Posts

Showing posts from October, 2010

I'm Barely Bare Because of Bored

Image
Ga tau juga kenapa bikin judul postingan kaya gitu. Kalo disingkat jadi IBBBB noh (err.. so?) Saya bosenbosenbosenbosenbosenbosen! Film the Social Network premiere bentar lagi. Pengen nonton -_- Pengen nontooonnnnnnnnnn! Ehm. Ini lebay. Let see my newest picture. Taken on Kamar Hitam. With a bunch of light and few hatred. Ah.. Saya memang cantik! :P

Petrus

Ayahku digiring melalui pasar dan selokan Bau amis menyengat di setiap langkahnya menuju pengadilan Ayah tak dibela, ayah tak punya daya upaya Babak belur ayah dihakimi massa, Diseret tubuh rentanya menuju penjara Ayahku mencuri Seekor ayam milik tetangga Alasannya sederhana, ayah tak lagi bisa bekerja Tubuhnya sudah renta Negara ini terlalu buta untuk mengasihaninya Demi aku agar tak lagi mengeluhkan lapar padanya Maka ayah berdarah-darah kakinya terinjak beling di belakang kandang ayam tetangga Bukan ayam bangkok, pejantan atau bekisar yang mahal harganya Hanya ayam buras biasa, putih warnanya Ditenteng ayah menengahi adzan subuh yang mulai bergema Kami senang, emak memasak dengan riang, ayah ke mushola menghadap tuhan Di subuh buta pula ayah dihajar masa, darah dikakinya berlipat banyaknya ... Ayah telah pulang dari penjara 3 tahun lamanya Beliau tak berubah, tetap sayang padaku Hanya saja tubuhnya telah dirajah paksa oleh sipir penjara DS 1098 NK tercetak di lengannya Ayah bilang i...

Sajak Tiga

Aku Datang Menjelang, Mencentang Gamang, Lalu Perlahan Menghilang… Berdiri Disini. Merentang Sepi, Lantas Pergi Tak Berperi. Menjadi Ada, Mengemban Tiada. Ada Aku Ingin Jadi Tiada. Bertuak Asa Mencandu Rasa. Kamu Bagai Heroin Raksasa. Direntas Kabut Menyulam Kalut Tak Payah Kau Kusebut. Mencinta Gelap Mencerca Terang Lama Pengap Kau Tak Juga Hilang. Menyusup Angin Gerogoti Dingin Hilang Peluh Kusibak Ingin. Menjadi Aku. Menjadi Ada. Menyusup Angin. Ada Aku Menjadi Angin. Rusnani Anwar, sebuah sore, suatu Sabtu.

Silogisme

Dunia kita terbagi atas tatanan benar salah. Atas simpulan pragmatis dengan dogma dosa-pahala Atas destinasi surga neraka. Dengan doktrin hitam putih. Berkebalikan, berkesimpulan. Nilai-nilai moral yang di junjung adalah dengan menjadi sama maka manusia akan bahagia dunia akhirat Dengan tertata maka dunia akan damai sentosa Dengan menata maka akan ada seorang pemimpin yang berkelayakan untuk mengatur kita semua Lalu dibangunlah sebuah negara dengan konstitusi luar biasa Dengan undang-undang dan pasal-pasalnya. Menjadi putih berarti warga yang baik, Menjadi hitam berarti sebuah penyangkalan atas konkritas suatu tatanan sempurna Berkebalikan, berkesimpulan. Lalu bagaimana yang dengan yang mendobrak batasan dan memilih tidak menjadi apa-apa? Menjadi abu-abu misalnya. Bauran warna dari solidnya hitam-putih Atau menjadi banci misalnya Probabilitas opsi lain atas doktrin pria-wanita Salah? Bagaimana bisa. Ia bauran dari dosa dan pahala. Jadi, yang manakah kita? Rusnani Anwar, dalam sebuah ke...

