Wednesday, August 21, 2013

Procrastinate

Saya menunda lagi, niatan yang dengan berapi api dilontarkan sebagai resolusi Januari silam. Beberapa kesempatan yang datang untuk bekerja di luar Sampit saya tampik dengan alasan belum siap terlampau jauh dari rumah. Tidak akan pernah ada kata siap, yang ada hanya kompromi. Kompromi untuk menjadi siap dengan menihilkan satu dua alasan ketidaksiapan. Oh betapa teori ini mudah untuk dituliskan ke dalam posting polesan pretensius.

Saya selalu bosan, mungkin ini masalahnya. Sebagai akibat untuk menuntaskan rasa bosan, saya merasa berkewajiban untuk senantiasa bergerak. Urung setahun, saya sudah terpikir untuk berhenti bekerja di televisi. Kapan saya jadi sesuatu kalau karir tidak kunjung dibangun? 

Cieehh, sesuatu.

Beberapa kabar lain adalah berat badan turun 6 kilo (yay!), saya sendiri tidak mengerti atas keinginan berlebih dalam menjadi kurus ini, padahal komentar orang sekitar hanyalah "Waaa, Nani kurusan sekarang," dan udah itu aja. Nobody gave me gold or money by doing that. 

Lainnya, saya membuka akun instagram dan berniat untuk memulai series photo post bertagar #SaveSampitHeritage menyusul keprihatinan atas dirubuhkannya menara Taman Kota yang sudah berumur puluhan tahun dan rencana menjadikan area Inhutani III untuk pembangunan mall (source : http://radarsampit.net/berita-usung-konsep-sampit-citywalk.html), sekolah dan RS di area eks NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven (lengkapnya disimak di sini). Kelak akan berisi foto2 rumah tua yang berasitektur khas yang memanjang di pinggiran sungai Mentaya dan foto2 lainnya. Mainlah ke akun RUSNANIA.

Oya, selamat lebaran dan kemerdekaan bagi yang merayakan yah :)

Tuesday, July 16, 2013

Langgam Maya

Sudah keburu 2013 untuk mengkritisi soal bagaimana internet sudah mengubah generasi sekarang dan bagaimana generasi sebelumnya memaknai perubahan tersebut melalui hashtag #generasi90 yang disebarkan melalu internet jua. Saya sendiri tidak tau berada di generasi mana. Terlalu tua untuk menjadi generasi maya dan terusir dari generasi 90 tadi. Yang pasti, internet telah menjadi bagian dari sekurangnya 24 jam perputaran hidup. Informasi yang sedemikian mudahnya diakses membuat saya menjadi pelupa. Soal mana yang lebih penting dan apa yang sebelumnya saya pikirkan hingga berakhir pada situs situs absurd atau lepas ratusan gambar di 9gag.

Sekarang bulan puasa dan saya bekerja di media. Kesibukan justru menemui puncaknya, setiap hari berkutat soal acara acara yang mengkhutbahkan diri sebagai spesial ramadhan namun toh ujung ujungnya profit dan share penonton. Keluh? saya rasa bukan, sejak dulu saya memang seorang yang pahit dan saya sadar betul soal itu. Karenanya tidak banyak yang bisa saya lakukan setelah marathon bikin konsep-eksekusi episode perdana siaran langsung jelang berbuka- berbuka puasa di kantor- lanjut siaran hingga sepuluh malam seperti sekarang kecuali menulis.

Menulis untuk menuntaskan keluh, sebelum saya menumpahkannya kepada ketidakseimbangan satu dua hal di rumah. Keinginan untuk segera keluar dari rumah semakin membesar, agar jika saya saat ini tengah memasrahkan diri dalam lingkaran nyaman pekerjaan, sekurangnya saya tidak turut menyamankan diri dengan kehangatan rumah. Saya hanya sebisa mungkin menjadi 'kuat' atau apalah istilahnya.

Kenapa zona nyaman begitu berbahaya? sebab konon definisi 'nyaman' adalah kematian. Saat tidak ada yang dikuatirkan, tidak ada yang dikejar dan tidak banyak pengharapan diuntai. Jadi yang berada di zona nyaman adalah orang orang yang sudah mati. Saya belum mau mati sebab kehidupan belum mempertemukan saya dengan definisi hidup. Saat ini, perjalanan masih terus ditegakkan.

