Friday, April 17, 2026

Kabar Untuk Diri Sendiri: Sepuluh Tahun Dalam Satu Artikel

Laman blog ini sudah aku hapus sejak 2016. Namun ternyata akunnya nyangkut ke alamat email yang masih kugunakan hingga sekarang. Gara-gara mencari foto lawas, ndilalah masuk ke blog ini dan 300++ entry tulisan aku habiskan dalam separuh malam. 

Sejak usia 16 tahun aku menuliskan banyak hal di blog ini, hampir sepuluh tahun awal ditulis dalam keadaan miskin mentok, tapi somehow, bukan kemiskinan yang aku keluhkan, tapi sistem negara, isu sosial politik dan kesepian-kesepian khas remaja yang gak punya pacar.

Setelah menamatkan seluruh entry itu, aku jadi ingin "berbicara" kepada diriku sendiri melalui blog ini. Tentang apa saja yang terjadi sepuluh tahun terakhir sejak 2016, sejak usia 24 tahun.

2017 bulan Maret kamu pertama kalinya ke psikolog di Sampit. Rasanya asing sekali mengantri di Poli Kejiwaan RSUD tapi kamu tau that's the only way to fix yourself. Sepanjang 2016 kamu menangis tanpa sebab hampir setiap hari dan tidak bisa tidur tanpa bantuan obat. Kamu memikirkan kematian (dan beberapa kali, mencobanya) tanpa alasan kuat. Diagnosa saat itu adalah bipolar dan kamu dirujuk ke psikiater untuk mengentaskan masalah tidak bisa tidurmu. Hingga 2025 kamu sudah menghabiskan puluhan jika tidak ratusan visit psikolog-psikiater dan melewati segenap label mulai dari depresi klinis hingga unipolar disorder. Sekarang sudah setahun kamu tidak mengunjungi keduanya dan kamu menerima kalau you're simply an unhappy person, and learn to live with it.

2018 adalah tahun pertama kamu "merasa kaya" setelah miskin mentok meski sudah bekerja setengah mati sejak usia belasan. Pekerjaanmu di perusahaan kelapa sawit sangat baik dan kamu naik jabatan 4 kali dalam kurun 4 tahun, dengan gaji yang lebih dari cukup. Kamu akhirnya punya mobil, Honda Mobilio hitam yang di hari pertama keluar dari dealer kamu bawa ke kuburan Mama dan bilang it takes time, but you finally made it. Kamu merasa telah menggenapi janji di usia 17 kepada Mama saat kamu dipaksa segera bekerja dan gak usah mikir kuliah saat lulus SMA. Janji kalau kamu akan sukses (dengan takaran dangkal berupa punya rumah, mobil dan gaji 4 kali UMR). Kamu pulang dengan menangis, kesuksesan itu terasa banal karena Mama sudah nggak ada.

Di titik ini, kamu sudah mencentang semua whistlist remeh temeh yang ditulis karena kemiskinan menjadi makanan sehari-hari waktu itu. Beberapa di antaranya malah kamu tulis dengan satir dan sadar itu mustahil mengingat kondisimu saat itu --seperti punya mobil dan pergi ke Jepang--

Kamu sudah liburan ke luar negeri belasan kali, pergi ke Jakarta/Surabaya/Bali sebulan sekali untuk menginap di hotel bagus dan makan makanan yang sebelumnya hanya berupa konsep di dalam kepalamu. Kamu akhirnya tahu rasanya berbelanja di supermarket tanpa melihat label harga, dan membayar ratusan ribu hanya untuk sekali nongkrong di cafe. Tapi dalam setiap kegiatan dan pencapaian itu, kamu dihantui perasaan yes, I made it. But my mom died. 

