Sore itu aku teringat, sepotong senja merah Yang berpendar, sesekali berkeriap, angin terbangkan awan kecil Seperti gulali Sepuluh tahun lalu, ya, ya, sepuluh tahun lalu Aku masih kanak kanak dengan sepatu kuning bergambar kartun Kala peluru berdesing, pria berparang berlarian, darah tumpah Di pelabuhan Ya, ya, sepuluh tahun lewat Saat badan badan tunakepala Dibuang ke tepian sungai Amis menguar ke udara Laki laki berseragam, sibuk berbalas tembak Dengan senjata rakitan dan tebasan parang Sesekali, asap pekat mengepul di sudut sudut kota Sesekali, tubuh tumbang bersimbah darah Kadang berlubang, kadang terpenggal Nafas Ayah tersengal, digendongnya aku Puluhan berparang Menyentakku dari gendongan, berteriak teriak Uluh itah kia, uluh itah kia *, disoraikan ayah Burung burung elang* Berputar putar, magis Ya, ya, sepuluh tahun lewat Dan aku masih sulit terlelap Di Minggu senja merah *Uluh itah kia : Bahasa Dayak Ngaju, artinya “Orang kita juga” *Burung Elang yang berputar putar di atas rum...