Wednesday, November 07, 2012

Nyaringlah Dalam Berdoa

Subuh buta suara adzan menggema tanpa dinyana. Tidak sedikit yang tinggal berdekatan dengan surau atau masjid tersentak bangun, terganggu mimpinya. Atau yang tengah merenung di depan layar monitor dan berharap satu-dua kalimat indah terlontar, buyar konsentrasinya. Masing masing lalu menggerutu, meraih telepon pintarnya, lalu menulis satu-dua kalimat makian di twitter.

Tentang betapa mengganggunya bising adzan di subuh hari.

Di ujung kampung ada seorang gila. Terganggu jiwanya sejak istri dan anaknya menjadi korban dalam tragedi kemanusiaan. Setiap hari ia berkeliling kampung, menyeret kakinya. Bertahun tahun ia tak bersuara, hanya sesekali mengetuk pintu, yang dimahfumi semua orang kemudian memberinya makan. Matanya kosong, mengunyah dalam diam, berteduh kala hujan, begitu seterusnya.

Hingga suatu hari ia berteriak seperti kesetanan. Dua jam tanpa jeda hingga terengah nafasnya. Ternyata yang diinginkannya selama ini sederhana saja. Kepala desa dan beberapa warga mengantarkan pria itu ke makam istri dan anaknya yang memang jauh jaraknya, di luar kota, di monumen peringatan tragedi kemanusiaan.

Setelahnya tidak ada yang tau apa kabar pria itu.

Hubungan dengan Tuhan semata personal, di mana doa doa yang teruntai selayaknya dalam khusyu tanpa bising karena di kedalaman sunyi Tuhan bersenyawa. Namun manusia selayaknya membaca sesamanya. Mengetahui ingin sesamanya sebab esensi hidup adalah berguna bagi yang lain. Ruang untuk mendengar sama luasnya dengan ruang untuk berbicara.

Lantang dalam berharap selalu saya lakukan di blog ini. Dua tahun yang lalu saya menulis tentang keinginan keinginan saya dalam resolusi 19. Nyaring saya nyatakan Semoga di tahun 2011 dan di usia 19 nanti, saya bisa bepergian ke luar Sampit. Dan menaklukkan gunung untuk dijamahi! dan entah bagaimana, keinginan itu sungguh terwujud di tahun 2011, usia 19 kala saya akhirnya menjejak Jakarta. Meski belum berhasil menjamah gunung manapun, tapi sekurang kurangnya, beberapa dari keinginan saya terpenuhi.

Saya tidak berbicara tentang kebetulan kosmis. Intinya saya berkomunikasi untuk menyampaikan maksud. Sesekali menjadi egois dan melontarkan ingin kepada orang lain. Di hari lain mungkin saya berkesempatan untuk mewujudkan harapan orang lain. Harapan untuk punya istri solehah, misalnya.

Pada akhirnya, seusai suara bising adzan di subuh buta, akan ada Abah yang bersegera mengambil wudhu. Suara motor tuanya memecah kabut pagi, menuju surau.

Sunday, November 04, 2012

Menggugat Persepsi

Disclaimer: REPOST


Kepada yang menghujani cecar kepada tertuduh. Kepada yang lelah untuk menyanggah. 
 
Langkahnya terseok, meningkahi kucur merah dari lubang menganga di pangkal kakinya
Sesekali ia mengeram, jatuh bersimpuh
Darah masih mengalir, bertambah deras dari lubang telinga
Liurnya menetes, merah juga warnanya, geraham bungsu hingga taring remuk semua
Matanya mengerjap, terik matahari merangsek masuk
Kali ini darah masih di sana, kepalanya tersayat delapan

Nafasnya memburu, meregang nyawa
Dicengkramnya lengan kirinya, melepuh bekas setrika
Wenggini coba menghapus tattonya
Pun tetap jua sepatu lars dan todongan senjata kejutkan pagi harinya
Di sela nafas yang sepenggal sepenggal
Tetes liur bercampur darah dari lidahnya yang dipotong
Menggumam gumam tanpa suara
“Aku takkan mengaku..”
 ***
Aku lupa, mungkin September tanggal tiga. 
Saat puluhan berseragam menyesak di ruang tamu tanpa melepas sepatu. 
Menjamah sepenjuru rumah tanpa, menyeret orangtuaku dari kelambu.
Itu tengah malam. Hari sabtu. 

