Posts

Showing posts from April, 2011

Ruang Lokal

Image
Ruang Lokal itu nama segmen dalam Music Plus, sebuah program di radio FM Mentaya (Sampit), tempat saya siaran dua tahun belakangan. Konsepnya kurang lebih seperti Music Plus, di mana kami menyalurkan lagu lagu dari label besar seperti Nagaswara, Goodfaith, Trinity Optima dan sebagainya. Lagu lagu baru dari label cenderung senada, maklumlah, namanya juga label mainstream. Dari sini, band band pendatang baru yang dijaring label besar biasanya mendapat ruang untuk publikasi dengan menyertakan release. Berformat personil, inspirasi lagu dan sebagainya. Saya fikir, kalo Music Plus ini dibikin versi non-mainstream (baca: label independent), bakal seru. Sekalian menghidupkan lagi program indie yang sudah ga ada sejak empat tahun terakhir. Dan hari ini, 29 April 2011, segmen ini saya jalankan, menggantikan segmen Music plus Movie yang sudah jalan sejak beberapa bulan belakangan. Harapannya sih simpel banget, mudah mudahan segmen (bentuknya masih segmen, belum program) ini langgeng. Bertahan da...

In Memoriam, Gus Dur

Image
Telah gugur pahlawan bangsa Seorang pembela pluralitas dengan jargon sederhana “Tuhan Tidak Perlu Dibela” Seorang pemimpin yang lebih sipil dari jelata dan lebih gagah dari panglima. Seorang pembela minor, kembali pada-Nya. Dianggap gila untuk alasan luar biasa. DPR korup, berperilaku labil layaknya anak remaja. Yang labil, harus dicabut hingga ke akarnya. Ah, jika bapak masih jadi presiden negara ini, Saya yakin tak akan ada Crown Royal seharga 1,3 miliar terbuang untuk para mentri Tapi apa boleh buat pak, perlu sebuah mobil mewah agar para petinggi itu “terlihat” kompeten dalam tugasnya mengatur negeri. Jujur, Kami takut, duhai bapak yang telah kembali padanya. Kami takut tak lagi bisa bersuara. Kami takut, tak lagi bisa merdeka. menemukan tulisan ini di folder folder lawas komputer. Rupanya aku sempat menulis ini beberapa hari setelah Gus Dur wafat. Dalam kenangan, Gus Dur.

Bagaimana Caranya Pacaran di Sampit?

Pertanyaan ini melintas begitu saja saat Sabtu sore lalu aku memutuskan buat menempuh jalan HM Arsyad yang super crowdy demi beli kebab. Sepanjang jalan protokol itu, puluhan bahkan ratusan (meanly, RATUSAN) motor berjejer di trotoar dan halaman gedung gedung perkantoran yang rata rata sudah tutup. Waktu itu pukul lima sore. Entah lantaran aku yang kurang gaul atau karena selalu menghabiskan sore untuk siaran, aku tidak begitu ngeh dengan perubahan luar biasa di ruas jalan yang terkenal sebagai area tawaf itu. Well, mencoba mengingat ingat... mungkin terakhir kali aku jalan jalan di sore Sabtu melintas HM Arsyad itu pas kelas 3 SMA. Nah, semenjak putus dua minggu lalu dari sebuah hubungan super singkat, aku mulai mikir. "Gimana ya caranya pacaran di Sampit?" Sampit tidak memiliki mall, pusat perbelanjaan bahkan sekedar ruang publik yang sekiranya bisa disinggahi tanpa harus menelan resiko digodain mas mas iseng. Sampit tidak memiliki toko buku, bioskop bahkan toko makanan cep...

Siapa Bilang Kami Jalan di Tempat?

Image
Saya kembali mengingat ingat, kapan terakhir kali saya melibatkan diri dalam perbincangan ringan soal musik musik keras. Rasa rasanya nyaris setahun lalu. Kala kawan kawan memutuskan untuk membentuk sampit music community dan kami berkumpul di Nada Dua setiap Senin malam. Ya, rasa rasanya setahun lalu. Ini membuat saya berfikir, apa yang sebenarnya terjadi dengan pergerakan musik keras di kota ini. Entah lantaran saya yang terlampau lama alpa dan sudah tidak pernah bertemu kawan kawan komunitas lagi. Atau saya, yang begitu sibuk (tsaaahhhh pengangguran gini emangnya sibuk ngapain?) hingga tidak pernah sempat lagi memastikan yang sedang terjadi di bawah tanah sana. Atau mungkin, musik keras di kota ini sudah benar benar kolaps? Hingga tadi malam, sebuah pesan singkat masuk ke handphone saya, nomer asing. Perbincangan berlanjut dan di satu bagian pesan kami saling berbicara tentang Burgerkill. Bahwa dia dan bandnya tengah serius mempelajari lagu Angkuh milik band asal bandung itu. Saya t...