Cruelty

Image
Saya, menghabiskan banyak waktu untuk membaca jejak sejarah Indonesia yang berdarah. Satu dari sekian tetes darah yang tercetak menjadi jejak itu adalah Insiden Dili. Pemerintah mencoba memperhalus perbahasaannya menjadi Insiden. However, universe already know it as Butchered. Pembantaian Dili. Ini yang saya temukan dalam buku Saksi Mata milik Seno Gumira : Kalimat ini, ada di dalam cerpen Kepala di Pagar Da Silva. Saya jadi berimajinasi. Mereka reka, apa ini nyata atau hanya fiksi -layaknya kebanyakan cerpen- Atau, memang ada semacam kekejian seperti itu di masa lalu. Membaca ini, saya jadi teringat kala kerusuhan Sampit, 2001 silam. Berdesakkan dalam bak truk, samar saya melihat di perempatan jalan Tidar-Cilikriwut, mayat tanpa kepala, disandarkan ke drum di tengah jalan. Tempat dimana kepala seharusnya berada di ganti dengan bantal. Dan mayat tanpa kepala itu, dilucuti bajunya, digambari dengan torehan pisau. Dan dipertontonkan. Saya sama sekali tidak mengerti konsep berpikir macam ...

Diam

Langkahnya terseok, meningkahi kucur merah dari lubang menganga di pangkal kakinya Sesekali ia mengeram, jatuh bersimpuh Darah masih mengalir, bertambah deras dari lubang telinga Liurnya menetes, merah juga warnanya, geraham bungsu hingga taring remuk semua Matanya mengerjap, terik matahari merangsek masuk Kali ini darah masih di sana, kepalanya tersayat delapan Nafas memburu, meregang nyawa Dicengkramnya lengan kiri, melepuh bekas setrika Wenggini coba menghapus tattonya Pun tetap jua sepatu lars dan todongan senjata kejutkan pagi Di sela nafas yang sepenggal sepenggal Tetes liur bercampur darah dari lidahnya yang dipotong Menggumam gumam tanpa suara “Aku takkan mengaku..” Rusnani Anwar, dalam lesakkan insiden dili milik Seno Gumira

Ke-Benar-an

Betapa sulitnya kebenaran tegak di negeri ini Pemimpin pemimpin lalim silih berganti Berserabut menutupi Lalim pemimpin sebelumnya Betapa sulitnya mencari pembenaran di negeri ini Atas tangis para ibu yang kehilangan anak lelakinya Atas tangis para istri yang ditinggal mati suami Betapa sulitnya sampaikan kebenaran di negeri ini Terlampau lama tuli, terlampau lama mengidap penyakit hati Dengus mendengus, ludah meludah pada onggokan kalimat kebenaran, dikebiri Betapa sulitnya menjadi benar di negeri ini Terpapar peluru Tertikam sangkur tak bertuan Tercekat racun Mati Rusnani Anwar, dalam sebuah resah atas ketiadaan adil dalam peringatan kematian Munir.

Medan Perang Terasa Menjemukan

Ada kalanya, ketika kematian menjadi semacam lelucon. Mayat mayat tak bernyawa menjadi semacam mainan. Ada kalanya, kematian menjadi semacam guyon Beberapa mengencingi malaikat maut Padanya ditunjukkan seringai kebal senjata Ada kalanya, tubuh tubuh kaku berserak Lemas dan perlahan disetubuhi Tertawa tawa, meningkahi sorai bersenjata Pesing desing mesin Jepang Gagahi langit subuh buta Pun terdengar juga, sayup adzan Mayat mayat tak bernyawa Dicabik dan disayat Dimakan Kadang kala jemu menunggu Mayat mayat bercelana jeans Didandani dengan segumpal ilalang kering Atau cemoreng arang Mayat mayat busuk tunarupa Dibuang Atau ditinggalkan Kala serdadu beranjak, meninggalkan lokasi perang Mencari cari (lagi) Mayat mayat bercelana jeans yang bisa Dijadikan mainan Siang memanggang Medan perang terasa begitu menjemukan Rusnani Anwar, dalam candu film Atonement, Kiera Knightly.