Popor pertama menyentak tengkukku. Ngilu. 
Mereka berteriak soal aku dan konspirasi untuk menjatuhkan negara. Negara palsu. 
Popor kedua menghujam perut ayahku. Kali ini teriakan mereka pertanyakan keterlibatan ayahku dalam Kelompok Petani Berontak. 
Jawaban ayahku tidak menuai paham. Ibuku menjerit, seseorang menumbangkan tubuh ringkihnya. Kepala wanita itu diinjak sepatu sepatu lars hingga darah mengucur dari telinga. 
Popor ketiga menghantam pelipis kananku. Buram, yang terlihat hanya samar wajah ayahku yang kesakitan saat bayonet mengiris kupingnya. 
"Kami bukan pemberontak. Kami keluarga petani..," 
Kian pelan suara ayah. Daun telinganya berlumur darah. 
Api menjilat ruang tamu. Aku tidak mengingat apa apa saat popor selanjutnya merangsek tulang keringku.
Tiang penyangga rumah berderit. Pria berseragam berlalu dengan derum mobil bak terbuka. Ayahku tertawa. Sebelum api menjilat tubuh kami, ia berteriak. 

"Kita ini tumbal atas ketakutan petinggi"

***


Ayahku digiring melalui pasar dan selokan
Bau amis menyengat di setiap langkahnya menuju pengadilan
Ayah tak dibela, ayah tak punya daya upaya
Babak belur ayah dihakimi massa,
Diseret tubuh rentanya menuju penjara
Ayahku mencuri
Seekor ayam milik tetangga
Alasannya sederhana, ayah tak lagi bisa bekerja
Tubuhnya sudah renta
Negara ini terlalu buta untuk mengasihaninya
Demi aku agar tak lagi mengeluhkan lapar padanya
Maka ayah berdarah-darah kakinya terinjak beling di belakang kandang ayam tetangga
Bukan ayam bangkok, pejantan atau bekisar yang mahal harganya
Hanya ayam buras biasa, putih warnanya
Ditenteng ayah menengahi adzan subuh yang mulai bergema
Kami senang, emak memasak dengan riang, ayah ke mushola menghadap tuhan
Di subuh buta pula ayah dihajar masa, darah dikakinya berlipat banyaknya

... 

Ayah telah pulang dari penjara
3 tahun lamanya
Beliau tak berubah, tetap sayang padaku
Hanya saja tubuhnya telah dirajah paksa oleh sipir penjara
DS 1098 NK tercetak di lengannya
Ayah bilang itulah identitas narapidana
Tubuh rentanya semakin tirus
Semakin kurus
Suatu senja
Kampung kami di kunjungi para bertopeng rajut warna hitam bersenjata
Bersenapan
Mereka geledah semua rumah
Mencari pengkhianat bangsa
Atau dalam versi mereka
Memburu mereka para pengancam kedudukan mutlak presiden negara
Ayah memintaku bersembunyi di bawah meja
Mereka masuk ke bilik kami
Seorang bertopeng rajut hitam todongkan senjata pada ayah
Sebuah suara letusan sederhana membuatku menjadi yatim selamanya
Ayah jatuh berdegum ke lantai tanah
Kaku tubuh tirusnya bersimbah darah
Seorang bertopeng berteriak pada kawanannya
“Dia Bertato! Dia Dalangnya!”