Ventriloquist

Image
Ventriloquist itu istilah untuk pemain boneka dengan suara perut. Saya pertama kali mendengar istilah ini dari film Dead Silence, tentang hantu Mary Shaw, seorang ventriloquist yang terobsesi untuk membuat boneka yang bernyawa. Postingan kali ini, saya tiba tiba terfikir tentang siapa yang ‘menggerakkan’ kita. Yang berbicara melalui kita, yang membut kita tertawa, menangis, bersuara, segalanya. Teori sains akan mengatakan semua itu merupakan reaksi neurotik yang kompleks pada otak besar yang memerintahkan syaraf untuk menggerakkan bibir, mengeluarkan suara, tertawa, semuanya. Teori teologinya lebih kompleks lagi. Ada Tuhan dibalik semua kejadian. Manusia tertawa, menangis, bersuara, segalanya berkat ‘lillahi ta’ala’, kehendak Tuhan yang maha tinggi. Atas restu dan keinginan-Nya manusia berjalan, berfikir, berniat, berdetak dll. Apakah juga Tuhan yang menggerakkan setiap perilaku cela manusia? Atau adakah konspirasi setan-malaikat dalam setiap tindakan yang manusia ambil? Sebagai ...

Tanned Nani

Image
Menghabiskan Sabtu-Minggu di semacam perkebunan Sawit nun jauh di mata. Tiga jam berkendara dan mengisi acara di sana sebagai MC (screw you if ever think that I'm being "pengisi acara" there :D) It been FUN. However, anything that you do for the first time always fun. Including 'Goes to Palm Oil Plantation', though :P Here's some picture: *aku juga lupa sejak kapan aku jadi self-centered kaya gini* Dengan bangga aku nyatakan. Nani menghitam dengan sukses!! :D *uhuk* Oks. Saatnya lanjut siaran :)) selamat siaaaaaaanggg!!!

Review: Headquarter - Kekasih Hatiku Berbadan Dua (demo single)

Bank punk-rock Palangkaraya, lagu lagunya sempat menggema dalam LokalKarya dan Boneka Tanah #2 yang digelar di Sampit, nyaris setahun lalu. Impresi pertama lagu ini? Liriknya gila! hahaha. Siapa sangka dibalik lagu yang notabene sekeras ini memiliki lirik yang aduhai. Mengingatkan saya pada lirik lirik 'binal' milik Kung Pow Chicken. Tidak banyak, saya rasa tidak banyak band punk seperti Headquarter. Kebetulan Anggri, vokalis mereka kerap wara wiri di halaman facebook saya dengan postingan postingannya. Sulit menyebut Headquarter sebagai band punk kebanyakan yang identikal dengan booze, hal hal njelimet soal filosofi hidup dan kosakata jalanan jika sudah terbiasa dengan status facebook Anggri yang begitu.... lah (speechless, mending temenan aja deh sama dia di sini ). Maka maafkanlah jika saya salah menyimpulkan bahwa Headquarter adalah kumpulan jejaka (yang entah masih perjaka) nan alim. " impresi anda tentang kami sangat benar! kami ingin jauh jauh dari hal rumit, keb...

Tanda Tanya

*Sok, disimak dulu trailernya :)* Film ini mendapat tanggapan pedes dari ketua MUI, Cholil Ridwan. Yang pengen baca baca beritanya sok mampir di sini . Aku belum nonton sih, masih harus menunggu beberapa bulan lagi untuk menikmati DVDnya. Jadi aku belum bisa bicara banyak. Sekedar pengen berbagi info saja, kalau ada loh, film asik tentang pluralisme. Dengerin monolog di awal film: "Manusia memilih jalan setapak yang berbeda, namun bertujuan sama: Tuhan,". Aku tidak menganggap ini sebagai bentuk syirik modern atau istilah istilah yang dilabeli penggiat islam 'kaffah' atau apalah itu. Aku menyebutnya sebagai pluralisme. Sebagai ilmu agama tahap transenden. Yang konon, jika manusia sudah mencapai tahapan itu, label agama bukan lagi persoalan. Akhirnya agama agama (baik semitik, non semitik maupun kepercayaan kepercayaan lain) memang sama sama membuat jalan menuju Tuhan. Bertujuan satu: Tuhan. Dan agama, adalah interpretasi atas pemahaman manusia atas Tuhan. Well, setidak...

Sukaaaaaa

Nemu video ini di link yang bertebar di twitter: *judulnya How to Say I Love You*

Pencuri Tuhan

Image
“Kita mau ke mana mak?” Aryo bertanya setengah menjerit. Ia dibangunkan pagi pagi buta dan disuruh mengemasi pakaiannya. Ibunya sudah belasan kali ia tanyai, namun tetap bergeming. Bungkam saja sambil terus menjejalkan isi lemari ke dalam karung gandum. Bapaknya juga sama, selepas solat subuh di surau depan rumah, pria yang selalu mengenakan sarung itu tak kalah sibuk memenuhi karung karung gandum dengan buku buku sekolahnya. Hari itu tanggal 15 Februari, Aryo tidak sekolah, kanjeng nabi tengah berulang tahun. “Cepat le, cepat mandi, nanti keburu pagi,” Ayahnya terus melongok ke arah jendela, mencari cari pagi. “Ono opo tho Pak?” Aryo tetap bertanya, ditepisnya cantelan kain dekat jendela, ruangan temaram berpenerangan lampu pijar sedikit menyala. Nyaris pagi. Jam dinding tersenyum di pukul lima dan ayah ibunya telah selesai berkemas. Aryo dipakaikan celana jins bekas lebaran tahun lalu oleh ibunya. Pintu rumah digembok, mereka menuju surau bersama karung karung gandum dan tas tas besa...