Posts

Showing posts from May, 2012

Kilasan Bandung Berisik 6

Image
Lima sore di 18 Mei saya dan Alfi menuju Bandung. Berwanti wanti akan tertinggal banyak penampil di Bandung Berisik 6 yang sudah open gate sejak pukul satu siang. Benar saja, kami tiba di leuwipanjang pukul delapan malam dan harus berkutat dengan macet sepanjang kopo, menuju lanud sulaiman, tempat acara digelar. Ratusan orang sudah mengantri keluar venue. Untuk hari pertama acara hanya sampai pukul sepuluh malam. Setengah sepuluh malam kami tiba di venue. Tertahan di depan lantaran tiket belum di tangan. Melewatkan Burgerkill, the Sigit dan beberapa band yang tampil di hari pertama. Kami terlupa bahwa di hari kedua libur panjang 17-20 Mei, Jakarta-Bandung akan dibanjiri kendaraan dengan volume berkali lipat dari hari biasa. Sebagai konsekuensi, di bandung berisik hari pertama saya harus terpuaskan dengan merekam Jasad, Besok Bubar dan Raja Singa dalam ingatan.  Berlumpur Saya mendapat kabar bahwa bandung tengah sering hujan hingga H-2 bandung berisik diadakan. Sudah ter...

Kereta Berhenti Terlalu Lama

Stasiun dipenuhi gemuruh penumpang yang kian menyemut di muara lintasan. Kereta sudah terlambat dua setengah jam. Lelaki perempuan mencoba membunuh waktu dengan pikirannya masing masing. Ada yang melirik arloji berkali kali, ada yang mengeraskan volume pemutar musik yang digenggamnya sedari tadi. Petugas stasiun terbata menenangkan segerombol pekerja yang menanyakan kapan kereta akan tiba. Senja sudah menggantung, langit sebentar lagi menjadi malam. Satu dua pekerja tak henti menggedor kaca kubikal penjual karcis. Kereta tak pernah terlambat selama ini. “Aneh ya mbak, pas lebaran aja keretanya ndak sampai begini.” Gemuruh suara penumpang yang terlambat keretanya makin menguar nyaring. Puluhan orang menyesak di belakang garis polisi. Beberapa dari mereka menyalakan senter demi bisa melihat apa yang sedang terjadi. Penduduk sekitar lintasan kereta dikejutkan dengan suara lengking perempuan senja tadi. Suara lengking itu meningkahi deru kereta yang menjadi rutin bagi mer...

Jakarta

Image
Menginjak semester kedua di Jakarta, dalam kegamangan kegamangan tak bertuan. Saya terus merasa memerlukan penghiburan. Atas hidup, atas rutin, atas segalanya. Semakin ke sini, saya seperti terlepas dan melesak terlampau jauh dari titik saya berasal. Tidak menuju ke titik terbaik, saya justru kehilangan arah dan akhirnya, tidak lagi memiliki alasan kuat untuk tetap berada di Jakarta. Berinteraksi dan berproses dengan makhluk hidup itu ternyata sulit. Saya kesulitan menyampaikan maksud, terbentur keterbatasan keterbatasan yang tidak bisa saya ungkapkan. Atas nama harga diri dan etika dalam bekerja. Saya seharusnya tidak asing dengan keadaan ini. Di beberapa tempat sebelum ini, sayapun mengalami kondisi serupa. Hanya saja, saya keburu berhenti, keluar dan pergi tanpa belajar tentang cara mengatasinya. Maka sebutlah saya tidak cukup bekal untuk menghadapi keterkejutan keterkejutan ini. Perubahan yang rasa rasanya terlampau besar untuk saya peluk. Paradoks terbesar adalah jaka...