Senja Merah

Sore itu aku teringat, sepotong senja merah Yang berpendar, sesekali berkeriap, angin terbangkan awan kecil Seperti gulali Sepuluh tahun lalu, ya, ya, sepuluh tahun lalu Aku masih kanak kanak dengan sepatu kuning bergambar kartun Kala peluru berdesing, pria berparang berlarian, darah tumpah Di pelabuhan Ya, ya, sepuluh tahun lewat Saat badan badan tunakepala Dibuang ke tepian sungai Amis menguar ke udara Laki laki berseragam, sibuk berbalas tembak Dengan senjata rakitan dan tebasan parang Sesekali, asap pekat mengepul di sudut sudut kota Sesekali, tubuh tumbang bersimbah darah Kadang berlubang, kadang terpenggal Nafas Ayah tersengal, digendongnya aku Puluhan berparang Menyentakku dari gendongan, berteriak teriak Uluh itah kia, uluh itah kia *, disoraikan ayah Burung burung elang* Berputar putar, magis Ya, ya, sepuluh tahun lewat Dan aku masih sulit terlelap Di Minggu senja merah *Uluh itah kia : Bahasa Dayak Ngaju, artinya “Orang kita juga” *Burung Elang yang berputar putar di atas rum...

Pelajaran Cita Cita

“Mari bermain cita cita” Seru guru itu dalam ruang kelasnya, Selasa pagi Di sebuah sekolah kumuh, Dengan murid murid kumuh, Dengan dana remah remah anggaran daerah Puluhan bocah empat SD, bergemuruh, beberapa bertepuk tangan Satu per satu, ditanyai ingin menjadi apa Berloncatan senang, masing masing punya jawaban Dokter-astronot-artis-hingga presiden dilontarkan Ada yang memukul mukul meja, Tak sabar menunggu cita citanya terpapar Amin diam, Tak bergeming kala sang guru mengetuk ngetukkan ujung sepatu, menunggu “Saya tak punya cita cita Pak, lihat nanti saja” Gumam menggumam, tawa cela memburai seketika Ruang kelas gaduh, Amin dihukum berdiri di depan kelas Karena tak punya cita cita Puluhan tahun lewat, tak ada satupun kawan kelasnya yang menjadi dokter-astronot-artis Lebih lebih presiden Satu satu mati, ada yang bolong kepalanya ditembak, gara gara bertatto Ada yang mati kesetrum, kala menjaja asongan di atas atap kereta Ada yang mati beranak, semata...

When Everybody Grown..

Menjadi tua adalah konsekuensi waktu. Tua, adalah konspirasi semesta atas waktu. Menjadi tua, adalah keadaan yang tak tebantahkan. Semua manusia lahir, menjadi anak anak, remaja, tua, karena waktu. Menjadi dewasa, adalah konsekuensi kondisi. Berbeda dengan waktu yang dikendalikan semesta, kondisi dikendalikan oleh faktor non fisik. Faktor yang tidak bertaraf, yang tidak berjenjang. Kondisi bersifat random, acak dan tidak terprediksi. Karenanya, menjadi tua adalah hal yang pasti. Menjadi dewasa (saya pinjam bahasa corny ini) adalah misteri ilahi. Ada seorang anak kecil. Usianya baru 11 tahun. Ia harus menjadi tulang punggung keluarga, menafkahi ibu dan dua adiknya dan tetap bersekolah. Ada seorang 40 tahun, yang sibuk berfoya foya menghabiskan warisan keluarga sambil mencari istri kedua, tiga dan selanjutnya. Contoh gamblang antara dewasa dan tua. Saya, 18 tahun dan dua bulan lagi akan menginjak 19 tahun. Di usia ini, saya sudah masuk kategori lepas remaja dan berada di usia tanggung. S...