Januari 2019 untuk pertama kalinya perasaan cintamu bersambut. Untuk pertama kalinya orang yang kamu taksir, naksir balik. Dalam sejarah percintaanmu yang selalu bertepuk sebelah tangan itu, atau hubungan yang kamu punya tapi berdasar dari disukai terlebih dulu -- lalu kamu berkompromi, untuk pertama kalinya kamu menghidupi lirik lagu kesukaanmu the greatest thing you'll ever learn is to love and be loved in return di usia 27 tahun. Kamu menyukai orang ini sejak pertama bertemu dengannya di Desember 2015, lalu bersambut 4 tahun setelahnya tanpa melalui fase apa-apa.

2019 juga menjadi tahun paling menyakitkan dalam hidupmu. Hubungan yang seharusnya kasual, yang dimulai dengan disclaimer this relationship could end anytime darinya, kamu anggap sebagai magnum opus percintaanmu. Tentu saja, kamu yang kecintaan sendiri membuat hubungan LDR itu berat sebelah dan hanya bertahan 5 bulan sampai akhirnya dia memutuskan buat ending the relationship.

Setelahnya, Juni hingga Oktober kamu membayar harga mahal karena kamu bertemu dengan orang yang salah dalam rangka mengindahkan patah hati, yang menyukaimu lebih dulu dan kamu berkompromi, tapi lalu menjadi beban dan merugikan substansial amount from your savings to support his business. Hingga sekarang hutangnya tidak dibayarkan dan perbuatan-perkataannya melukaimu lebih dari sekadar kehilangan uang. Kamu tidak yakin apakah kamu bisa recover dari hal itu.

2020 satu dunia mengalami pandemi dan pekerjaanmu di perusahaan kelapa sawit terasa semakin jauh dari values yang kamu pegang. Bahkan ketika pekerjaan itu memberikanmu kesempatan untuk mencecap perasaan "jadi orang kaya" menurut versimu, kamu tidak bisa mengalah pada nilai-nilai yang kamu pegang lebih jauh lagi. Oktober 2020, kamu resign dan menerima pekerjaan remote dengan 1/5 gaji yang kamu terima saat itu. Mobilio Hitam kamu jual, rumahmu dihuni Kakak dan anaknya, lalu tanggal 23 November 2020, tepat di tanggal ulang tahun Mama, kamu pindah ke Bali dan hidup dari gaji imut dan tabungan.

Desember 2020, kamu bertemu dengannya lagi dan tanpa belajar apapun dari kejadian sebelumnya, kamu jatuh cinta lagi kepadanya. Hingga Maret 2021 hatimu terasa penuh, jika dulu cintamu hanya terucap lewat telpon singkat pagi dan malam hari, kali ini kamu bisa mengekspresikannya langsung saat bertemu 1-2 kali setiap minggu. Kamu merasa api di dadamu menyala lebih terang, paling terang. Sayangnya, kali ini, cintamu tidak bersambut. Kamu harus menerima satu lagi cinta bertepuk sebelah tangan.

Hampir dua tahun kamu hidup dari gaji seadanya dan eating out your savings sampai akhirnya tabungan itu habis di 2022 akhir. Kamu sudah memutuskan untuk pulang ke Sampit tapi rejekimu berkata lain, kamu menemukan 2 pekerjaan remote tambahan yang bisa men-support kehidupan di Bali bahkan sedikit berlebih untuk menabung. Sejak itu kamu pindah dari kos-kosan petak ke rumah kontrakan, dan menjadikan pindah rumah sebagai bagian dari hobi. Saat itu kamu belum sadar kalau alasan besarmu untuk bersikukuh tetap tinggal di Bali adalah kamu diam-diam menyimpan harapan kalau kelak kamu akan bertemu lagi dengannya, dan mungkin saat itu cintamu akan bersambut.

2023 hingga 2024 berlalu dengan mundane. Tidak ada yang buruk dan semua berjalan baik-baik saja, pekerjaan lancar dan menyenangkan karena bos-bosnya selaras dengan values yang aku pegang, sesekali casual fuck dating dengan bule dari berbagai benua, di tahun 2024 bahkan bisa pindah kontrakan ke rumah 2 lantai dengan harga kontrak setengah harga rumah beli baru di Sampit yang hanya bertahan setahun karena ruang sebanyak itu terasa berlebihan untukku seorang. Oya, di tahun ini KPR rumahmu di Sampit sudah lunas dan kamu ambil KPR satu rumah lagi, dan kamu membeli mobil Brio Abu-Abu. Kamu kembali menghidupi definisi kaya menurut versimu. Di tahun ini juga kamu sudah melihat Aurora dan pergi ke negara paling mahal sedunia.

