Monday, May 13, 2013

Sampit Berisik Present ; Silent Scream

"Nama acara ini tuh apa ya?"

Saya tak sengaja melontarkan pertanyaan ini kepada salah seorang pembesut kegiatan, Mas Edy, saat acara setengah berjalan. Pasalnya, saya mendapat rantaian pesan singkat yang menyebut Sampit Berisik namun kemudian menemukan backdrop panggung berbuyi Silent Scream. Beliau tertawa dan bilang kalau ini (belum) Sampit Berisik, namanya Silent Scream. Gig kecil sebelum nanti digelar Sampit Berisik yang lebih besar. Dan konon akan mengundang nama besar dalam skema blackmetal indonesia. ihiy.

Maka begitulah, sebuah gig yang diprakarsai (Mas Agus yang resmi membuka Bloodshine Merch malam itu), Mas Edi, Padung Hitam dan komunitas metalcore Sampit berlangsung sejak pukul setengah delapan malam di halaman gedung KNPI. Saya datang bersama kru dari zine Late for School yang mengemban tugas mulia : untuk membagikan sekurangnya 50 pcs zine laknat itu kepada kawan kawan luar daerah. Yang kemudian habis dalam hitungan menit. Soalnya dikit. Hahahaha.


Panggung dijejak pertama kali oleh Brutu Fuck yang membawakan dua nomor pembuka. Band asal Palangkaraya ini sukses mengencerkan dahak yang serak dari crowd yang kemudian mulai bergerumul dan membentuk shaf rapih di lini depan panggung. 

http://www.facebook.com/Ryugahi
Penampil kedua adalah Dread Out, band Sampit yang malam itu sukses menarik massa untuk terus maju dan memulai ibadah headbang. Redemption dan Redneck dari Lamb of God dibawakan dengan apik hingga tanpa terasa kaki saya mulai pegal lantaran terlalu lama berdiri.

Sempat disinggung bahwa crowd tak terlalu bersemangat malam itu. Sebab jika dikomparasi dengan Boneka Tanah #2 dan #3 yang digelar nyaris setahun lalu, massa terlihat lesu. Bisa jadi lantaran berbedanya genre yang diusung, atau semata lantaran kekurangan teknis seperti sound yang kurang menggelegar. Tapi, untuk skala gig independen yang diselenggarakan berkat dana kolektif, Silent Scream ini tergolong sukses sebab ia berhasil menunaikan fungsi utamanya: sebagai wadah berkumpul dan bersenang senang.

Okesip, lanjut. Yang digadang gadang menaiki panggung dan melancarkan nomor nomor pamungkasnya. Blackmetal dari Sampit, Padung Hitam membawakan lagu mereka sendiri Dunia Hitam, Sakaratul Maut, Kematian, Siksa Akherat dan satu lagu Dimmu Borgir, Moarning Palace.

Setelah puas dengan aura mencekam di atas panggung, kita kita penonton keceh inipun disuguhkan BLFF yang membawakan beberapa lagu Asking Alexandria. Penampilan mereka cukup untuk melemaskan segala yang tegang setelah berbaku hantam dengan empat band sebelumnya.

http://www.facebook.com/Ryugahi
Brutu Fuck kembali tampil. Kali ini dengan format orkes keliling mereka membawakan sekurangnya sepuluh lagu. Dengan durasi masing masing lagu semacam Beca Tiguling Mesin Tempur yang dipepatkan dalam satu gebukan drum. 

Penutup, Battle Death tampil dengan berbeda sebab mereka satu satunya penampil dengan suara jernih yang bernyanyi. Menjadikannya semakin menarik sebab lagu merekalah yang diperlukan untuk menuntaskan klimaks yang telah dicapai. Tsah.

Silent Scream, Sampit Berisik atau apalah namanya acara ini, saya rasa sudah lebih dari cukup untuk menegaskan perihal skema independent sampit, terutama genre metalcore.

Terimakasih atas penyelenggara yang telah menyuguhkan sebuah panggung apik untuk kami. Semoga kelak bertemu lagi gig kece semacam ini :')

Saturday, March 16, 2013

Kepala Polisi

"Pak, tolong saya dan keluarga saya Pak,"
Perempuan itu tersungkur tanpa banyak upaya.