Tuan Hitam Sakit, Day #2

Image
Tuan Hitam masih sakit (ya iyalah, belum diperbaiki). Kali ini, tumor kehitam hitaman pada layar kanan atasnya kian membesar. Hiks Juga bergaris garis merah kaya gitu -_- cobaann.. selang dua jam saja, tumor yang awalnya berwarna putih itu berubah menjadi putih..

Tuan Hitam, Anda Sedang Sakit

Image
saya, secara tak sengaja menginjak Tuan Hitam saat sebelum siaran. Kamar yang berantakkan dan keterburu buruan resmi membuat Tuan Hitam batuk batuk dan pecah LCDnya. Saya coba googling tentang LCD pecah. Konon, kalau tidak segera diganti, kerusakan bisa menyebar. Oh, tidaaakkk.. Sementara, harga LCD untuk ukuran 11 inci biasanya 1 sampai 1,5 juta. Doakan saya, semoga ada om om yang mau jalan sama saya malem ini. *nangis guling guling*

Dunia Fisik!

Image
Look what I found on my desk this evening: Ini iklan pencarian kerja yang masuk ke radio. Masih ada ya, standarisasi 'berpenampilan menarik' dalam kualifikasi bekerja kayak gitu. Yang membuat saya bingung adalah, bukankah cantik atau tidak (baca : menarik atau tidak) nya seseorang itu relatif. Tergantung dari sudut pandang masing masing orang. Seseorang yang menarik bagi seseorang bisa saja menjadi tidak menggiurkan bagi orang lain (beuh bahasanye) Jika memang ada semacam patokan 'berpenampilan menarik' dalam sebuah pekerjaan, maka akan ada yang disebut generalisasi kecantikan. Standarisasi. Ini aneh, mengingat 'menarik' adalah kata sifat yang probabilitasnya masih mengawang awang. Saya sih, sudah tau seperti apa yang mereka cari :D 1. Kurus 2. Bersedia mengenakan kaos ketat, hak tinggi dan rok mini ketika bekerja 3. Rambut panjang, kulit mulus, make up tebal 4. Jago merayu Hehe, ini bukan semacam generalisasi SPG yang saya buatan sendiri loh. Yang saya tau, in...

Sulitnya Menjadi Benar di Negeri Ini

Image
Hari ini saya menuntaskan buku Trilogi Insiden-nya Seno Gumira Ajidharma. Trilogi Saksi Mata, Jazz, Farfum dan Insiden, dan Ketika Jurnalisme dibungkam, Sastra Harus Bicara. Isinya, berorientasi pada pembantaian Santa Cruz, 12 Nopember 1991. Betapa dahsyatnya kebohongan dibangun untuk menutupi kebenaran. Sekali lagi, ini menunjukkan indikasi paranoia berlebih dari pemerintah. Ada obsessi yang begitu besar terhadap kekuasaan. Dan betapa besar kebutaan nurani yang terjadi untuk memenuhi obsessi tersebut. Seno, bermetafor dalam cerpennya. "Maling Ayam itu kini diadili, diseret tentara berkuda dan namanya menjadi buron di mana mana". Metafora yang menggambarkan bentuk ketakutan pemerintah kala itu. Maling ayam digunakan untuk menyebut mahasiswa pengunjuk rasa tak bersenjata yang diperlakukan layaknya teroris kelas dunia. Ditembak mati, dikepung, dipukul disiksa dianiaya. Juga tertulis mengenai Penembakan Misterius (yang kemudian dikenal sebagai Petrus). Soeharto, dalam bukunya se...

How I Spend My Saturday Night

Image
I decided to go in to some banging concert. I found myself enjoyed the show. I also met Ayu, one of my old pals. Fun, we spend the night with seeing punk kids doing pogo. I take the risk, my ear kinda deaf, but its worth for the joyful that I get there! P.S : Dear Ayu, your "muka-sangar" pose was fail. as I always said : Smile, though your heart is aching, Smile, though your heart is breaking. (wait, this is Frank Sinatra song, isn't?) Plus, I made a review for that banging-pogo-hangover- concert, read here F-U-N!