Desember 2024 Abah meninggal karena kanker mulut. Kabarnya kamu terima subuh hari saat kamu masih di Bali, kamu tidak sempat menemui beliau di akhir hidupnya. Kamu pulang seminggu untuk menghadiri tahlilan dan menyelesaikan segala sangkutan hutang beliau, lalu menjual rumah dan memberikan seluruh hasil penjualannya untuk Kakak dan Adikmu. Setelah total 13 tahun keluar dari rumah, menjalani hidup tanpa orang tua bukan hal baru buatmu, tapi menjadi yatim-piatu rasanya masih asing hingga sekarang.

Kematian Abah mengguncang sesuatu yang fundamental dalam dirimu, kamu belum bisa memberikan definisi yang mantep tapi output-nya adalah pertanyaan "Kamu mau apa sih, Nan?" Januari 2025 saat usiamu 33 (yes, Nan, kita setua itu sekarang) dan melaluinya dengan liburan ke Jepang, di sudut taman di Tokyo untuk pertama kalinya setelah kematian Abah, kamu menangis panjang dan mempertanyakan hal itu "Aku mau apa sih?" karena kamu akhirnya sadar 5 tahun terakhir adalah waktu yang terlalu panjang untuk menunggu pertemuan dengan seseorang yang dengan sadar memilih keluar dari hidupmu. Lima tahun adalah uang yang tidak sedikit untuk memaksakan diri tetap tinggal tanpa alasan di kota yang membuatmu semakin gendut.

Lalu, Juni 2025 kamu memutuskan untuk pulang, menempati rumah yang cicilan KPRnya masih terbentang 10 tahun ke depan. Kamu menutup chapter Bali dengan postlude menghapus eksistensi digitalmu sebagai simbolik kalau kamu sudah selesai dengan versi dirimu yang mengharapkan orang itu. Kamu deactivate akun twitter, blog dan website pribadi, kompasiana, hingga jika sebelumnya kalau kamu Googling namamu sendiri maka 2 halaman pertama adalah tautan relevan, kini kamu cuma bakal menemukan satu entry akun linkedIn, sisanya irrelevant.

Kamu yang berhenti menulis jurnal di blog dan website berdampak banyak kepada kemampuanmu menulis. Diksimu gak se-tweak dulu, pola kalimatmu nggak menarik, entry ini adalah buktinya. 

Sekarang April 2026, kamu sudah 34 tahun. Dibanding 10 tahun lalu, kamu lebih gendut dan jauh lebih kesepian. Sekarang karena pekerjaanmu full remote, kamu bisa menghabiskan 1-2 minggu tanpa keluar rumah, tanpa berinteraksi dengan siapapun. Semua teman-teman lamamu sudah pindah ke kota lain. Sesekali saat kesepian kamu akan mengingatnya dan hal-hal baik yang dilakukannya kepadamu, yang membuatmu jatuh cinta. Tapi kamu sudah menerima bahwa tidak ada yang bisa kamu lakukan dan kerinduan itu akan hilang dengan sendirinya, untuk muncul lagi sesekali. 

Ini bulan kelima kamu kembali mengalami gangguan tidur. Kamu nggak bisa tidur awal tanpa terbangun dengan mimpi buruk. Kamu hampir setiap hari terjaga hingga pukul 4-5 pagi, lalu tidur sampai siang. Kamu kuatir this will took a toll tapi merasa solusi yang tersedia hanya ke psikiater untuk diberikan obat tidur dan kamu gak yakin itu solusi terbaik.