Kepala polisi nyalang, nampaknya sedari tadi ia terantuk antuk menahan kantuk. Sebab tak banyak yang ia lakukan belakangan ini. Kecuali sesekali berpidato dan memimpin upacara. Ia berdehem di sela kumis yang dicukur tipis.

"Mau minta tolong apa, mbak?"

Perempuan yang sedari tadi menunduk kini menatap lurus ke arah kepala polisi. Wajahnya lebam, biru keunguan menggelayut di mata kanan, sementara bekas sundutan -seperti rokok- di pipi kiri yang berakhir pada jahitan di sudut bibir yang nampak masih basah. Tangisnya luruh, perempuan itu tengah menjadi bulan bulanan lelaki yang memperistrinya.

Kepala polisi berderak, seperti ingin batuk namun ditanggalkan. Sementara tangin perempuan itu kian deras hingga menggenangi sebagian teras kantor polisi. Ia tengah memikirkan jawaban paling memuaskan untuk perempuan itu. Dirinya menginginkan peradilan yang tertegak tinggi, apalagi jika menyangkut harkat martabat perempuan, perwujudan dari ibunya sendiri.

"Begini, mbak bisa masuk ke dalam ruangan penyidik yang ada di gedung utara, lalu nanti petugas yang ada di sana akan mencatat setiap aduan mbak secara rinci. Setelahnya, akan dilakukan pengusutan, jika terbukti bersalah, suami mbak akan dijadikan tersangka

Kepala polisi bergumam gumam, disimpannya kalimat itu dalam hati. Ia tau pasti prosesnya tidak akan segampang itu. Apalagi jika perempuan di depannya bersuamikan petinggi, atau setidaknya, orang kaya yang mampu menggotong pengacara ternama. Akan lama, berbelit serta bukan tidak mungkin jika justru perempuan itu yang akan masuk penjara.

"Atas tuduhan pencemaran nama baik"
Tanpa sadar kepala polisi bersuara.

"Ya, Pak?"

Kepala polisi berdehem
"Ah, bukan apa apa mbak. Begini, coba ceritakan dulu sama saya soal masalah mbak ini"

Meluncur deras kalimat kalimat mengiba dari mulut perempuan yang airmatanya kini sudah semata kaki setiap petugas polisi di kantor itu. Kepala polisi hingga harus berkali kali menegur agar sedu sedan perempuan itu tidak menutupi tutur aduan yang sedang disampaikannya.

Saat matahari kian meninggi dan airmata sudah sedengkul, tangis perempuan itu reda seiring dengan selesainya ia mengadu. Kepala polisi menghela nafas panjang untuk kemudian meminta waktu untuk berpejam dan mencarikan solusi untuknya.

 "Benar dugaanku, suaminya seorang petinggi"

Masih bersimpuh, perempuan itu bersuara

"Jadi bagaimana, Pak?"

Di sela hela nafas yang kelewat panjang, kepala polisi berkata

"Begini, mbak bisa masuk ke dalam ruangan penyidik yang ada di gedung utara, lalu nanti petugas yang ada di sana akan mencatat setiap aduan mbak secara rinci. Setelahnya, akan dilakukan pengusutan, jika terbukti bersalah, suami mbak akan dijadikan tersangka"

Perempuan itu beringsut mengenakan sendalnya, sementara airmatanya menguap terpapar matahari, mengkristal layaknya garam.

"Nanti setelah istirahat makan siang"

Kepala polisi lantas terpejam, lalu menggelinding pergi.

Thursday, March 14, 2013

Review : Zine Sampit Bernama Late For School

Jadi begini, saya sesungguhnya berniat buat kalem dan mereview zine ini seanggun mungkin. Namun maafkanlah, saya jejeritan -tertahan- dari dalam kubikal tempat segala kemuliaan internet berasal berkat 7 halaman zine ini. Late For School saya terima tadi malam, edisi kedua. Terkutuklah yang membuat saya tak lagi mampu mendeteksi perkembangan perindiean Sampit. Terlepas dari itu, zine ini mengingatkan saya pada dua zine favorit saya saat ini; Apokalips dan Paperzine.
Edisi Pertama Late For School

Apalagi kalau bukan rentetan kalimat anti-kapitalis, profil Homicide dan gaya bahasa Late For School yang mengingatkan saya pada dua zine di atas. Meski baru dua edisi, senang rasanya bisa membaca tulisan tulisan seperti ini dengan lingkup bahasan yang lebih lokal. Seperti kondisi jalanan Bagendang, misalnya. Atau sekutip dua kutip kalimat berbahasa Sampit serta review musik mereka yang cukup menarik.