Boneka Tanah #2

Image
Sedari siang mendung sudah menggelayut. Sesekali hujan, basah. Saya sudah wanti wanti, jangan jangan gelaran musik keras di sanggar bakal sepi. Hujan masih menemani saya ketika pulang siaran, sore jam lima. Prediksi saya meleset, lepas Isya sanggar dipadati massa. Beberapa malah berdiri di luar sanggar. Bukan, bukan lantaran penuh, takut masuk, kata mereka :D Dua puluh tiga Oktober, Malam Minggu, satu lagi sejarah musik keras ditorehkan. Jam tujuh malam, saya mendatangi venue. Super bising. Saya tak sempat bertanya urutan penampil. Hanya saja saya tau, dua band yang saya nanti nantikan belum main. Headquarter dan Destroyer. Masing masing dari Palangkaraya dan Sampit. Bukan bermaksud mengkomparasi, tapi Boneka Tanah #2 lebih terasa lebih masif dan sarat distorsi dibanding gelaran serupa sebelumnya, LokalKarya 15 September silam (baca reviewnya di sini ). Mungkin lantaran konsepnya beda kali ya ^^ Boneka Tanah #2 di usung berbentuk parade nonstop musik keras selama rentang 3 sore hin...

Apa Kita Akan Menjadi Tua dan Kesepian?

Image
Saya satu mobil bersamanya, saat dalam perjalanan pulang. Usianya mungkin 80 tahun, keturunan China. Sepanjang jalan, beliau sibuk mengoceh dan sesekali mengajak saya berbicara (bukan sesekali juga sih, SERINGkali!) Beliau bertanya mengenai apa yang saya lakukan di sana. Lantas merembet ke perkara pekerjaan dan apakah saya kuliah. Begitu saya mengatakan saya tidak kuliah. Berbagai nasehatpun dimuntahkan wanita berkacamata itu. Mulai dari saya yang telah menyia nyiakan usia lah, hingga orang tua saya yang tidak memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan. Awalnya, saya sungguh merasa nenek ini annoying. Menyebalkan, cerewet dan terlalu banyak bicara. Sayapun tinggalkan pembicaraan dengan beliau ketika seorang ibu ibu masuk ke dalam mobil. Dari kursi depan, saya menangkap banyak perbincangan dua orang di kursi tengah itu. Beliau, rupanya orang Surabaya yang tengah mengunjungi anaknya di Palangkaraya. Sayang, di Palangkaraya anak dan menantunya sibuk bekerja hingga tak punya banyak wakt...

How I Spend My Friday Night

Image
Radio menjadi event organizer untuk acara Gathering Retailer Philips. Dan saya terdampar di acara tersebut lepas lima jam berkendara dari Palangkaraya.  foto dengan mata jereng, kurang tidur dan pantat keram :D Terbayar!

Postingan Dengan Pantat Keram

Image
Yuhuuuu.. saya menuntaskan liburan ke Palangkaraya. Dan yang menyenangkannya, look what I found on Book's City Palangkaraya Mall :  Trilogi Insidennya Seno Gumira!!! :D dan juga buku populer milik radityadika. Too bad, I ain't got enough time to exploring Palma, lain kali, toko buku itu bakal saya ubek ubek lagi sepenuh hati. Malamnya, saya memutuskan untuk menginap di sana. Dan besoknya, untuk pertama kalinya, anak kampung ini makan di KFC aseli. Dan menikmati menu goceng, panas krispi serta pepsi aseli seperti iklan di tipi. Gratis pula :D (dan jika kalian bertanya makhluk seperti apa yang belum pernah naik eskalator, maka silahkan liat poto saya sepuasnya. Karena keperjakaan -belum-pernah-naik-eskalator- itu sudah direnggut Palma) Ah, sudah ah, postingan kali ini di dasari rasa udik ugal ugalan dari sesosok anak kampung) P.S : Since I was born until now, Saya tidak pernah ke bioskop. Silahkan tertawa.  Have a lullaby day!