Kenapa keluar dari rumah menjadi begitu penting? Saya sadar posisi saya sebagai perempuan yang hanya akan keluar rumah saat seseorang mengajak saya memasuki rumahnya. Saya tidak akan pernah punya tempat sendiri untuk disebut rumah dan menjalankan hal hal sepele seperti : benar benar menghidupi diri sendiri.

Ini memang terdengar merepotkan, namun menikah masih belum menjadi tujuan saya saat ini, di usia 21. Saya tidak tau apa yang besok akan bawa tapi niat untuk terus melakukan perjalanan untuk menemukan hidup masih sedemikian besarnya. Untuk menemukan sebuah momen, ruang dan waktu yang membuat saya berkata "Sudah cukup"

“You are not the child of the people you call mother and father, but their fellow-adventurer on a bright journey to understand the things that are.” Richard Bach


A Rainy Day in Queens in 1913. taken from here 

Wednesday, July 10, 2013

Let It Rain - Stereofolk #3rd Mixtape

Generasi sekarang akan semakin jauh dengan sensasi perasaan saat menerima sepucuk surat dari pak pos. Atau menunggu nunggu postcard saat lebaran tiba. Stereofolk.blogspot.com tau hal itu dan dengan effort (yang saya yakini tak sedikit) ia mengemas mixtape ketiganya dalam wujud fisik dan dibagikan GRATIS. Jadi jika tidak mampu mengapresiasi dengan resensi panjang lebar soal pemilihan lagu dan keterkaitan tema, maka saya lantunkan terimakasih virtual dalam posting ini. 

Let it Rain adalah satu jam duapuluh satu menit yang menyenangkan untuk didengar di siang hari dengan hujan gerimis malas, perut setengah terisi dan kantuk yang menjadi selimut sempurna. Kencangkan headset dan tidur -atau galau- :) dan selepas for folk's sake yang hingga saat ini masih kerap saya putarkan di radio kala malas bicara, Let it Rain adalah sekuel, atau chapter baru yang menarik dari blog ini.

Segera menuju stereofolk.blogspot.com untuk mixtape ini, my favorite part : penempatan musikalisasi puisi Sapardi Djoko oleh Ari Reda (?) pada lini terakhir


Sampit, duabelas siang, gerimis musim penghujan.

Saturday, July 06, 2013

Tempus Fugit

Selang semester dalam pekerjaan baru, saya belum (syukurnya) menemui jenuh. Pekerjaan kali ini menawarkan lebih banyak variasi dalam rutin, lebih 'longgar' dan memungkinkan saya untuk melakukan banyak hal. Ditambah dengan gaji yang lumayan sih :p

Masih berkutat dengan delapan jam siaran radio per minggu dan empat shift malam sepanjang bulan puasa tentu akan membawa konsekuensi semacam : saya tidak punya banyak waktu luang. Pada titik ini, mencuri curi waktu untuk sekedar menulis posting blog sampitculinary.blogspot.com dan twitteran adalah berkah. Jadi maafkan jika saya tidak punya cukup waktu (dan energi) untuk bersenang senang layaknya anak mudah zaman sekarang yang tengah dilanda gelombang cinta.

Maklumi atau berlalu. Saya sudah cukup bersenang senang dengan ide untuk membangun kios kecil untuk usaha kakak dan mendukung ponakan agar menjadi anak berbakti dan berguna untuk nusa bangsa. I might be an outcast, anak kurang gaul yang menyandarkan sembahnya pada New York. Kehidupan toh akan terus berjalan dan waktu akan berlalu. Saya hanya ingin kelak di saat meregang nyawa, saya sempat berbisik pada diri sendiri : "Setidaknya kamu sudah mencoba menghidupi mimpi"

Thursday, June 06, 2013

Featured : Zine Late For School #3

Penampakan LFs #3 setelah difisikkan
Beberapa waktu lalu saya menemukan Late for School melalui twitter. Kini, sebulan berselang merekapun merilis edisi ketiga. Yang dibahas edisi kali ini adalah curhatan galaw para editor pemilukada yang bakal digelar 2014 kelak. Edisi #3 mengandeng beberapa kontributor yang cukup untuk mem-boost halaman hingga berjumlah delapan. 

