Posts

World After 85 Scale

Image
Two IGD visits, numerous times of doctor appointment and I'm still a sad, sad fat girl.  I'm cursing A LOT lately, especially during night because I'm hungry as fuck.  Kondisi tubuhpun menurun drastis, saya sangat sangat mudah lelah. Satu lembur saja mampu membuat saya dan dokter langganan keluarga ketemu. Rasanya nyaris delapan kali saya bolak balik dokter untuk keluhan keluhan ringan seperti demam, flu, sakit kepala, pingsan gegara kurang tidur, maag hingga yang paling mutakhir, jatuh dari motor gegara somehow saya kehilangan fungsi gerak. Lalu beberapa kejadian paska ditasbihkannya niatan diet itu, dua bulan tepatnya, saya kembali berdiri di atas timbangan badan sambil menggumamkan sejumlah umpatan dan voila. Satu onspun tidak berkurang. Saya tetap seorang perempuan kelewat gendut dengan berat 85 kilo. Saya kira saya bakal menangis sejadinya, atau kecewa hingga ubun ubun, atau menyalahkan pemprogram diet saya. Nyatanya tidak. Oke, saya menghabiskan se...

World From 85 Kg Scale

Image
Saya lahir, tumbuh, dan menjalani hidup sebagai perempuan gendut. Gendut banget, malah. Saya ingat kala SMA bagaimana sebutan sebutan dan joke joke klasik soal orang gendut lekat dengan keseharian saya. You know lah, when Idul Adha comes and they're asking about "Eh kok ini satu ga dikurbanin" and others cetek jokes. Saya tidak menyebutnya sebagai bullying. Saya toh tidak depresi walopun setiap hari adalah living hell, saya tidak lantas menyayat nadi atau menerjunkan diri ke sungai walopun keinginan untuk itu melintas sesekali. Saya memiliki kawan baik, sekolah dengan normal, lulus dengan nilai cukup dan menjalani hidup layaknya perempuan (gendut) normal pada umumnya . Mungkin puncaknya adalah tahun ini, belum pernah scale saya mentok di angka 85. Berat paling 'ringan' saya adalah saat wartawan dulu, 72 kilo. Bayangkan saja, perempuan dengan tinggi cuma 158 beratnya 85 kilo. I'm so fat I can't even see my toe when I looked down. Terlepas dari ...

Lower Class Wisdom

Tumbuh besar di keluarga dengan ekonomi rendah mengajarkanmu soal ini: you have to blend in if you wants to have a peaceful life. Saya senantiasa diajarkan untuk tidak neko neko , tidak mengikuti hal hal kekinian saat itu. Tidak pergi darmawisata, tidak membeli baju baju populer, tidak nonton konser, pokoknya jangan aneh aneh.  Setiap berdiskusi dengan ayah soal perkara yang sedang ramai dibicarakan, ayah selalu menjawab "Ikuti apa kata orang banyak saja" dengan alasan itu tadi, orang orang miskin jika ingin hidup tenang, wajib bagi mereka untuk tidak menonjol. Lower class wisdom ini saya bawa sampai usia belasan. Untuk tidak menonjol, untuk blend in dan menjalani hidup yang peaceful dan apa adanya. Kalau dipikir di kondisi sekarang, apa yang ayah saya ajarkan benar adanya. Mau lower class mau higher class mau top class sekalipun, kita manusia ini apalah selain sebutir debu di lautan kosmis. Keinginan untuk menonjol, menjadi berbeda, unggul dari satu dan ...

September

I wrote this during my first day of period and I watched Ted 2 until 3am so forgive me for all the bad words and curses in this post. September supposed to be a nice, cold, fresh breeze month. As in another continent do, they're entering fall season. Indonesia SHOULD be in wet season now, when there's a nice dark cloud hanging in every corner of the sky and cold water actually pouring from the cloud. Just like 5-6 years ago. But not now, something has changed our weather season into Dry and Smoke season. So bye cloudy day and welcome to a fucking humidity day with tons of carbon dioxide from the hound of hell. God please bring back the rain.

Keresahan Perpindahan

Image
"Tidak ada yang berketetapan di muka bumi kecuali ketidaktetapan itu sendiri" Rekan sejawat saya dalam dunia tulis menulis di jejaring maya bernama blog, Bapak Ilham Satrio telah mengembangkan blognya hingga sedemikian mutakhir saya sampai malu sendiri bermain ke stereofolk.blogspot.com dan dialektikata.blogspot.com miliknya. Rasanya seperti bertandang ke rumah kawan lepas naik haji gegara menang undian alfamart hahaha. Megah, besar lagi matang. Posting kali ini akan banyak berisi keluhan. Saya menahan diri untuk tidak banyak mengeluh karenanya sepanjang tahun posting blog yang memang ditujukan untuk menelan segala keluhan ini hanya sejumlah hitungan jari.  Saya larut dalam terlalu banyak kenangan dalam rentang tidak hanya bulan tapi bertahun tahun belakangan. Saya telah menjadi seseorang yang sedemikian sensitif terhadap kenangan hingga sejengkal bait lagu atau sepenggal kalimat random bisa memicu tangis. Saya cengeng, melankolis, pesimis dan tidak begitu pandai ...

Obstacle

Image
Why its so hard to say : "Please stay, I'm not okay" or "I admit it, I'm weak and I need your help" instead of pushing everyone who cares about you away and refuse to accept a help from a pure hearted people? Why its easier to say : "Go, I don't need your help" or "Your attention makes me dependent" Why its so important for me to be independent? As if when someone help me I'll drown into an endless hole of moral duty? I can't live that way yet I don't want to feel like I'm using or taking people for granted. Or maybe, Maybe I just had to find someone I can relying to without feeling guilty at all. 9/9/2015 I've learned to say No thanks before Thank You, I guess.

Sublim

Pencapaian purna atas kehidupan adalah bahagia tanpa bantuan. Tinggalkan runut kebutuhan primer sekunder tersier atau kebutuhan psikologis a la Maslow di belakang. Tidak ada yang mampu mengalahkan kebahagiaan yang dilakoni sendirian. Sungguh.