Zine ini layak mendapat wadah dan kesempatan untuk diterbitkan secara fisik. Follow twitter mereka di download .pdf nya di sini (edisi #1) dan (edisi #2) serta mari bersama sama berdoa agar zine ini panjang umur!

Saturday, March 09, 2013

Euforia Atas Apa?

Setelah Hari Perempuan Sedunia mencapai titik nisbi di mana manusia kelas intelektualis secara masif menyebutnya sebagai sexism, saya kehilangan semangat untuk menuliskan satu dua paragraf kalimat di blog ini. Kalimat kalimat pemberi kabar meski tak satupun audiens peduli soal itu.

Sosial media ini memang ajaib. Setiap pengguna diajak tenggelam dalam ranah surealis soal segala hal tentang saya adalah penting dan harus dibagikan kepada orang lain lalu pengunjung maya menjadi layaknya penghuni bangsal penyakit jiwa. Tertawa, menangis dan beremosi atas benda mati.

Ini akan menjadi posting blog yang merembet ke hal hal yang awam saya ketahui namun setengah mati dipoles dengan gaya bahasa biar terlihat keren. Intinya saya hanya ingin berkabar. Jika bukan pada audiens hidup maka sekurangnya kepada benda mati agar saya dapat menghirup candu berusia ribuan tahun bernama "ilusi didengarkan"

Saya tengah dalam euforia. Perayaan atas terwujudnya satu-dua ingin, atas status sosial yang nyaring saya nyatakan benci atasnya toh dikejar juga dan untungnya, memberi rasa nyaman setidaknya untuk saat ini. Perayaan perasaan sebab saya tengah jatuh cinta, perayaan kebebasan sebab saya tinggal selangkah lagi sebelum keluar dari rumah. Dan euforia ini, saya tau pasti, akan berakhir dengan saya yang kelelahan atas semua hal lalu merasa gamang berkepanjangan.

Dan semuanya dimulai lagi dari awal. Sampai mati.

Thursday, February 14, 2013

Another Day, Another Hope

Semesta berbaik hati dan mengabulkan keinginan saya soal pekerjaan baru. Besok, saya akan menjadi bagian dari salah satu televisi lokal di kota Sampit. Sebagai kru kreatif dalam penyusunan program televisi. Sebab semesta berbaik hati, saya -setidaknya saat ini- merasa nyaman dengan kondisi saya. Menghasilkan uang dengan pekerjaan yang tidak terlalu jauh dari kepinginan saya. Untuk terus menulis, dalam media apapun.

Lalu di titik ini, keluh atas apapun adalah wujud kurang syukur dan upaya pembelaan diri untuk amarah amarah tanpa tuan. Saya hanya ingin dimampukan untuk berkompromi dan menyelaraskan antara ingin dan kewajiban dan menegaskan batas toleransi. 

Sebab hidup adalah apa yang berjalan saat ini, bukan kelak di masa mendatang saat saya sudah di New York, atau saat saya menjadi penulis dan novel Senja Merah diterbitkan. Hidup dan kehidupan saya adalah saat bangun pagi, membuka mata, pergi siaran, pulang dan bergerak selama 24 jam perputaran hari. Identitas saya adalah Nani yang sekarang ini, yang belum menjadi penulis, yang belum pergi dan berkehidupan di New York. Maka sebisa mungkin, saya ingin menghidupi kehidupan saat ini. Sekedar bertahan, lebih lebih menjadi berguna bagi orang lain.

Valentine 2013, masih jomblo



Tapi udah bukan pengangguran.

Monday, January 28, 2013

Miss Havisham, or Should I Call You Eleanor Rigby?