Tak seperti edisi sudah sudah, kali ini mereka sengaja merilis dalam versi .pdf printable. Jadi, kalau dibaca via .pdf, lumayan njelimet. Versi fisik akan segera beredar di Bloodshine Merch Jl. Ki Hajar Dewantara depan SMKN PGRI. Atau download di sini

Saya mendapat kehormatan untuk turut menulis dalam zine ini.
Click to enlarge

Paradigma Kebebasan Kotak Suara
/Sejak awal, pemilihan umum adalah akumulasi lawak sarat/ dimana birokrat, tengkulak, cukong dan militer bersejawat/

Konon, kita telah memasuki masa modern. Di mana demos dan kratos sudah diterapkan pada nyaris seluruh belahan dunia. Demokrasi menjadi bahasa modern, sebab bahasa bahasa lain sudah menemui titik kadaluarsa dan tidak lagi efisien.Haram hukumnya jika kita tak berbondong-bondong memuja berhala modern bernama kebebasan. Kebebasan memilih, meski dibatasi pilihan hasil olahan kapitalis yang berdalih telah menegakkan fatwa soal verifikasi dari persetujuan para petinggi.

Efisiensi demokrasi sesungguhnya patut dipertanyakan.Terutama terhadap negara seluas Indonesia.Seberapa banyak kertas, kotak suara, celupan tinta dan pengadaan komputer untuk pemilu elektronik yang dihabiskan hanya untuk sebuah hajat lima tahunan yang digelar bergerinjal di hamparan nusantara. Lantas terdengar sayup korporasi pencetak, penyedia tinta, suplier kotak suara yang berbahagia setelah menang tender ratusan juta.Di atas semua itu, rakyat pemilik suara musti legowo menerima kemungkinan penggelembungan suara, invaliditas pencoblosan dan harapan harapan yang tak terpenuhi. 

Lalu negara membangun pengawas pemilu, menunjuk tim investigasi, lalu KPK, dan seterusnya, dan seterusnya. Demokrasi yang konon merupakan produk modern –meski telah melalui peradaban ribuan zaman- itu, toh harus tunduk jua pada sistem olahan manusia manusia mutakhir bernama birokrasi. Pemilukada Seruyan menuai harapan sekaligus pembuktian.Bahwa roda kekuasaan serikat keluarga Darwan Ali bisa dihentikan dengan terpilihnya pasangan independent yang merogoh 53 persen suara. Harapan bahwa pemimpin baru bisa memberikan kemakmuran yang diidamkan, sekaligus pembuktian bahwa masyarakat kian cerdas dalam memilih pemimpinnya.

Sebentar. Cerdas? Apa yang menjamin bahwa birokrasi berbelit perkara kepengurusan izin, akses peradilan dan kesehatan akan terurai menjadi lebih singkat dengan terpilihnya pemimpin baru ? Ini sebenarnya semacam ilusi Jokowi, ilusi pembangunan citra dan sorotan berlebih terhadap kesuksesan program program non prioritas. Semacam ibadah televisi. Berhala rating dan deretan saf panjang menuju pemuaraan persepsi.

Atau rakyat yang sedemikian lemah daya tahannya, hingga ketika digempur oleh janji dan iming-iming soal pendidikan gratis, akses kesehatan mudah dan kemakmuran merata menjadi tak ubahnya oase di selatan Ujung Pandaran yang amit-amit gersangnya luar biasa. Sekarang warga Kotim bisa menikmati perwujudan tahun ketigadari permakmuran merata dan pendidikan gratis. Berupa patung ikan senilai 40 miliar.

Dan lupakan soal e-KTP saya yang nyasar entah kemana berkat kusutnya sistem distribusi dari para camat melalui lurah dan ketua RT. Jangan bahas soal antrian panjang BBM, para pengecer minyak tanah yang terancam kehilangan pekerjaan dan melambungnya harga bawang. Semua itu bisa terentaskan dengan sibuknya bupati menyusun jadwal debat terbuka atas pembangunan patung ikan seharga 40 miliar. Beserta bonus tempat wisata. Percayalah, kita ini tengah bergerak cepat membangun Kotim.
@bakunins
Semoga edisi #4 tak berjeda terlalu lama yaaa :D
Support our local scene!