Karena Kata tak Sekedar Lingua

Saya, dijejali jutaan istilah sastra, kala sekolah dulu. Diksi, koreksio, repetisi, analidip, pleonasme, dan mungkin ribuan istilah lain yang masih terburai di perguruan perguruan tinggi. Tempat yang tak akan sempat saya singgahi. "Setiap manusia terlahir menjadi kritis, cerdas dan banyak bertanya. Sekolah merusaknya," Demikian kutipan kalimat yang saya temukan entah dimana. Saya rasa, entah. Mungkin benar mungkin salah. Saya rasa sekolah bukan hal yang salah, sistemnya yang perlu di kritisi. Sistem yang memarjinalkan sekolah sehingga berjejalan murid baru dalam satu ruang kelas, berebut bangku. Sistem yang mengajarkan rasa trauma sebagai solusi terbaik penanggulangan kesalahan. Saya masih ingat, kelas dua SMP. Saya terlahir sebagai seseorang yang lemah berhitung, saya sangat bodoh matematika. Seorang guru matematika, meminta saya maju ke depan kelas untuk menuliskan pekerjaan rumah saya di papan tulis. Dan salah. Saya, dipaksa berdiri di depan kelas seraya mendengarkan rente...

Saya Belum Siap Jadi Ayam

Image
Di suatu sore yang cerah, abah membaca Borneo News. Semacam koran dengan basis Palangkaraya. Abah, dengan sangat khilafnya membaca berita mengenai konsumsi beras Kalteng yang dinyatakan tinggi. (baca lengkapnya di sini ) Dan lihatlah apa yang abah beli tadi pagi. Kira kira ini kronologis kejadiannya :  Jam delapan pagi, aku siaran. Kelar jam 12 siang. Rumah sepi, sms emak masuk, ngasih tau kalau mereka sedang ke Pelangsian.  Aku tinggal tidur. Bangun bangun, buka kulkas, shock. Jagung di mana mana. Aku : "Err... Mak, ini apa?" (nunjuk nunjuk ke karung di samping kulkas, emak tengah sibuk membongkar dan menjejalkannya ke dalam kulkas) Emak : "Jagung," (jawabnya singkat sambil di iringi tatapan 'menurut loh') Aku : "Abah.. maksudnya apa ini?" (aku buka rice cooker, isinya pipilan jagung yang lagi di kukus) Abah : "Kita berhenti makan nasi, mulai hari ini di ganti jagung," Jgderrrrrr!!!!! petir menyambat, kilat bersahutan. Si kilat lagi ngob...

Random Thouhgt

Such a tiring day. Super duper exhausted! Event pertama aku berkontribusi penuh ^^ Lot things happen today. I’ve made some miss calculation on those amplopes. “Aku juga seperti kamu, dulu. Jadi kru, ngurusin administrasi, piala, tapi sekedar ngasih tau ja, dunia ini bukan dunia yang menjanjikan,” Hm.. aku tau, jika dikomparasikan, hasil super duper capekku di event itu setara dengan amplop terima kasih sekali pemberitaan. Artinya, lelah selama tiga hari tiga malam ini hasilnya sama dengan 15 menit wawancara. Itu jika dikomparasikan dari segi materi. Tapi jika kembali dirunut, 15 menit wawancara itu berujung rasa lelah batin, ketidaksenangan, sama sekali lost dalam kehidupan sosial, aku lebih memilih kerja keras dalam event. Aku melihatnya sekarang, pada seorang kawan yang kini bekerja dan bergaji besar. Aku melihatnya lelah, pandangan mata yang kosong dan perubahan perlahan dari pribadi menyenangkan menjadi seorang yang seperti jenuh menjalani hidup. Dan aku yakin, sepert...