Aku tidak bisa menyebut jika saat ini hidupmu lebih baik dibanding 10 tahun lalu. At least we still alive, and willing to. Semoga 10 tahun ke depan hidup semakin membahagiakan, ya, Nan. 

Monday, March 21, 2016

Naninya Pindah!

Awalnya, saya berniat menghapus blog ini. Sebulan lamanya di-deactivate namun kemudian seorang kawan baik bilang bahwa jelek-baik tulisan di masa lampau, itu adalah bagian dari dirimu. Maka biarkan saja mereka mengendap, kelak jika disambangi kembali, kamu bakal tertawa dan merasa bangga sebab bagaimanapun juga hidup belum mengalahkanmu. 

Haseg.

Jadi begitulah. Saya mengaktifkan kembali dalam rentang 90 hari toleransi blogspot dalam permanently deleting blog ini. Namun ini adalah posting terakhir, epilog, halaman penutup dari Kanal Pepat Suara.

Saya pindah ke www.rusnanianwar.com dengan segudang harapan soal menuliskan yang baik baik saja, yang bahagia bahagia saja. Sebab kata kata adalah doa, konon katanya. Hihi. 

Sampai ketemu di sana!

Monday, February 15, 2016

A Farewell

Sebagai yang gemar menitipkan perasaan pada setiap jengkal kejadian dalam hidupnya, aku agak tertelan blues kecil bernama pindahan. Yep, genap setahun aku ngekos dan meninggalkan rumah Abah. Meskipun sekota dan jarak antara rumah-kosan relatif dekat, tapi selama setahun terakhir frekwensi aku main ke rumah Abah bisa dihitung dengan jari. Bahkan saat lebaran aku menolak pulang dan memilih sendirian di kos dengan alasan bekerja. 

Sudah seminggu lewat sejak barang barang dipak dan dibawa pergi dari kos. Masih ada setengah bulan sewa yang tersisa. Aku sisakan beberapa barang dan baru hari ini main lagi ke kos pas istirahat siang. Men itu satu setengah jam paling reflektif dalam hidup hahaha.

Ada banyak sekali kejadian yang mengubah perspektif dan cara menjalani hidup setahun belakangan. Perkenalan dengan orang orang baru, pertemanan yang sedemikian akrab, persahabatan yang berhenti begitu saja dan satu-dua kejadian yang begitu mengguncang fondasi yang kukira sudah sempurna terbentuk.

Lalu keputusan keputusan dalam mengubah penampilan, untuk berkompromi dan memulai sebuah hubungan, untuk menerima kepahitan kepahitan. Wah umur 23-nya Nani menyenangkan sekali :))) Aku rasa jika keputusan untuk ngekos tidak diambil setahun lalu, mungkin aku tidak akan tiba di titik ini. Ini adalah milestone yang paling sulit kujabarkan. Berkali kali aku menyebutnya sebagai perjalanan. Namun aku sendiri tidak begitu pandai menjaskan perjalanan apa yang sebenarnya kulakukan.

Aku tetap bangun pagi, mandi, gosok gigi, berangkat bekerja, melakoni fungsi sebagai pekerja sebaik baiknya, pulang ke rumah, menyalakan aroma therapy, membaca buku lalu tidur. Tidak ada yang berubah sehingga aku tidak tau apa yang harus kupaparkan sebagai perubahan itu sendiri.

Yang aku tau, aku akan sembuh. Iya, sembuh atas penyakit yang aku tidak tau apa. Aku ceritakan soal ini kepada teman akrab dan kakak kesayangan lalu mereka mengurai pertanyaan pertanyaan baru yang membingungkan. Aku terus diyakinkan bahwa tidak ada yang salah denganku sehingga tidak perlu aku mengambil porsi untuk menyendiri sedemikian sering. Bahwa aku melakoni hidup yang baik dengan pekerjaan baik dan teman serta keluarga yang baik; seolah aku lupa dan tidak pernah bersyukur atas itu. Bahwa aku cantik cerdas lagi memesona sehingga tak perlu aku mengkhawatirkan soal jodoh sebab ada banyak lelaki yang akan jatuh cinta kepadaku di luar sana.