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqq9vfW4S23z3VVpG7eY92mJ1u-6Xs8Lg8yeg4d2LWGrgnKw9SsGwULu0N27Jw_AIsoISn4HmLoDxFk5p22PeS-5fJDMyPNk0OMB3wHalV26rBdiPd8V7paRX_L49LAMy8J9QWeEffqr1r/s1600/great_expectations_by_charles_dickens.jpg
Google, what else did you expect?
Menemukan novel ini berkat lagu the Beatles - Eleanor Rigby. Seperti yang saya tulis di sini, bisa jadi inilah lagu milik beatles yang paling saya suka. Lagu tentang orang orang yang kesepian.

Apa yang lebih sepi dari duduk diam dan tidak berbicara kepada siapapun selama 40 tahun? Ms. Havisham adalah perempuan yang mewarisi seluruh harta ayahnya -seorang earl- dan ibunya meninggal saat ia masih bayi. Tanpa saudara, Ms. Havisham menghabiskan masa mudanya di kastil (catatan; setting di tahun 1891) dan akhirnya jatuh cinta pada Compeyson (Compassion?) pria yang mengejar hartanya.

Kerabatnya sudah memperingatkan perempuan muda itu soal Compeyson. Tapi namanya cinta, Ms. Havisham keukeh dan akhirnya ditinggalkan di altar. Dua puluh menit sebelum pukul sembilan, pernikahannya. Patah hati, Ms. Havisham mengurung diri di dalam kastilnya, mematikan semua jam dan duduk di sebuah kursi di depan perapian hingga tua tanpa melepas gaun dan kerudung pernikahannya.

Hingga kemudian ia meninggal setelah ujung gaunnya terkena percikan api dari perapian. Iya, ini spoiler.

Yang mengurus kehidupan Ms. Havisham adalah anak angkatnya, Estella. Anak angkatnya lalu dititipkan ke pengacaranya dan kembali ketika Estella sudah dewasa. Anak angkatnya tumbuh menjadi perempuan cantik, dan Miss Havisham mengajarinya untuk mematahkan hati setiap pria yang menyukainya.
But as she grew, and promised to be very beautiful, I gradually did worse, and with my praises, and with my jewels, and with my teachings, and with this figure of myself always before her a warning to back and point my lessons, I stole her heart away and put ice in its place.
Lalu, well, tidak ada akhir yang bahagia untuk novel berjudul Great Expectations ini. Miss Havisham mati setelah menderita luka bakar, Estella menikah dengan pria yang tidak dicintainya hanya karena ingin membuat Pip, pria yang jatuh cinta padanya patah hati (dan berhasil, Pip mengalami penderitaan yang sama seperti Miss Havisham, membuat perempuan itu tersentuh dan meminta maaf)

Sejak awal hingga pertengahan novel ini bercerita tentang Pirrip -Pip- dengan sudut pandang orang pertama serba tahu. Sampai akhirnya Pip bertemu dengan Estella dan darinyalah kisah tentang ibunya, Miss Havisham meluncur. Dickens, seolah ikhlas membiarkan Pip sang tokoh utama tidak menjadi semenarik Miss Havisham. Sebab setelah membaca Great Expectations, yang akan senantiasa diingat adalah Miss Havisham, bukan Pip.

Dan konon miss Havisham adalah tokoh nyata bernama Eliza Emily Donnithorne (1827–1886) dari sydney. Ia ditinggalkan di altar pada hari pernikahannya. Emily menutup semua jendela dan duduk diam dengan tetap mengenakan gaun pengantin sementara makanan dan kue untuk pesta dibiarkan membusuk. Namun sebuah pintu, yang kerap digunakan calon pengantin prianya saat datang ke rumah Emily, dibiarkan terbuka. Dengan harapan pria yang dicintainya itu akan kembali dan menikah dengannya.

Cocok dibaca sambil tiduran dengan perut dalam keadaan kenyang. Kalau bisa konsen membaca sambil mendengarkan musik (saya ga pernah bisa berlaku seromantis itu, selalu bubar konsentrasinya) cobalah lagu lagu klasik semacam nomor nomor waltz dan tentu saja, Eleanor Rigby-nya the Beatles.

