Posts

Showing posts from September, 2011

Perspektif

Image
Darimana simpulan didapat? Seperti apa perspektif terbentuk? Apakah betul betul berasal dari kesadaran diri, stimulasi berfikir dan yang sering disebut self conscious ? Bagaimana dengan pihak ketiga? vektor, perantara, lingkungan sekitar, pendapat orang lain, kecondongan berfikir, dan sejumlah kausal kausal lain yang mampu membentuk -bahkan mempengaruhi- sebuah sudut pandang dan simpulan? Dari sini saya belajar mengenai perspektif itu relatif. Selain relatif, saya belajar bahwa asumsi itu tidaklah murni berasal dari apa yang disebut sebagai self conscious . Postingan kali ini akan mengarah pada apa yang tengah saya amati belakangan ini. Indonesia rupanya tengah mengalami masalah pelik dengan terorisme dan radikalisme agama. Terakhir kabar, saya mendengar mengenai situs situs propagandis berbau agama yang tengah marak dan akan diblokir oleh keminfo. Sejak awal penciptaannya hingga masa manusia yang berada di era paleotikum percaya bahwa tuhan adalah api, petir, air, bahkan pohon dan bat...

Separates

Saya tengah betul betul merindukan moral support dalam wujud pukpuk di kepala dan kawan berbicara dalam bentuk nyata. Satu dua masalah tengah singgah pada saya dan juga keluarga. Kakak sedang dalam masalah dan saya merupakan yang paling sibuk mempersiapkan segala kebutuhan beliau. Kakak memerlukan dukungan besar dan rasanya tenaga saya habis untuk menjadi penyemangat beliau. Semoga masalah ini cepat selesai. Agak sedih rasanya menemukan ruang tengah selalu dipenuhi argumen dan pekikan sesekali. Kemudian, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa naskah novel Senja Merah tidak kunjung mendapat tanggapan resmi. Dalam postingan sebelumnya, saya menulis bahwa Senja Merah ditanggapi oleh Media Kalimantan, namun tanggapan itu baru sebatas pemberitahuan seorang kawan bahwa penerbit yang bersangkutan menganggap naskah saya menarik. Belum ada kelanjutan. Rasanya seperti terus berdebar debar dan kehabisan tenaga. Dua hal di atas menguras energi saya hingga batas maksimal. Hanya pada saat seperti ini,...

Dawn

Terbangun di subuh hari selalu membuat saya gelisah. Gelisah ingin tidur lagi, dan gelisah terhadap terlalu banyak hal yang saya pikirkan. Kebiasaan lama, mengawang-menerawang membiarkan banyak hal mengisi kepala. Baik nyata maupun harapan. Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kabar bahwa novel Senja Merah yang saya tulis mendapat tanggapan dari Media Kalimantan, sebuah koran sekaligus (penerbit?) yang ada di Banjarmasin. Kabar ini, yang paling banyak mengisi subuh-mengawang awang saya :D Membayangkan kelak, saya bisa memperkenalkan diri sebagai penulis dengan tulisan yang dikaryakan kepada orang orang baru. Atau, mengatakan pada tuan hujan bahwa saya menulis buku, yang menurutnya; "Penulis itu hebat. Menuangkan isi pikiran dalam bentuk lisan tuh susah, apalagi menulisnya" Lagi, saya suka menya menye sendiri akhir akhir ini. Berkat postingan sebelumnya, saya sukses menyerahkan diri dalam dekapan kenangan. Membuai, menenangkan dan rasanya nyaman. Menjebak. Harus menghentikan...

Settle Down

Image
Saya dipaksa kakak untuk memfoto dan mengedit foto anak beliau, beberapa hari yang lalu. Baru selesai tadi siang, foto foto ini, membuat saya sedikit banyak berfikir tentang masa depan. Meski saya tau masih terlalu jauh untuk saya memikirkan kehidupan berumah tangga di usia yang bahkan belum kepala dua. Saya mencoba untuk membayangkan seperti apa saya sepuluh, duapuluh tahun mendatang. Alih alih mendapat gambaran samar tentang seorang suami dan satu-dua anak gembul yang lucu lucu, saya malah membayangkan diri saya tengah duduk di suatu taman di Austria, sendirian. Dengan tas besar di samping saya. Saya bukan bermaksud ingin menghabiskan umur dengan menjadi backpacker dan tidak membangun apa yang orang sebut sebagai tujuan hidup bagi setiap perempuan di seluruh dunia. Menikah. Saya sendiri gagal menemukan alasan kenapa menikah harus disebut sebagai tujuan akhir sementara di sisi lain pernikahan justru membawa banyak 'masalah' baru dan bukan sesuatu yang bisa disebut sebagai ...