Thursday, November 01, 2012

Soal Wajar tak Wajar

Kawan baik saya semenjak SMA menikah, hari ini. Kami kawan baik yang kerap kali melewati masa susah senang bersama. Saya sangatlah turut berbahagia untuknya. Namun dengan sangat kurang ajarnya saya hanya singgah selama beberapa belas menit di resepsinya, dan menolak untuk berfoto bersama. Sungguh, saya meminta maaf untuk itu. Selamat menikah, Vina :) berbahagialah selamanya.

Seperti biasa, setiap kali menyaksikan peristiwa yang porsinya cukup besar dalam hidup seseorang (perceraian, pernikahan, seorang dekat meninggal dunia), sisi mellow-dramatis saya akan muncul tak terkendali. Ditambah, mungkin ini sebabnya, saya mengajak mama sebagai plus one dalam resepsi itu, tak pelak pertanyaan paling tersohor dalam abad modern; "Kamu kapan nyusul?"

Sekarang, di sela waktu siaran, saya menuliskan posting ini. Sekedar menegaskan betapa waktu sudah menjadi hal yang rancu untuk saya. Soal panjang dan pendek, pantas tak pantas, patut tak patut. Sebab saya dibesarkan dalam lingkungan kota kecil dan keluarga konservatif dalam hal agama, sedari kecil saya melihat pemandangan berupa sekurangnya seorang perempuan harus menikah sebelum usia 25 tahun, makin dini makin bagus.

Alasannya, agar si anak terhindar dari liarnya dunia luar, agar tak berzinah, mabuk-mabukan dan mencemarkan nama orangtua tentu saja. Tidak ada yang salah dengan menikah muda, andai saja saya tidak punya tanggungan mimpi yang meronta untuk dipenuhi, saya akan bersegera mencari jodoh dan menikah.

Sayangnya saya mengenal internet, berkenalan dengan orang orang dari kota besar yang dengan bersemangat menceritakan tentang begitu banyak hal yang ingin mereka lakukan dalam hidup sebelum akhirnya menikah. Ditambah dengan beberapa bulan tinggal di Jakarta dan bersinggungan langsung dengan orang orang hebat di bidangnya yang tidak begitu memusingkan soal menikah walau sudah lewat kepala tiga, walau ia seorang perempuan.

Poin saya bukan soal "Menikah di usia muda samadengan menutup kemungkinan untuk bersenang senang". Saya kenal beberapa orang yang hidupnya baik baik saja setelah menikah. Mereka naik gunung, ke pantai bersama, kemping dan travelling ke mana mana. Hanya saja, jika bagi saya sebuah hubungan berlabel pacaran saja adalah tiran, apalagi menikah? Yes, I've got lot of things to be fixed.

Tentang batas pantas tak pantas seorang perempuan memutuskan untuk tidak menikah dulu berada di beberapa layer. Usia 15, kalau tinggal di kampung Abah sebab tidak banyak yang bisa dilakukan selain menjadi ibu rumah tangga. Usia 24-25, kalau lingkungan middle class di mana sebaiknya pendidikan S1 selesai terlebih dulu. Infinity numbers kalau ia ingin menjadi individu merdeka yang melepaskan diri dari nilai nilai yang tidak datang dari dirinya sendiri.

Pada akhirnya, pertanyaan mama berjawabkan "Nanti, kalau udah tinggal di New York," tentu saja.

Sunday, October 28, 2012

Bolehkah Menjadi Jahat?

Betapa membosankannya semua dongeng jika tidak ada sosok yang disalahkan, yang menjadi masalah, yang berbuat salah. Bayangkan seperti apa rupa sinetron Indonesia jika tidak ada satupun tokoh berdandan menor dengan suara tinggi dan bermisi tunggal; merepresentasikan tujuh dosa manusia dalam sekali waktu.

