Posts

Showing posts from 2013

Logika Rasa

Image
Saya lupa mereview tulisan ini. Eniwei awal bulan silam saya mengkontribusikan tulisan alakadarnya untuk zine Suketteki yang terbit fisik di kota Malang. Yang berada di kota itu monggo disabet zinenya, gratisan ini. Disusun oleh Eko Marjani dan Hangga Rachman, dua penggagas scene alternatif Malang yang namanya udah malang melintang itu (sumpah saya ga kreatif banget hari ini) menjadikan Suketteki sebuah zine yang ga ada hubungannya dengan Jepang sama sekali. Suket teki kali ya, pepatah jawa soal gajah yang tertimbun rumput teki itu. Eniwei saya menulis ini; L o g i k a Rasa                               Rusnani Anwar | @polariaaa Tidak semestinya perkara rasa dijabarkan melalui logika. Demikian yang saya dengar dari kicauan tweet seorang pesohor akademik. Diam diam saya mengamini. Tidak selayaknya sesuatu yang definisinya saja tidak jelas ditempatkan dalam logika jika A adalah B maka B adalah ...

Makanya, Minta.

Minta, kamu bakal dikasih. Ini kata temen saya yang jago filsafat. Iya, terlepas dari konteks kanon sekalipun,  meminta  adalah kata kerja yang termasuk dalam kategori berkomunikasi. Kita manusia ini tidak pandai membaca gelagat pikiran orang -walaupun sebagian ada yang mengaku bisa membaca isi kepala orang melalui gesture dan pembacaan sikap- sehingga komunikasi menjadi kebutuhan penting. Mediumnya banyak, melalui tulisan, orasi, ceramah, lukisan, kode morse, apapun. Intinya adalah bagaimana menyampaikan isi kepada kepada manusia lain. Formatnya ada dalam banyak kata kerja. Menggugat, mengiba, memarahi, mencintai, atau ini, meminta. Objeknya bisa apa saja, barang atau jasa. Namun yang ingin saya tulis kali ini adalah wujud komunikasi interhuman bernama 'harapan'. Komunikasi interhuman? istilah ini tidak ada di rujukan manapun soalnya saya ngarang hahaha. Gimana manusia berkomunikasi dengan dirinya sendiri gitulah. Tuhan ada di kedalaman akal, kata kawan saya yang...

Label

Image
GOOGLE Disadari atau tidak setiap orang punya label di jidat mereka. Disengaja atau tidak, kamu dan saya menempelkan label pada setiap orang. Label berlaku untuk dua sisi dengan prefiks di-labeli atau me-labeli, objeknya diri sendiri dan orang lain. Melabeli diri sendiri adalah proses personal branding,  pencitraan. Seperti disebut di atas sengaja atau tidak setiap orang memilih label mereka sendiri. Playboy, heartbreaker,  matre, pembohong, baik hati, setia, rakus, kasar dan sejumlah kata sifat lainnya. Bagaimana sebuah label terbentuk? melalui repetisi tindakan. Kehidupan kian instan sehingga kini sebuah pencitraan bisa dilakukan  hanya dengan  repetisi ucapan. Seberapa sering kita berupaya untuk menegaskan sudut pandang dan ketetapan sikap melalui kicau twitter? Label itu kian rimbun, merangsek ke area yang lebih luas dengan ribuan suku kata baru. Label label yang bermuara pada sufiks -isme -isme, pada istilah istilah posmo, pada sebutan dan ciptaan b...

Mengunjungi Area Brengsel (lagi)

Image
Tiga tahun lalu adalah kali terakhir saya datang ke areal Brengsel (NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven). Kala itu tujuan saya untuk meliput kenangan atas kilang penggergajian kayu tercanggih / dan terbesar se-Asia Tenggara itu. (bisa dibaca di sini dan di sini ) Hari ini saya datang kembali untuk mengambil foto. Menyusul kabar akan dibangunnya Citywalk di area ini , rasanya sayang saja kalau saya tak sempat mengabadikan beberapa foto jika kelak tempat ini akan diratakan dengan tanah. Brengsel adalah bagian dari sejarah Kotim yang umurnya baru 60 tahun itu. Kilang penggergajian ini sempat menjadi sentra kehidupan masyarakat Sampit mengingat pekerjanya saja mencapai 2.000 orang . Mama kerap bercerita tentang taman kota Sampit dulunya merupakan lapangan sepak bola, gereja Maranatha dan Don Bosco, area pekuburan Kristen dan Mentaya Theater serta area bilyard yang semuanya berada di sekitar area brengsel. Juga jalan Gatot Subroto yang merupakan perumahan pekerja kelas me...

When We Connect, We Connected

Image
Era modern adalah era yang serba cepat. Mulai dari industri, pemungutan suara hingga makanan makanan siap saji. Akibatnya perspeksi terhadap waktu turut mengalami perubahan. Betapa 24 jam era sekarang sudah tidak terasa selama dulu, kala internet, peranti smartphone dan televisi yang menawarkan ratusan channel belum ditemukan. Saya lahir dan menjadi remaja tanpa internet, kala itu 24 jam sama dengan berjam jam bermain petak umpet dan berpuluh puluh buku komik. Tak heran jika saya kecil selalu merasa keberhasilan berpuasa sehari penuh adalah sesuatu yang wajib dirayakan dengan rengekan rengekan baju baru di hari raya. Kini saya selalu bersinggungan dengan internet dan peranti komunikasi. Kebutuhannya menjadi semakin besar sebab kini saya bekerja di televisi. Saya tak segan 'menagih' informasi dari orang lain melalui kedua media itu kapanpun di manapun. Pun sebaliknya, rekan kerja, klien dan siapapun menjadi berhak untuk menuntut informasi tersebut melalui kanal telepon, sms...

Damn, I'm Good

Image
Kegiatan bongkar membongkar kumpulan data tahun 2010 untuk kawan yang akan bertandang ke Sampit berujung pada sekardus penuh coretan tangan maupun print out puisi-sajak-cerpen era 2005-2010. Data yang dicari baru ketemu sebagian, saya yang perhatiannya gampang sekali teralihkan itupun sibuk membaca ulang, menertawakan cerpen cerpen yang ditulis saat SMP (salah satunya berjudul F4 Nyasar) lalu terkagum kagum dengan tidak kurang 214 lembar print out puisi-sajak yang semuanya ditulis di tahun 2010. Saat itu saya sign out dari koran di bulan agustus dan menjadi pengangguran hingga akhir 2011. Satu satunya sumber penghasilan adalah siaran radio yang jumlahnya tidak lebih dari 300 ribu per bulan. hahaha. Dalam kondisi demikian, indra perasa saya menjadi sangat sensitif terutama untuk perkara kemiskinan. Semua hal menjadi tidak benar, semua hal menjadi tidak sesuai. Dalam kondisi serba tidak nyaman itulah puisi puisi satir muncul dan hingga saat ini, saya sangat menaruh respek pada ...