Wednesday, June 05, 2013

Kemungkinan Itu Bernama New York

Taken from here
Pergi dan berkehidupan di New York adalah keinginan terbesar dari sekian keinginan keinginan besar yang saya punya. Untuk menjadi newyorker, untuk berjalan di pagi hari lalu membeli roti untuk sarapan, atau duduk di bangku taman di suatu musim semi. Menjalankan hidup, dan menjadi hidup. Walau hingga sekarang saya belum tau apa definisi hidup itu sendiri. Sejak saya paham bahwa tidak ada yang salah dari bermimpi (yang mengada ada sekalipun), keinginan itu masih sama besarnya. Masih menjadi alasan untuk bergumam gumam dalam bahasa inggris di kamar mandi. Alasan, untuk terus mengayuh ingin dan usaha untuk bisa ke sana. Entah bagaimana.

Lalu pagi ini saya bangun tidur dengan beberapa kemungkinan untuk bisa sampai ke New York;

Scholarship
Ini adalah alasan mengapa saya belajar sedemikian kerasnya hingga lolos masuk ke SMA terfavorit kala itu. Penyebab kantuk bermalam malam untuk menghapal tensis dan verb agak kelak ketika saya melanjutkan ke perguruan tinggi jurusan ilmu bahasa inggris, saya bisa melenggang gampang dan mendapatkan scholarship untuk pertukaran pelajar. Sayangnya saya tak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi untuk alasan biaya. Dua bulan setelah mendapat ijazah saya mulai bekerja dan hingga sekarang, biaya itu tak pernah cukup. Mungkin beasiswa bukan jalan saya untuk pergi ke New York. Meski demikian, sekurangnya saya sekarang bisa berbahasa inggris dan bekerja di tempat yang baik

Paket Wisata
Ini kemungkinan paling mudah. Biaya tur ke New York selama sembilan hari kurang lebih USD 2.400. Semudah menabung selam dua tahun dan semestinya saya bisa berangkat saat ulang tahun ke duapuluh dua. Tapi posisi New York dalam kepala saya kadung menjadi wadah untuk berkehidupan. Untuk berjalan kaki di pagi hari dan membeli sarapan, untuk duduk di bangku taman saat musim semi. Bukan berlari lari kecil diburu jadwal tur dan berfoto sekenanya lalu pulang, kembali.

Green Card / Working Visa
Sejak Adam Levine memposting foto dirinya bersama mbak Ani, pembantunya, saya semacam mendapat pencerahan. Bahwa masih ada kemungkinan untuk tinggal di New York. Dengan menjadi pekerja di sana. Ini mungkin konyol, saya sebegitunya ingin berada di New York hingga tidak mempermasalahkan jika kelak bekerja menjadi babu di sana. Tau standar gaji housekeeper pemegang working visa? USD 3.500, nyaris 34 juta selama satu bulan. Uang segitu cukup untuk menyewa apartemen studio, makan normal satu bulan dan tiket bis. Selebihnya kita lihat nanti.

Rabu Siang, dalam browsing agen penyalur tenaga kerja ke Amerika

Monday, May 13, 2013

Sampit Berisik Present ; Silent Scream

"Nama acara ini tuh apa ya?"

Saya tak sengaja melontarkan pertanyaan ini kepada salah seorang pembesut kegiatan, Mas Edy, saat acara setengah berjalan. Pasalnya, saya mendapat rantaian pesan singkat yang menyebut Sampit Berisik namun kemudian menemukan backdrop panggung berbuyi Silent Scream. Beliau tertawa dan bilang kalau ini (belum) Sampit Berisik, namanya Silent Scream. Gig kecil sebelum nanti digelar Sampit Berisik yang lebih besar. Dan konon akan mengundang nama besar dalam skema blackmetal indonesia. ihiy.