Jika bukan karena merasa benar, tidak akan ada manusia yang berbuat jahat. Perasaan benar akan menimbulkan pembenaran, semacam kebenaran, namun hanya untuk konsumsi pribadi. Sebetulnya membahas soal 'kejahatan' itu sendiri rasanya menarik, apa yang membuat kita menyimpulkan satu kejahatan dan memberi vonis jahat kepada pelakunya. Sayangnya tulisan ini akan menjadi semakin panjang dam semakin membosankan untuk dibaca.

Kita simpulkan saja, kejahatan adalah label atas tindakan yang tidak sesuai norma (hukum, agama, adat dan susila), yang meresahkan lagi merugikan orang banyak dan pelakunya wajib menanggung konsekuensi berupa hukuman sesuai norma yang diberlakukan. Urusan menjadi jahat dan hubungannya dengan masyarakat sudah jelas, sekarang kembali ke soal pembenaran untuk berbuat jahat.

Seseorang pernah memberitau saya bahwa esensi dari hidup dan berbuat kebaikan itu ada tiga. Tidak merugikan orang lain, tidak menyakiti harga diri orang lain, dan tidak merusak lingkungan. Jika satu saja terlanggar, maka itu sesungguhnya adalah kejahatan. Sebelum menengok terlalu jauh kepada pelaku kriminal, saya rasa dalam setiap langkah, manusia sadar atau tidak sudah berbuat jahat.

Manusia memiliki sub conscious, suara kecil dalam kepala yang membantu kita mempertimbangkan baik buruk sebuah tindakan. Suara ini kemudian sering muncul dalam kartun jadul berupa setan dan malaikat yang berdiri di bahu dan saling membisiki. Biasanya, sang malaikat menang. 

Namun perkenalkan sisi dalam kepala dengan suara lebih lantang bernama ego. Karena kita butuh merasa lepas dari rasa bersalah, ego akan membuatkan pembenaran atas tindakan yang merugikan, menyakiti harga diri orang lain dan merusak lingkungan. Dan biasanya, suara paling lantanglah yang terdengar.

ditemukan di sini
"Ah, telat dikit doang gini. Klien juga sering bikin gue nunggu, sekali kali bikin bawahan cengo di lokasi meeting gapapalah"

"Ya kan aku niatnya becanda. Dia juga pasti ngerti, kita kan temen. Lagian emang bener kok, dengan badan kaya gitu di duduk di situ bisa aja kursinya patah..."

"Sampah seupil gini ga bakal ngaruh sama banjir bandang"

 Butuh waktu empat bulan bagi saya untuk berhenti mengelak dan mencari cari pembenaran atas hal jahat yang telah saya lakukan. Juli lalu saya menyakiti orang lain, mengkhianati kepercayaan, dan sebagainya dengan pergi begitu saja dari tempat saya bekerja di Jakarta.

Pembenaran pembenaran yang saya buat, alih alih menenangkan, ia justru menjadi beban. Saya terus berlindung dalam pernyataan "Tapi kan, gue ga nyaman ada di sana" seolah itu adalah hal besar yang akan mengubah Jakarta menjadi neraka jika dalam segera tidak ditemukan solusinya. Saya menyeret koper  dan melangkah ke bandara dengan ego yang besarnya melebihi diri saya sendiri. Lalu pergi, begitu saja.

Tidak ada cara lain selain memaafkan diri saya sendiri. Beberapa hal yang terjadi saya kompromikan sebagai konsekuensi atas tindakan saya dan sekarang, saya telah berdamai dengan diri sendiri. Sedang menata kembali mimpi dan merencanakannya dengan matang. Hebatnya, setelah semua yang terjadi, ternyata saya masih ingin menjadi penulis. 

***

Lalu satu berita datang dari Bandung, tentang masjid Ahmadiyah yang dirusak FPI. Apakah Ahmadiyah telah melanggar suatu norma (hukum, agama, adat dan asusila)? jawabnya (sayang sekali) adalah iya, norma agama yang disuarakan melalui fatwa MUI bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan diluar islam. Tapi apakah Ahmadiyah merugikan orang lain, menyakiti harga diri orang lain dan merusak lingkungan?