Sunday, January 20, 2013

Kedip Lampu Temaram Berkedok Bintang

Hidup semakin membelitkan misteri alih alih memperjelas satu-dua hal seiring pertambahan usia. Iya, soal nani bertambah tua sudah menjadi sama menjemukannya dengan berita banjir di televisi. Tapi sungguh, saya terlalu galau untuk peduli.

Pagi tak ubahnya menjadi ritme kacau berupa jeritan alarm diikuti ketergesa gesaan mandi-mengenakan pakaian-makan demi mengejar pekerjaan yang sama kacaunya dengan peta jodoh saya. Siang berupa lenguhan panjang mengantuk yang berujung pada ketergesa gesaan serupa saat jam istirahat usai. Begitu seterusnya sampai.. kapan?

Saya sempat menulis soal ini, tentang kehidupan yang menitipkan tuntutan tuntutan kepada manusia hingga akhirnya ia menuntut dirinya sendiri untuk begini dan begitu. Agar pas dalam porsinya sebagai manusia di muka bumi.

Untuk mencari dan mencari hingga menemukan rasa cukup. Settle. Namun kehidupan sesungguhnya berjalan berdasarkan pencarian itu.

Maka jelas sudah. Rasa cukup hanya bisa dicapai ketika mati. Dan yang mengklaim dirinya telah cukup sebenarnya masih mencari kematian itu sendiri.

Tuesday, January 15, 2013

Keluh Pertama di Pertengahan Januari

Di sela sela gempita warga kota Sampit lantaran anak wakil bupatinya dinikahi artis sinetron, sayur dan cabai naik ke titik tak tertolelir. Gelombang tinggi dan kapal tidak bisa melabuh. Petani lokal kewalahan memenuhi kebutuhan warga kota sehingga untuk sekedar cabaipun, harus didatangkan dari Jawa. Lalu, untuk apa otonomi daerah jika dalam kenyataannya boro boro otonom, untuk urusan pangan saja masih harus disuapi daerah lain?

Masalahnya adalah, penduduk asli kalimantan tidak terbiasa menjadi petani penjual. Kebiasaan nomaden membuat mereka membuka lahan hanya untuk konsumsi sendiri dan sesekali dibarter untuk sekotak daun sirih dan perlengkapan kinang. Satu satunya harapan adalah petani transmigran. Ribuan orang luar pulau yang masuk ditempatkan di lokasi lokasi trans dan hasil pertanian merekalah yang berputar di pasar pasar kota.

Sepuluh tahun belakangan perkebunan kelapa sawit muncul layaknya jerawat di periode PMS. Hingga tahun 2010 saja tercatat lebih dari 40 PBS di kabupaten Kotawaringin Timur yang tersebar di 13 kecamatan. Lajur produksinya merata dari perkebunan di perbatasan Barito hingga pelabuhan CPO di Bagendang. 

Tentu diperlukan pekerja yang tidak sedikit jumlahnya agar perusahaan raksasa tetap berputar. Bisa ditebak, para transmigran berbondong bondong meninggalkan lahan pertanian dan menjadi buruh kelapa sawit. Upah harian 30 ribu rupiah, tunjangan hari raya, fasilitas hidup yang ditanggung (rumah rumah petak, listrik dan air) tentu jauh lebih baik dari berkilometer jarak dari kota, tanah gersang tanpa air dan listrik serta ketidakjelasan penghasilan.

Industri akan terus berkembang bagaimanapun juga. Kebutuhan enam milyar manusia terhadap minyak goreng dan sabun mandi bergantung pada perkebunan kelapa sawit. Namun pemerentah yang mengizinkan pembukaan berhektar hektar hutan untuk diganti dengan akar lemah elaeis yang tidak mampu menggantikan fungsi pohon pohon meranti untuk menahan banjir yang harus dipertanyakan.

Belum lagi suku dayak yang turun temurun tinggal di dalam hutan, membangun sandung tempat sanak saudaranya disemayamkan lalu tiba tiba diminta pindah setelah penggantian rugi seadanya dan kisruh soal legalitas istilah tanah adat. Di negara ini selembar kertas berlabel sertifikat bertanda tangan pemerentah jauh lebih berguna tinimbang fakta bahwa tulang belulang nenek moyang yang terkubur di dalam tanah.