Repost : Telepon Tuhan

Sore itu kuseduh segelas kopi. Kuaduk pelan dan kusesap aromanya beberapa saat. Harum, kalau ini sebangsa teh, pastilah namanya teh poci atau teh melati. Kulirik bungkusnya, tanpa nama, putih keabuan tanpa marka. Kuangkat bahu sepintas, tak penting apa namanya, yang penting aku tau ini kopi. Sebentar, darimana aku bisa tahu bahwa yang sedang kusesap baunya ini adalah kopi? Karena warnanya hitam pekatkah? Ah, aspal juga warnanya hitam. Oli juga, air got, dan berputarlah nama nama cairan berwarna hitam di kepalaku. Sendok kecil masih berdenting sesekali saat berbentur dengan dinding gelas. Kuletakkan gelas berisi kopi (atau sesuatu –apapun itu-yang kuanggap sebagai kopi) di atas meja dekat telepon. Berseberang dengan meja kecil bermahkota telepon, ada televisi, tengah menyala. Suaranya pelan, kumatikan sekalian. Kulirik telepon bertombol belasan itu. Kopi masih mengepul, urung kuminum. Gagang telepon berderit gaung, gegas kupencet beberapa digit nomor. Tut.. tut.. “Halo,” aku bersuara...

Hello

Life been so good so far. Saya sudah mengembalikan ritme hidup seperti semula, sebagai pengangguran purna waktu. Nothing beats the smell of late-noon sunshine after a long-comfy sleep. Saya juga tengah menimbang nimbang untuk ikut ke kampung abah Oktober ini. Selama sebulan. Menimbang nimbang, lantaran jika saya ikut, ini artinya saya berada dalam kondisi tanpa sinyal ponsel, tanpa sinyal internet dan tanpa listrik di malam hari. Kampung abah terletak di Dusun Seberang, Desa Namun, Kecamatan Jaro, Kabupaten Tanjung, Provinsi Kalimantan Selatan. dan saya berkali kali menghela nafas saat mengetahui tempat itu bernama 'dusun'. Iya, ayahku orang dusun. Mau apa heh?! Dan listrik hanya menyala sampai pukul lima sore yang listriknya bersumber dari PLTD sederhana dekat kantor desa. Kalau malam gelap gulita kecuali satu-dua rumah pemilik tanah yang memiliki harta berlebih untuk membeli bensin untuk menyalakan genset. Dan harga bensin di sana nyaris sepuluh ribu per liter lantaran tempat...

September

Saya selalu suka akhir tahun. Sekarang sudah September. Selamat datang hari hari mendung dan cuaca sejuk :D September menjadi semacam pemisah antara musim kering dan musim basah. Selain itu, akhir tahun menyajikan banyak keriangan untuk saya nikmati. Lebaran, ulang tahun kawan kawan baik, event event yang digarap radiopun biasanya memuncak di akhir tahun xD Dan tentu saja, tahun baru hingga kemudian finalnya ulang tahun saya di 10 Januari. Saya memiliki banyak janji di tahun ini. Janji kepada orang lain dan juga diri sendiri. Self proclaimed bahwa saya akan menghilangkan semua cita cita jika nanti menginjak usia 20, janji untuk memberikan kehidupan yang lebih layak untuk saya dan orang tua. Dan janji, untuk melupakan segalanya di belakang dan menseriusi kehidupan :D Bulan bulan hujan di akhir tahun merupakan saat paling sempurna untuk kembali membenahi, memilah dan pelan pelan menjalankan kumpulan janji itu. Doakan sajalah, semoga beberapa hutang atas resolusi tahun tahun b...