Posts

Showing posts from January, 2013

Miss Havisham, or Should I Call You Eleanor Rigby?

Image
Google, what else did you expect? Menemukan novel ini berkat lagu the Beatles - Eleanor Rigby. Seperti yang saya tulis di sini , bisa jadi inilah lagu milik beatles yang paling saya suka. Lagu tentang orang orang yang kesepian. Apa yang lebih sepi dari duduk diam dan tidak berbicara kepada siapapun selama 40 tahun? Ms. Havisham adalah perempuan yang mewarisi seluruh harta ayahnya -seorang earl- dan ibunya meninggal saat ia masih bayi. Tanpa saudara, Ms. Havisham menghabiskan masa mudanya di kastil ( catatan; setting di tahun 1891 ) dan akhirnya jatuh cinta pada Compeyson (Compassion?) pria yang mengejar hartanya. Kerabatnya sudah memperingatkan perempuan muda itu soal Compeyson. Tapi namanya cinta, Ms. Havisham keukeh dan akhirnya ditinggalkan di altar. Dua puluh menit sebelum pukul sembilan, pernikahannya. Patah hati, Ms. Havisham mengurung diri di dalam kastilnya, mematikan semua jam dan duduk di sebuah kursi di depan perapian hingga tua tanpa melepas gaun dan keru...

Kedip Lampu Temaram Berkedok Bintang

Hidup semakin membelitkan misteri alih alih memperjelas satu-dua hal seiring pertambahan usia. Iya, soal nani bertambah tua sudah menjadi sama menjemukannya dengan berita banjir di televisi. Tapi sungguh, saya terlalu galau untuk peduli. Pagi tak ubahnya menjadi ritme kacau berupa jeritan alarm diikuti ketergesa gesaan mandi-mengenakan pakaian-makan demi mengejar pekerjaan yang sama kacaunya dengan peta jodoh saya. Siang berupa lenguhan panjang mengantuk yang berujung pada ketergesa gesaan serupa saat jam istirahat usai. Begitu seterusnya sampai.. kapan? Saya sempat menulis soal ini, tentang kehidupan yang menitipkan tuntutan tuntutan kepada manusia hingga akhirnya ia menuntut dirinya sendiri untuk begini dan begitu. Agar pas dalam porsinya sebagai manusia di muka bumi. Untuk mencari dan mencari hingga menemukan rasa cukup. Settle. Namun kehidupan sesungguhnya berjalan berdasarkan pencarian itu. Maka jelas sudah. Rasa cukup hanya bisa dicapai ketika mati. Dan yang mengklaim dirinya...

Keluh Pertama di Pertengahan Januari

Di sela sela gempita warga kota Sampit lantaran anak wakil bupatinya dinikahi artis sinetron, sayur dan cabai naik ke titik tak tertolelir. Gelombang tinggi dan kapal tidak bisa melabuh. Petani lokal kewalahan memenuhi kebutuhan warga kota sehingga untuk sekedar cabaipun, harus didatangkan dari Jawa. Lalu, untuk apa otonomi daerah jika dalam kenyataannya boro boro otonom, untuk urusan pangan saja masih harus disuapi daerah lain? Masalahnya adalah, penduduk asli kalimantan tidak terbiasa menjadi petani penjual. Kebiasaan nomaden membuat mereka membuka lahan hanya untuk konsumsi sendiri dan sesekali dibarter untuk sekotak daun sirih dan perlengkapan kinang. Satu satunya harapan adalah petani transmigran. Ribuan orang luar pulau yang masuk ditempatkan di lokasi lokasi trans dan hasil pertanian merekalah yang berputar di pasar pasar kota. Sepuluh tahun belakangan perkebunan kelapa sawit muncul layaknya jerawat di periode PMS. Hingga tahun 2010 saja tercatat lebih dari 40 PBS di kab...

Panduan Menjadi 21

Yang berpengharapan lebih terhadap orang lain dan Tuhan, kalau mau banyak berharap maka belajarlah soal ini; menelan rasa kecewa. Kalau ndak bisa ya sudah, berhenti berpengharapan lebih dan mulai tuntut diri untuk melakukan sebanyak banyak hal sendiri. Doyan menyalahkan pemerentah atas ketiadaan ruang publik, wadah nyaman untuk bermain bola dan taman rindang nan penuh penjaja kue tetek? Ciptakan ruang untuk diri sendiri dan berangkatlah dari sana. Kenyamanan ruang tidak dimulai dari pembesar yang membebaskan tanah lapang. Lagian seberapa sering sih situ menggunakan ruang publik? seminggu sekali di Sabtu sore selama sekurang kurangnya 2 jam? Yang mengaku optimis tapi tak kunjung membawa pencerahan. Eh gapapa deng. Tetaplah optimis, dunia memerlukan lebih banyak pajangan yang senyam senyum cengo buat menutupi erang kelaparan di belakang sana. Kalau ga bisa jadi orang baik, sekurang kurangnya cobalah lebih kuat untuk tidak menjadi jahat. Kejahatan tertinggi itu adalah menyakiti...

Resolusi 21

Tahun lalu saat menggenapi usia menjadi kepala dua, saya tidak banyak berprasangka soal seperti apa hidup akan menjadi setelahnya. Setahun lalu saya berada di pencapaian tertinggi karenanya tanpa banyak watir dan keluh, saya senyam senyum saja melewati usia 20 dengan optimisme yang tingginya melebihi kepala saya. Maka 10 Januari kali ini menjadi titik balik. Ketika semua rencana sudah tersusun matang tanpa cela, saya dengan kesadaran penuh memutar balik, merevisi dan mencentang hal hal yang sudah saya temui jawabannya untuk kemudian menjadi putusan untuk tidak meneruskan resolusi resolusi saya di tahun tahun silam. Soal resolusi resolusian ini kian menjadi sejak saya kehilangan wadah untuk berbicara soal ingin dan keluh. Selain menuliskannya di blog, tidak banyak yang mampu saya lakukan untuk menunaikan ibadah manusia modern; curhat sekaligus pamer. Jadi beginilah kira kira pencapaian saya di tahun silam; Keluar pulau dan tinggal di kota besar Bertemu dengan orang orang hebat ...

Ketahanan Pangan dan Stabilitas Negara

Negara ini tidak perlu menjadi kaya. Tidak perlu menjadi makmur. Sebab simpulan kaya dan makmur kerap diambil dari lingkar dalam ibukota dan apa yang terlihat di televisi. Kita melihat deretan iklan properti dengan harga milyaran ditawarkan secara kredit ratusan juta seolah punya rumah semewah itu sama nilainya seperti kreditan panci. Sebab pemandangan ini diperlihatkan setiap hari, maka diam diam kita mengamini bahwa negara ini dalam keadaan baik baik saja. Negara ini hanya perlu menjadi stabil. Tanpa kesenjangan strata sosial yang terlampau melambung. Stabil dalam pemerataan pendidikan, perputaran subsidi, dan bantuan bantuan pemerintah. Masih ingat program raskin? pembagian beras dengan harga murah  ini sudah berhenti sejak tahun lalu. Kenapa bangsa yang dulunya swasembada beras ini sampai harus disubsidi beras impor dengan label denotatif berupa beras miskin? Pertanian tidak stabil, gagal panen musim kering sementara solusi irigrasi yang memadai tak kunjung keluar dari...