sesekali didengarkan saat dalam perjalanan pulang siaran, menuju magrib. 2. The Doors - People Are Strange Seorang kawan di twitter memposting lagu ini akhir Januari. Merasa punya koleksi the Doors dalam HDD, menemukan judulnya dan memutarnya setengah jalan. Lalu bersemayam dalam pera...

Mengupas "Atheis" Achdiat K. Mihardja

Image
Disclaimer: Penulis adalah pembaca amatir, pengulas amatir, dan pengamat sastra amatir. Satu satunya yang profesional dari Penulis adalah makan rendang tanpa banyak mengunyah. Yang saya kagumi saat membaca roman ini ialah kepandaian penulisnya dalam menjalin kata hingga pemaparan mengenai komunisme menjadi mudah dicerna. Tokoh bernama Hasan nampaknya sengaja dibuat agar berkarakter "mudah" dan gamang. Kiranya dengan sifat demikian, penggunaan sudut pandang orang pertama tunggal tetap mampu mengcover dua ideologi serba bertentangan. Komunisme dan kapitalisme, sosialisme dan anarkisme, atheis dan theis, modern dan mistik. Maka Hasan, menceritakan hidupnya dengan alur yang runut. Tentang jiwanya yang semula kukuh perlahan menjadi goyang dan akhirnya runtuh (ditandai saat ia pulang ke Panyeredan dan menyatakan bahwa ia ingin mengambil jalannya sendiri) lalu menjadi kukuh kembali saat dirinya menjemput maut. Tidak berimbangnya antara tokoh yang menganut paham mistik, ...

Japan Porn and A Slightly Annoying Explanations

Image
Gambar nemu di google Keinginan untuk merilis postingan semacam ini bermula dari seorang teman yang melayangkan sebuah link ke messenger saya. Adalah sebuah situs hentai yang nampaknya luput dari upaya pemblokiran kemkominfo dan masih bisa diakses dengan mudahnya. Di ujung video saya hanya mengumpat dan bersegera membalas pesannya. "That was the kinkiest, worst hentai that I've ever watch!" dan kami tertawa panjang. Iya, saya mungkin terkesan seperti maniak yang gemar membahas hal hal mesum di media sosial. Tapi sungguh, ini kali pertama saya menonton hal tersebut dan gelisah lantaran tak tau harus menunjukkan ekspresi semacam apa. Kalau pernah nonton Two Girls One Cup, ini tuh lebih njijiki. Entah kenapa saya masih berkawan dengannya. Yang menarik perhatian saya adalah, nyaris di setiap JAV dan hentai yang bersebar tersebut, pemeran wanita selalu dalam keadaan dipaksa melakukan seks. Teriakan dan tangisan mendominasi satu sesi video. Terasa aneh, sekinky ituka...

Yang Sampai dan Tidak dalam Kebersampaian dan Ketidaksampaian

Image
Tadinya berniat untuk menulis sedikit review tentang pementasan teater Nabi Darurat Rasul Ad Hoc yang diglar di Gedung Kesenian Jakarta tadi malam. Tapi saya kehabisan kalimat untuk dituliskan. Tak berhasil pula menyaripatikan meski sudah sepanjang jalan pulang saya pikirkan. Jadi ya sudahlah, tinimbang saya berputar putar dalam bahasa sederhana yang nyaris tak memiliki makna, maka saya simpulkan bahwa pementasan teater yang naskahnya ditulis Emha Ainun Nadjib itu luar biasa. Mengapa? entahlah, ini kali pertama saya menonton pertunjukan seni dalam skala 'serius' (dalam artian tidak ada properti asal jadi dan pemain yang berulang kali keselimpet membaca naskah) sebagai yang pernah membaca tulisan2 cak nun dan dua tiga kali menghadiri kenduri cinta, saya terkagum dengan visualisasi dalam bentuk teater ini.  Sisanya, mungkin berupa senyum lebar saya yang susah pergi hingga menjelang pagi lantaran untuk pertama kalinya saya menonton Letto secara langsung. #EAAAA #GrupisMurtad p...