Maka begitulah, sebuah gig yang diprakarsai (Mas Agus yang resmi membuka Bloodshine Merch malam itu), Mas Edi, Padung Hitam dan komunitas metalcore Sampit berlangsung sejak pukul setengah delapan malam di halaman gedung KNPI. Saya datang bersama kru dari zine Late for School yang mengemban tugas mulia : untuk membagikan sekurangnya 50 pcs zine laknat itu kepada kawan kawan luar daerah. Yang kemudian habis dalam hitungan menit. Soalnya dikit. Hahahaha.


Panggung dijejak pertama kali oleh Brutu Fuck yang membawakan dua nomor pembuka. Band asal Palangkaraya ini sukses mengencerkan dahak yang serak dari crowd yang kemudian mulai bergerumul dan membentuk shaf rapih di lini depan panggung. 

http://www.facebook.com/Ryugahi
Penampil kedua adalah Dread Out, band Sampit yang malam itu sukses menarik massa untuk terus maju dan memulai ibadah headbang. Redemption dan Redneck dari Lamb of God dibawakan dengan apik hingga tanpa terasa kaki saya mulai pegal lantaran terlalu lama berdiri.

Sempat disinggung bahwa crowd tak terlalu bersemangat malam itu. Sebab jika dikomparasi dengan Boneka Tanah #2 dan #3 yang digelar nyaris setahun lalu, massa terlihat lesu. Bisa jadi lantaran berbedanya genre yang diusung, atau semata lantaran kekurangan teknis seperti sound yang kurang menggelegar. Tapi, untuk skala gig independen yang diselenggarakan berkat dana kolektif, Silent Scream ini tergolong sukses sebab ia berhasil menunaikan fungsi utamanya: sebagai wadah berkumpul dan bersenang senang.

Okesip, lanjut. Yang digadang gadang menaiki panggung dan melancarkan nomor nomor pamungkasnya. Blackmetal dari Sampit, Padung Hitam membawakan lagu mereka sendiri Dunia Hitam, Sakaratul Maut, Kematian, Siksa Akherat dan satu lagu Dimmu Borgir, Moarning Palace.

Setelah puas dengan aura mencekam di atas panggung, kita kita penonton keceh inipun disuguhkan BLFF yang membawakan beberapa lagu Asking Alexandria. Penampilan mereka cukup untuk melemaskan segala yang tegang setelah berbaku hantam dengan empat band sebelumnya.

http://www.facebook.com/Ryugahi
Brutu Fuck kembali tampil. Kali ini dengan format orkes keliling mereka membawakan sekurangnya sepuluh lagu. Dengan durasi masing masing lagu semacam Beca Tiguling Mesin Tempur yang dipepatkan dalam satu gebukan drum. 

Penutup, Battle Death tampil dengan berbeda sebab mereka satu satunya penampil dengan suara jernih yang bernyanyi. Menjadikannya semakin menarik sebab lagu merekalah yang diperlukan untuk menuntaskan klimaks yang telah dicapai. Tsah.

Silent Scream, Sampit Berisik atau apalah namanya acara ini, saya rasa sudah lebih dari cukup untuk menegaskan perihal skema independent sampit, terutama genre metalcore.

Terimakasih atas penyelenggara yang telah menyuguhkan sebuah panggung apik untuk kami. Semoga kelak bertemu lagi gig kece semacam ini :')

Saturday, March 16, 2013

Kepala Polisi

"Pak, tolong saya dan keluarga saya Pak,"
Perempuan itu tersungkur tanpa banyak upaya.

Kepala polisi nyalang, nampaknya sedari tadi ia terantuk antuk menahan kantuk. Sebab tak banyak yang ia lakukan belakangan ini. Kecuali sesekali berpidato dan memimpin upacara. Ia berdehem di sela kumis yang dicukur tipis.

"Mau minta tolong apa, mbak?"

Perempuan yang sedari tadi menunduk kini menatap lurus ke arah kepala polisi. Wajahnya lebam, biru keunguan menggelayut di mata kanan, sementara bekas sundutan -seperti rokok- di pipi kiri yang berakhir pada jahitan di sudut bibir yang nampak masih basah. Tangisnya luruh, perempuan itu tengah menjadi bulan bulanan lelaki yang memperistrinya.