Kamu pernah berfikir soal bagaimana bisa mereka yang telah mengenal kita sekian lama justru terasa sangat asing dan tidak memahami kita? Oh kemarilah, aku bisa menceritakan sebuah dongeng soal itu hingga kamu terkantuk kantuk lalu tertidur atasnya.

Aku selalu bilang I'm an open book, semudah menanyakan "Ada apa?" lalu mendengarkan atau membaca blog yang telah kutasbihkan sebagai semata tempat mengurai gundah dan segenap pikiran sejak bertahun belakangan. Tapi mungkin aku tidak disayangi sebanyak itu untuk diketahui kabar dan isi pikirannya. And that's okay, aku sepenuhnya mengerti tidak semua orang memiliki banyak waktu untuk disiasiakan dengan memerdulikan mereka yang tidak membawa pengaruh apa apa dalam hidupnya, toh?

Now I'm sounds like an attention whore who ranting about "Why nobody's noticed me?"

Eniwei, momentum perpindahan kali ini membawa banyak bliss. Meski ada beberapa kali di hari yang berisik di rumah membuatku berpikir ulang untuk ngekos lagi, tapi aku suka kok. Utamanya lantaran aku bisa menepi dari kesepian kesepian yang kuciptakan sendiri, sebelum kembali ke kebiasaan bengong lalu menangis tanpa tau alasannya apa aku bisa bergegas turun tangga dan ngerecokin adik yang lagi main DOTA atau ngobrol dengan kakak. Lalu kembali ke kamar dengan baik baik saja.

Aku tidak tau bagaimana caranya menjelaskan tentang apa yang sedang kulakukan sekarang, yang aku tau, aku sedang menuju sesuatu.

And that's what makes this life worth living.


Coffee Toffee, 15 Februari 2016
Kepada keinginan untuk terselamatkan perjalanan ini bermuara.

Monday, January 18, 2016

100 Buku Untuk 2016

Lelah mata Hayati.


Hahaha, satu dari kepinginan (atau romantisnya; resolusi resolusian) di tahun 2016 ini adalah membaca 100 buku. Asal muasalnya dari goodreads yang terkonek di facebook dan kawan kawan saya banyak sekali membaca buku di tahun 2015 kemarin! Merasa tertantang sayapun membentang ingin untuk menuntaskan sekurangnya 100 buku di tahun ini. 

Januari masih panjang, apalagi Desember. Semangat menggebu untuk terus membaca menghantarkan saya pada sepertiga akhir di bulan ini dengan runut buku yang telah dibaca:

Aleph - Paulo Coelho
The Devil and Miss Prym - Paulo Coelho
Kereta Malam - Avianti Ahmad
Perempuan Yang dihapus Namanya - Avianti Ahmad
Anjing Anjing Menggali Kuburan - Kumcer Terbaik Kompas 2014
Senja dan Cinta Yang Berdarah - Seno Gumira Ajidharma
Philosophy 101 - Paul Kleinman
Pohon Pohon Sesawi - YB Mangunwijaya
Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer - Pramoedya Ananta Toer
Tiga Menguak Tabir - Kumpulan Puisi Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul Sani
Salah Asuhan - Abdoel Moeis
Perawan di Sarang Penyamun - Sutan Takdir Alisjahbana

Sengaja akan memposting buku buku yang dibaca setiap bulan under #2016ReadingProject sebagai ganti #OCDProject. Sengaja pula memposting ini sebelum Januari habis karena keknya saya butuh istirahat. Akan menghadiri konser AriReda bersama mas mas pujaan bangsa di 26 ini dan kepleset ke Bali empat hari sebelumnya karena masa membudak hingga setahun penuh tanpa cuti itu berakhir sudah. Corrie adalah tokoh terakhir untuk bulan ini yang saya izinkan untuk memporakporandakan hati ini. Bungcudh bangetlah, udah baper baperan pula mbaca sampe habis. 

Oke, ehm, lebay.