Semua orang memiliki versi jawabannya sendiri dan saya yakin betul yang paling popular adalah ini; Ahmadiyah menyakiti harga diri umat muslim dan menginjak sakralitas nabi muhammad sebagai nabi terakhir. Tapi betulkah itu yang seluruh umat muslim rasakan atau hanya pendapat pribadi? Manusia tidak akan pernah menjadi individu yang merdeka pikirannya jika dalam memutuskan sikappun masih harus melalui approval dan persamaan visi dengan sang alpha dog.

Terlepas dari itu semua, negara ini pastilah punya regulasi hukum untuk pelanggaran norma agama. Membiarkan FPI mengambil alih proses penghukuman secara barbar dan tanpa keadilan bukanlah refleksi dari negara hukum yang konon katanya berasas demokrasi.

Jika setiap kubu, setiap individu memiliki pembenarannya sendiri atas sikap sikap jahat yang dianggap sebagai perbuatan 'wajar', sesungguhnya kita sudah mencapai esensi sebagai penerus nenek moyang. Menjadi manusia yang membuat dirinya dan seluruh keturunannya terusir dari surga demi memenuhi suara terlantang di dalam kepala, ego.


Friday, October 12, 2012

Yay~

Saya sesungguhnya tidak gemar berkompetisi. Satu satunya lomba yang pernah saya ikuti adalah lomba melukis saat kelas enam SD. Juara? iya, juara 3. Setelahnya saya nyaris tidak pernah mengikuti lomba apapun kecuali dalam tim semasa masih PMR dulu.

Namun berdasar pertimbangan 'ga ribet, cakupannya sempit dan kayaknya yang ikut dedek dedek SMA semua', sayapun dengan jumawa mengikuti lomba Cosmic #3 yang diselenggarakan Telkomsel School Community Kalimantan Tengah. Saya mengikutkan satu posting dari blog ini daaannn

iyah, juara dua *kalah sama dedek dedek SMA*  
Muahahahahaha.

Monday, October 08, 2012

Ouch!

"Coba kalo pintu belakang ga bisa dibuka tuh jangan dipaksa, lewat pintu depan. Kan ga dikunci!"

Teriakan pagi buta di lantai bawah. Tepat sesudah saya menyelesaikan renungan pagi untuk memaksakan diri merantau lagi.

Tuesday, September 11, 2012

Objektivitas

the Illusion of Neutrality, Robert A. Divine
Seberapa sering kita dituntut, merasa harus, atau bahkan mengklaim diri telah bersikap netral? melakukan penilaian yang sepenuhnya objektif -berdasar atas variabel variabel non konjungtif terhadap standar standar penilaian- tanpa sedikitpun unsur keberpihakan.

Atau seberapa sering keputusan diambil tanpa memandang latar belakang kedekatan atau bahasa Orbanya, tanpa nepotisme?

Kita memiliki kesadaran. Fungsi limbik di dalam otak hanya mempengaruhi sedikit dari sistem logika. Sistem logika merupakan akumulasi gerakan dan paham yang diserap manusia sedari kanak kanak.

Sebabnya bisa muncul berbagai penyakit psikis, seperti schizophrenic, yang memposisikan seseorang di ambang realita dan khayal hingga tidak bisa membedakan keduanya, atau bersikap sesuai keduanya, tanpa memiliki sistem logika yang merunut kejadian berdasar sebab-akibat dan kronologi. Seseorang seharusnya concern dan memeriksakan dirinya jika memiliki sindrom seperti ini alih alih update status facebook dan mengubah nama belakangnya menjadi schizophrenia.