Berbenah!

Image
Sedari siang saya tengah menyortir Kompilasi Nero. Beberapa di antaranya sudah aus dan ga bisa diputar.  Di atas adalah Kompilasi Nero. Lebih lanjut mengenai Kompilasi Nero silahkan baca postingan yang ini . Sedih sih, lantaran harus membuang semuanya. Untungnya beberapa masih bisa di copy. Kadang repot ya nyimpan hardcopy kaya gitu. Rata rata rusak gara gara debu, kegores dan keujanan (buset) Oia, ini dia beberapa keping Kompilasi Nero favorit: Ah.. sedihnya harus melepas kalian, anak anakku.. :'( Dan dua di atas adalah kaset jagoan saya. Terimakasih banyak buat Dark Vekter alias mas Arif yang udah berbaik hati ngirimin Roadrunner Unitednya :D this just become one of the most precious thing in my life!

Air, Udara, Apa Kami Punya?

Image
Siang itu panas memanggang Kampungku lengang Udara gerah Lenguh mendesah Gerombol kambing kurus Merumput di lapangan tak terurus Sela menyela, gerutu wanita paruh baya Menatap langit kian biru menganga Panas Tercenung, anak anak legam berpeluh campur daki Terancam tak mandi lagi hari ini Pun tetap dikejarnya layangan, berdebu, bertelanjang kaki Drum drum kaleng kosong PDAM mendengus tiap kali dirongrong Mengapa air kami diberangus Dijawab masa tenggang telah hangus Peluh menetes, kemarau masih singgah Drum drum kaleng kosong, menelan ludah Kapan hujan datang? Kami lelah. (Foto musim kemarau 2009. Stadiun 29 November, Sampit Expo)

Batal Berlibur :(

Image
Liburan saya resmi dibatalkan. Rencananya, saya mau jalan jalan lewat air hari ini (baca postingan ini ). Sayangnya, rekan radio berhalangan siaran dan klimaksnya saya harus menggantikan hingga jam satu siang. Kalopun tetap dipaksakan berlibur, dipastikan sampai jam delapan malam saya masih berada di atas air.  Well, sometimes life doesn't work in our will.  Jadi, sebagai penebusan liburan yang gagal ini, rencananya pada tanggal 20 kelak saya bakal ke Palangkaraya. Tidak sepenuhnya berlibur sih, saya menjadi wakil radio untuk mengikuti seminar Komisi Penyiaran Indonesia cabang Kalteng. Tapi semoga sempat mencuri waktu buat sekedar jalan jalan.  Honestly, saya ga pernah ke Palangkaraya. Dua kali ke sana hanya untuk transit dan ganti bus/travel. Semoga asik ya ^^  Hm, what exactly happen on me in this week?  Saya seperti banyak menggunakan waktu untuk berfikir akhir akhir ini. Ada banyak kejadian, sebenarnya. ah, nevermind. Enjoy your Sunday! P.S : I spend my saturday night without m...

So, We Throw Away the Happiness for the Fake One?

Image
Barusan di ajak chatting yahoo messengger oleh kawan lama. Dia yang sekarang sibuk mengejar karir di kota besar. Kami, berbicara mengenai keharusan sesorang bekerja. Dia : "Gimana Nan? udah kefikir nyari kerjaan lagi?," Aku : "Kok nanya gitu? orang orang justru sering nanya 'kapan mau nerusin pendidikan'? loh" Dia : "Aku kenal kamu. Kamu ga punya minat buat kuliah kan?" Aku : "Nggak di sini, nggak dengan jurusan ini" Dia : "Hm.." Aku : "Oke, aku memang ga berminat buat kuliah. Eventhough lot of them said that I have potential, gift, smart-ass, and blah blah blah" Dia : "Kamu hanya berontak pada sistem, ga ada yang salah dengan itu. Dengan atau tanpa kuliah toh kamu tetap Nani yang kritis dan pintar, toh?" Aku : "Thanks for those baseless compliment. Tanpa izasah, orang pintar di negara ini ga ada artinya." Dia : "'Arti' dalam konteks apa dulu?" Aku : "Tanpa izasah tinggi kamu ...