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/236x/e7/09/b1/e709b1c69ece15808a3552835bf2cc71.jpgYang saya takjubkan justru, saya ternyata punya banyak sekali waktu untuk membaca. Kebiasaan membaca buku berhenti sejak berganti pekerjaan. Saya ingat buku terakhir yang saya baca adalah Linguae-nya Seno Gumira dan itupun rasanya butuh berbulan bulan untuk menamatkan buku tak seberapa tebal itu. Alasannya; sibuk, malas, mending ngecek media sosial.

Mengganti kebiasaan itu ternyata semudah ini; selalu bawa buku. Jam kerja masih gila gilaan, lembur masih sekejam ibu tiri, hati masih dipenuhi lara bertubi, perasaan apalagi. Tapi dengan membawa buku, ternyata waktu luangnya lumayan banyak loh. Saat dalam perjalanan ke kebun yang berjam jam itu, menunggu revisian sibos, makan siang, sepulang kerja, sebelum tidur, belum lagi jika jadual nongkrongnya kosong. Banyak, berjam jam. Tidak sedikit buku yang habis dalam sekali duduk walopun beberapa butuh hingga 4-5 hari untuk menamatkannya karena either tebal atau berbahasa inggris. 

Eniwei, semoga kebiasaan baru ini bertahan. Untuk tidak dikit dikit tenggelam dan mengurai keentahan dalam jabaran jabaran serba rumit yang melelahkan itu. Mending membaca, atau belajar berenang. Atau jalan jalan. Atau nonton konser di kota orang.

Hidup memang selayaknya dijalani dengan perasaan senang.



18 Januari 2016

Gasabar menunggu duapuluhenam!

Monday, December 21, 2015

December OCD Project Week #2 & #3

Belakangan isi media sosial sampai blog hingga buku harian isinya soal diet dietan mulu hahaha. Sebagai upaya agar tetap konsisten sebenarnya. Agak telat mengupdate soal weekly progress lantaran biasa, pekerja (sok) sibuk.

Sejak memasuki minggu kedua, saya ubah pola OCD yang semula 8 menjadi 6 jam. Praktis jam makan berhenti di 6 sore dan memasuki hari ke 20, rasanya oke oke saja. Beberapa hari saya jebol (sigh) dan menunaikan makan malam tapi ya namanya hidup yaaaa.

#WEEK 2

Day  8

Meal 1 (12 PM) : Memasak fettuccine tuna bolognaise, steak dan sunny sided egg. Yum
Snack (3 PM) : Pergi ke Coffee Inc dan ngemil nachos, caramel frappucinno, es teh leci
Meal 2 (5 PM) : Nasi goreng kambing (karena diet, apa itu diet??)

Gym : 1 hour

Day 9
Seharian mondar mandir bank-broker office-notaris buat akad rumah. Alhamdulillah, akhirnya punya tempat buat dipanggil "Rumah Nani" plus 15 tahun hutang :)))) nyaris jebol lantaran jam 10 sudah kelaparan parah but still strooooong hahaha.

Meal 1 (1 PM) : Katering
Snack : Jeruk 2 buah, french fries, vanilla latte
Meal 2 (5 PM) : Chicken curry, takoyaki
Meal 3 (6.30 PM) : Fettuccine Carbonara

Gym : 1 hour + 100 jumping jacks

Day 10
Seharian dijuggling video conference kantor Jakarta - Malaysia. Akhir tahun yang melelahkan. Got a good memo from CEO about my work performance and might be (crossed my finger) transferred to Jakarta's office as KLK magazine editorial team. Amiin.

Meal 1 (1 PM) : Sayur bening, ikan goreng, ikan asin, empal jagung
Snack : Jeruk 1 buah, iced blended green tea, iced creme brulee, KFC molten lava cake
Meal 2 (5 PM) : Shake
Meal 3 (6.30 PM) : Chicken schnitzel

Gym : rest day 

Day 11
https://d2xngy2dw7hums.cloudfront.net/media/photos/products/2015/07/29/213411_24705157_thumbnail.jpgWeekend begini aktivitas mengunyah (dan belanja aaaakkk) rentan meningkat. Akhirnya beli G Shock impian semua gadis remaja dan kudu mengumpat beberapa kali lantaran harganya nyaris setara nasi padang 300 bungkus.