Itu atau mungkin dia penggemar barisan depan untuk band melancholic core itu sik

Dengan posisi manusia yang dibesarkan dengan sistem runut dan logika sebab-akibat, mustahil untuk berdiri di garis tengah, paling tengah antara dua kubu pandangan berbeda. Sumber bacaan, kawan bergaul, orangtua, lingkungan, tontonan, menjadi pembangun karakter dan sistem logika. Kalau saja netralitas adalah hal yang absolut, maka teori relativitas tak akan dilirik lebih lebih diakui sebagai sebuah teori.
Sebuah teori yang mungkin benar adalah benar sampai teori itu dipatahkan dan muncul teori mengenai kemungkinan benar yang baru. Begitu seterusnya. Kebenaran di hari ini bisa menjadi kesalahan di masa mendatang, Pun hal yang dinilai salah di saat ini, bisa saja merupakan kebenaran di masa lalu.

Bagaimana sebenarnya proses penilaian berlangsung? kalau saya sih begini; Ketika saya dihadapkan dengan satu hal -ambilah contoh soal yang menurut saya agak mbingungi, Syiah- dan saya diminta untuk mengambil sikap setuju-tidak setuju mereka harus dimigrasikan ke pulau lain. Saya akan menyebut tidak setuju sebab penilaian saya berdasar atas apa yang saya pahami, yakini, dan berpihaki selama ini; Asas kemanusiaan yang melarang seseorang mengambil hak orang lain, dalam hal ini hak untuk tetap tinggal di tanah milik sendiri, kampung halaman sendiri.

Buku buku yang saya baca, obrolan kawan kawan saya, didikan orangtua yang tidak radikal terhadap islam dan lain sebagainya mengambil posisi dalam penilaian tersebut. Akan lebih sahih lagi jika misalnya ada seorang keluarga saya tinggal di Sampang dan menganut Syiah. Apakah penilaian saya netral? rasanya tidak. Sebab netral adalah kondisi tidak berpihak dan tidak ada yang dirugikan. Tidak memilihpun bisa jadi bukan pilihan netral sebab alasan ketidakpilihan saya adalah untuk kenyamanan pribadi. Saya melihat, (mencoba) memahami, mengambil kesimpulan, memihak lalu kemudian mengutarakan pendapat.

Nan, kepuntel puntel Nan.

Lantas bagaimana caranya mencapai atau sekurang kurangnya mendekati titik netral? Kita diberi solusi berupa pengadilan, pemerintah, pihak pihak ketiga yang diharap bisa mengambil keputusan yang memenangkan semua pihak lebih lebih menyenangkan hati setiap ummat. Pihak ketiga adalah yang dianggap tidak memiliki kedekatan emosional dengan pihak pihak yang butuh peleraian.
Kesadaran akan memaksa kita untuk berpihak. Dalam batas batas imaji soal netralitas dan tanpa nepotisme.

Friday, September 07, 2012

Featured: Paper Zine Edisi Ketujuh

Kalau bisa memilih, saya pengen tinggal di Bandung. Kalau bisa memilih juga, saya pengen punya pacar. #krik

Sebab rupanya di sana selain batagornya enak, udaranyah sejuk dan semua orang terlihat ga mengenal konsep marah, 14 Juli yang lalu Bandung menggelar Zine Fest. Festival Zine. Ichan dalam blognya menulis soal ini. 

Kali ini Paper Zine bersedia memberi ruang untuk tulisan ala kadarnya saya. Tentang Nilai Nilai ideal. Sebab seberapa sering saya melontarkan pertanyaan kepada diri sendiri tentang "mau jadi apa" dan "apa rencana ke depannya"

Akibatnya, saya sibuk ke dalam upaya upaya merancang rencana ke depan dan menentukan apa yang saya mau hingga lupa untuk menikmati hal hal kecil yang bisa dilakukan sekarang bukan di masa depan. Lupa untuk bersenang senang.

Eniwei, PaperZine dirilis dalam bentuk fisik dan dibagikan secara gratis (gratis kan ya?) di beberapa distro kota Bandung. Sukseslah untuk semuanya, dan terimakasih, Ilham dan Ichan!

 (click to enlarge)