 Lalu yang tinggal di pusat pemerintahan kabupaten kocar kacir kebanjiran setelah berpuluh puluh tahun rumahnya kering di semua musim. Tidak mengkonsumsi cabai dan bawang merah dan stress lantaran daging sapi mencapai 120 ribu setiap kilonya. Dengan semua sengsara sebagai efek dari kebijakan sepihak, apa lagi alasan untuk tidak membubarkan negara?

Thursday, January 10, 2013

Panduan Menjadi 21

Yang berpengharapan lebih terhadap orang lain dan Tuhan, kalau mau banyak berharap maka belajarlah soal ini; menelan rasa kecewa. Kalau ndak bisa ya sudah, berhenti berpengharapan lebih dan mulai tuntut diri untuk melakukan sebanyak banyak hal sendiri.

Doyan menyalahkan pemerentah atas ketiadaan ruang publik, wadah nyaman untuk bermain bola dan taman rindang nan penuh penjaja kue tetek? Ciptakan ruang untuk diri sendiri dan berangkatlah dari sana. Kenyamanan ruang tidak dimulai dari pembesar yang membebaskan tanah lapang. Lagian seberapa sering sih situ menggunakan ruang publik? seminggu sekali di Sabtu sore selama sekurang kurangnya 2 jam?

Yang mengaku optimis tapi tak kunjung membawa pencerahan. Eh gapapa deng. Tetaplah optimis, dunia memerlukan lebih banyak pajangan yang senyam senyum cengo buat menutupi erang kelaparan di belakang sana.

Kalau ga bisa jadi orang baik, sekurang kurangnya cobalah lebih kuat untuk tidak menjadi jahat. Kejahatan tertinggi itu adalah menyakiti dan merugikan orang lain tapi mengira sudah melakukan kebaikan. Karenanya hidup harus senantiasa sadar. Dunia ini ga lebih dari akuarium raksasa berisi vodka. 

Jangan banyak bicara hal yang tidak perlu sebab dendam susah hilang. Kalau kesel, tulis di kertas, bukan media sosial lalu bakar. Masih kesel? get a life. Ketenangan datang dari diam, bukan gemuruh murka. Hanya orang tanpa kehidupan yang membiarkan dirinya berotasi pada secuil kesal.

Kalau sudah tau tidak mampu, jangan pamer. Apalagi menawarkan diri hanya untuk dianggap mampu atau malah demi menyenangkan hati orang lain. Ingat, kejahatan tertinggi adalah melakukan kejahatan tapi mengira sudah melakukan kebaikan  Repot adalah mengerjakan sesuatu yang tidak dikuasai. Orang dengan kemampuan tidak akan pernah merasa overwhelmed.

Egois? ini adalah teknik dasar CPR. Selamatkan diri sendiri sebelum menyelamatkan orang lain. Senang sebelum menyenangkan. Bahagia sebelum membahagiakan. Damai sebelum mendamaikan. Saat tenggelam, tidak ada yang mengharapkan bantuan dari seseorang yang tidak bisa berenang. There's a thin line between helpful and stupid.

Ada empat tahun tersisa sebelum quarter life crisis dimulai. Perbanyaklah logika soal proyeksi ke depan. Jangan terjun sebelum berfikir, sebab selain tidak bisa berenang, tidak ada satupun orang yang mati dalam keadaan cantik saat tenggelam. Kembung bengkak busuk digigitin makhluk laut.

Jadilah jujur karena hidup dengan kebohongan itu berat. Termasuk di dalamnya, berbohong kepada diri sendiri. Bersikap spontan namun bersifat banyak pertimbangan dan jangan dibalik. Penyesalan bukan tambahan yang baik untuk menjalani hidup. Alasan harus selalu datang bersama keputusan. Alasan yang diciptakan setelah keputusan diambil tidak lebih dari upaya pembenaran diri. Ia hanya akan membuat dirimu terlihat menyedihkan.

Terakhir, kamu tidak berada di kehidupan siapa siapa kecuali kehidupanmu sendiri. Jadi segeralah keluar dari rumah dan miliki hidupmu sendiri.