Tapi warnanya unyu sekali wuwuwuwuwuwuwu.

Meal 1 (1 PM) : 2 KFC Chicken, Chicken Soup, Perkedel
Snack : Cappucino, Pudding, Molten Lava Cake, Kacang Telur, Iced Tea Lychee. 

Gym : 1 hour + 100 jumping jacks
Today I've learned that the key of losing fat is keep on moving. Bergerak dan bakar, bergerak dan bakar.

Day 12
Anwar's Sunday Family Lunch! entah kebiasaan ini dimulai sejak kapan, tapi sejak bisa nyari uang sendiri memang selalu berniat untuk ngumpul keluarga sambil makan siang di luar setiap hari Minggu. Rencana yang kemudian terwujud di beberapa bulan terakhir, saat justru anggota keluarga Anwar tidak selengkap dulu. 

Meal 1 (12 PM) : Spaghetti tuna bolognaise, meat strip, telor
Meal 2 (2 PM) : Ayam KFC 1, molten lava cake, chocolate pudding, non sugar thai tea, french fries, cream soup
Meal 3 (5 PM) : Tenderloin steak, buffalo wings, unsweetened americano

Exercise : one SOLID hour of Pump It Up session. it can be considered as exercise juga kan ya kan ya :))

Day 13
Senin yang luar biasa kamu yang di kanan mana suaranya~~~ facial dan ketemu pizza plus mendoan, fak.

Meal 1 (1 PM) : Patin goreng 4 potong, sayur asam, nasi 1/2 porsi
Snack : Gorengan 4 potong, mendoan 3 potong, jeruk kecil 6 buah
Meal 2 (5 PM) : Pizza 2 slices

Gym : 1 Hour + 5 minutes of running (from kos to gym) + Jumping jacks

Day 14 - Scale Day
Sejak membeli timbangan sendiri perkara timbang menimbang ini sebenarnya sudah tidak dilakoni seminggu sekali tapi, well, enam jam sekali. Minggu ini turunnya ga seberapa sebenarnya, dari 84,2 (last week) menjadi 83,7. Merely cuman setengah kilo. Tapi lantas melihat meal journal seminggu belakangan dan ketawa sendiri. Dua hari jebol OCD dan sekurangnya 4 hari over eating. Wajarlah, so I took a note and move on ke minggu ke tiga. 

Meal 1 (12 PM) : Nasi, ceker, ayam bakar, terong teri
Snack : Roti unyil 7 biji, Onde onde 1 biji, 4-5 spoonful klapertaart
Meal 2 (7 PM) : Ayam lalapan, nasi, cumi saos tiram, burung puyuh, non sugar es jeruk.


WEEK #3
Target : Memulai joging pagi, mengontrol emotional eating

Day 15
Kelar subuhan dan mengikat tali sepatu tinimbang tidur lagi itu berat. Berat banget, bayangan atas kasur yang empuk, dingin dan mata yang sepet. Tapi ya itu, dalam remang kamar di subuh buta saya kembali mengumpulkan energi marah saya dan secepatnya mulai jogging. Mayan, 20 menitan yang berakhir dengan ngos ngosan tentu saja.
Meal 1 (1 PM) : Nasi, ikan bandeng, oseng sayur
Snack : Klapertaart, tiramisu
Meal 2 (4 PM) : Bihun, ayam goreng, udang goreng, cah sawi

Gym : 15 minutes
Aerobic : 45 minutes

Day 16
Craving adalah tantangan sebenarnya. Menahan diri dari keinginan tiba tiba soal makanan enak yang biasanya diikuti itu tantangan. Dibanding harus ngegym atau aerobik yang masya Allah bikin pegel itu misalnya. Hari ini mendadak pengen indomie, setelah rasanya nyaris 4 bulan tidak menyentuh mie instan. Hari ini OCDnya jebol kak, hiks.