Kepala polisi berderak, seperti ingin batuk namun ditanggalkan. Sementara tangin perempuan itu kian deras hingga menggenangi sebagian teras kantor polisi. Ia tengah memikirkan jawaban paling memuaskan untuk perempuan itu. Dirinya menginginkan peradilan yang tertegak tinggi, apalagi jika menyangkut harkat martabat perempuan, perwujudan dari ibunya sendiri.

"Begini, mbak bisa masuk ke dalam ruangan penyidik yang ada di gedung utara, lalu nanti petugas yang ada di sana akan mencatat setiap aduan mbak secara rinci. Setelahnya, akan dilakukan pengusutan, jika terbukti bersalah, suami mbak akan dijadikan tersangka

Kepala polisi bergumam gumam, disimpannya kalimat itu dalam hati. Ia tau pasti prosesnya tidak akan segampang itu. Apalagi jika perempuan di depannya bersuamikan petinggi, atau setidaknya, orang kaya yang mampu menggotong pengacara ternama. Akan lama, berbelit serta bukan tidak mungkin jika justru perempuan itu yang akan masuk penjara.

"Atas tuduhan pencemaran nama baik"
Tanpa sadar kepala polisi bersuara.

"Ya, Pak?"

Kepala polisi berdehem
"Ah, bukan apa apa mbak. Begini, coba ceritakan dulu sama saya soal masalah mbak ini"

Meluncur deras kalimat kalimat mengiba dari mulut perempuan yang airmatanya kini sudah semata kaki setiap petugas polisi di kantor itu. Kepala polisi hingga harus berkali kali menegur agar sedu sedan perempuan itu tidak menutupi tutur aduan yang sedang disampaikannya.

Saat matahari kian meninggi dan airmata sudah sedengkul, tangis perempuan itu reda seiring dengan selesainya ia mengadu. Kepala polisi menghela nafas panjang untuk kemudian meminta waktu untuk berpejam dan mencarikan solusi untuknya.

 "Benar dugaanku, suaminya seorang petinggi"

Masih bersimpuh, perempuan itu bersuara

"Jadi bagaimana, Pak?"

Di sela hela nafas yang kelewat panjang, kepala polisi berkata

"Begini, mbak bisa masuk ke dalam ruangan penyidik yang ada di gedung utara, lalu nanti petugas yang ada di sana akan mencatat setiap aduan mbak secara rinci. Setelahnya, akan dilakukan pengusutan, jika terbukti bersalah, suami mbak akan dijadikan tersangka"

Perempuan itu beringsut mengenakan sendalnya, sementara airmatanya menguap terpapar matahari, mengkristal layaknya garam.

"Nanti setelah istirahat makan siang"

Kepala polisi lantas terpejam, lalu menggelinding pergi.

Thursday, March 14, 2013

Review : Zine Sampit Bernama Late For School

Jadi begini, saya sesungguhnya berniat buat kalem dan mereview zine ini seanggun mungkin. Namun maafkanlah, saya jejeritan -tertahan- dari dalam kubikal tempat segala kemuliaan internet berasal berkat 7 halaman zine ini. Late For School saya terima tadi malam, edisi kedua. Terkutuklah yang membuat saya tak lagi mampu mendeteksi perkembangan perindiean Sampit. Terlepas dari itu, zine ini mengingatkan saya pada dua zine favorit saya saat ini; Apokalips dan Paperzine.
Edisi Pertama Late For School

Apalagi kalau bukan rentetan kalimat anti-kapitalis, profil Homicide dan gaya bahasa Late For School yang mengingatkan saya pada dua zine di atas. Meski baru dua edisi, senang rasanya bisa membaca tulisan tulisan seperti ini dengan lingkup bahasan yang lebih lokal. Seperti kondisi jalanan Bagendang, misalnya. Atau sekutip dua kutip kalimat berbahasa Sampit serta review musik mereka yang cukup menarik.

Zine ini layak mendapat wadah dan kesempatan untuk diterbitkan secara fisik. Follow twitter mereka di download .pdf nya di sini (edisi #1) dan (edisi #2) serta mari bersama sama berdoa agar zine ini panjang umur!