Feed Me, Dammit!

Image
Look what I found above my refrigerator this morning Four musketeers with lazy eyes. Don't they just adorable? 

Ayo Berlibur!!

Image
Saya tengah merencanakan ekspedisi menyusuri sungai untuk besok. Dengan rute Mentaya-Sungai Sampit-Teluk Sampit. Diperkirakan bakal makan waktu 4-5 jam dengan perahu bermotor (baca : Kelotok) Tentu tak hanya menyusuri sungai, saya ingin sekalian singgah di PT. Indo Balambit. Katanya sih di sana masih ada galangan kapal milik pedagang china saat berlabuh di karajaan Sampit. Pengen liat. Soalnya, galangan kapal itu merupakan bukti sejarah keberadaan karajaan Sampit. Dengan melihatnya secara langsung, setidaknya saya percaya bahwa hal itu sempat ada. Oia, beberapa minggu lalu saya ke Antang Kalang. Melewati sungai Puring. Tercetus sebuah sajak mengenai kaum rimba ( baca di sini) . Dan gilanya, sepanjang sungai itu bulet bulet semak dan hutan semua. Serem aja ke sana menjelang senja gitu. Thanks for this journey, guys! Ini beberapa foto yang saya ambil kala di sana : Eh, yang ditengah itu foto pas di sungai Lenggana. Daerah Bagendang. Yang pertama dan ketiga itu yang sungai Puring. Ini be...

Quiz Kotex. I'm an Artsy!

Image
Found some kotex quiz from Diana Rikasari blog . I'm not a fan of their product, I have personal issue with an expensive things, espessially for a pad. :D Hihi. then, I tried to fullfill some question. Simply about what kind of vacation that you desire for, what music do you like, how your bedroom suppose to be and what your daily drink (and btw, I fail to see the connection between what I used to drink and persona imaging) For each of those question, I gave the honest answer. I love to enjoying some calm, delicate and peacefull place. I'd like to having a bedroom with queen-ekstra-large bed (my entire life spend on bed, though). And I used to drink cold-icey water everyday. Oh, I like pop-sweet-country music, btw. Then, kotex gave me their opinion of me. (click to enlarge) Somehow, I feel like a bohemian-hippie-homeless girl right now. Who love to travel, love to sing, and love to writte :D

Wiji Thukul - Aku Ingin Jadi Peluru

Image
Nama Wiji Thukul pertama kali saya dengar bertahun lalu. Saat kelas satu SMA, kalau tak salah. Di dalam buku Membedah Kesusastraan (atau apa judul tepatnya, lupa). Seingat saya, nama Wiji Thukul dikategorikan ke dalam sastra kerakyatan dalam buku itu. Sastra kerakyatan, adalah tulisan tulisan pro rakyat dan kerap mengambil tema umum di masyarakat. Kemiskinan. Saya sendiri, baru berkesempatan membaca buku kumpulan puisi miliknya (Aku Ingin Menjadi Peluru) yang terbit tahun 2000 itu pada bulan lalu. Sepuluh tahun terlambat. Itupun kalau tidak seorang kawan menjualnya di pasar buku Facebook miliknya, niscaya saya tak akan pernah menyesapi keluarbiasaan buku ini (deuh lebay pisannn) Tak perlu rasanya saya tulis mengenai biografi Wiji Tukul di postingan ini. Dunia sastra Indonesia tidak mungkin asing dengan namanya. Saya cuma ingin membagi kesan kesan saya lepas membaca buku ini. Ada lebih dari belasan line yang saya suka dari buku ini. Secara personal, saya menyukai keseluruhan buku. Entah...