Meal 1 (12 PM) : Nasi, steam ikan mas, semur jengkol
Snack : Gorengan 5 biji, susu jahe, tahu bacem 1 biji
Meal 2 (10 PM) : Indomie, ayam rica rica, sayap ayam 1 biji

Gym : 40 minutes, sauna 20 minutes

Day 17
Pergi ke Kodim untuk pelepasan peserta operasi bibir sumbing gratis yang disponsori perusahaan. Dalam perjalanan pulan sambil nonton hujan yang berkejaran dengan wiper, mikir soal "Siapa sangka di umur 23 aku bakal jadi budak korporat begini. Dulu mimpinya tinggi, jadi penulis dan tinggal di New York" sampai ditegor supir gegara kelamaan bengong.

Untuk saat ini, masih ada abah yang masa tuanya harus terjamin dengan baik. Ada kakak dan adik yang segenap kebutuhannya kudu terpenuhi. Ada rumah yang kudu direnovasi, ada milestone milestone harta benda yang ingin dimiliki. Jadi untuk sementara, jadi budak korporat pun cukuplah.

Meal 1 (12 PM) : Nasi, sop ayam, empal jagung 4 buah
Snack : Es buah, tahu sumedang 
Meal 2 (4 PM) : Batagor

Aerobik : 35 minutes
Gym : 15 minutes

Day 18
Weekend! Yay! OCDnya jebol!
Meal 1 (1 PM) : Tahu, dada ayam, buncis + kembang kol
Snack : Kentang goreng, Vanilla latte
Meal 2 (7 PM) : Fettuccine carbonara, chicken scnithzel
Meal 3 (11 PM) : Ayam saos mentega, nasi

Aerobik : 40 minutes, gym 20 minutes

Day 19
Anwar's Sunday Family Lunch! pergi ke ayam Blambangan dan menuai komentar abah "Nah baik ke sini daripada KFC" :))))

Meal 1 (12 PM) : Ayam blambangan, nasi, 3 potong tempe bacem

Gym : 45 minutes
Kaget pas nulis jurnal makan malam harinya, seharian ternyata cuma makan itu dan jujur, rasanya biasa aja. 

Day 20
Hari ini paketan Cambogia dan Yacon dari biotrimlab dateng. Genap sebulan pesanan ini mengarungi samudra dari USA sana. Konon bisa menekan hawa napsu jadi mari kita coba mengkonsumsi kombinasi ajaib ini!

Meal 1 (12 PM) : Nasi, tongkol masak merah, oseng kangkung
Snack : French Fries, non sugar iced green tea
Meal 2 (10 PM, OCDnya jebol lalalalallaaa) : Fettucinne con Tunna, chicken gordon bleu, calamary ring, cheese toast.

Aerobik 30 menit, gym 15 menit

Day 21
Hari kedua mengonsumsi produk biotrim dan rasanya.. nothing :))) gataulah ya, mungkin sugesti tapi ternyata memang ga laper dan napsu makan hilang. Ini testimoni Nani yang kalo biasanya kudu menggumam "Inget diet, inget diet" tiap ada makanan di kantor lalu barusan asli ga berminat menyentuh gorengan gratisan di pantry kantor.

Meal 1 (12 PM) : Nasi dikiiiiit, ikan goreng, sayur santan dan ga abis karena mendadak ga napsu ahahaha
Snack : peyek kacang dua gigit lalu eneg. Ini obatnya mutakhir banget men
Meal 2 : Shake


Gym : 1 jam.


Iseng nimbang dan bikin kolase dari hari pertama memutuskan untuk OCD. I'm actually scaling down. Masing masing foto di hari ke 3, 7, 14 dan 21. Dua puluh satu hari untuk 3 kilo rasanya bukan sesuatu yang buruk. Ditambah dengan banyaknya fase emotional eating dan jebolnya OCD.




Semangat untuk minggu ke 4!