Thursday, May 10, 2012

Kereta Berhenti Terlalu Lama


Stasiun dipenuhi gemuruh penumpang yang kian menyemut di muara lintasan. Kereta sudah terlambat dua setengah jam. Lelaki perempuan mencoba membunuh waktu dengan pikirannya masing masing. Ada yang melirik arloji berkali kali, ada yang mengeraskan volume pemutar musik yang digenggamnya sedari tadi.

Petugas stasiun terbata menenangkan segerombol pekerja yang menanyakan kapan kereta akan tiba. Senja sudah menggantung, langit sebentar lagi menjadi malam. Satu dua pekerja tak henti menggedor kaca kubikal penjual karcis. Kereta tak pernah terlambat selama ini.

“Aneh ya mbak, pas lebaran aja keretanya ndak sampai begini.”

Gemuruh suara penumpang yang terlambat keretanya makin menguar nyaring.

Puluhan orang menyesak di belakang garis polisi. Beberapa dari mereka menyalakan senter demi bisa melihat apa yang sedang terjadi. Penduduk sekitar lintasan kereta dikejutkan dengan suara lengking perempuan senja tadi. Suara lengking itu meningkahi deru kereta yang menjadi rutin bagi mereka.

Seorang polisi sibuk menyisir semak dan puing puin sampah, tangan kirinya memegang mangkuk dan tangan kanannya terselip sumpit. Tubuh pemilik lengking itu terhantam laju kereta hingga hancur. Serpihannya berserak di sekitar lintasan kereta.

Petugas polisi lain sibuk mengambil foto, bola mata yang terselip di sela rerumputan.

"Kita tidak mengenal konsep seperti itu Ratri!"

Pria itu menggegas langkahnya


"Ratri!"


Saturday, May 05, 2012

Jakarta

Menginjak semester kedua di Jakarta, dalam kegamangan kegamangan tak bertuan.

Saya terus merasa memerlukan penghiburan. Atas hidup, atas rutin, atas segalanya. Semakin ke sini, saya seperti terlepas dan melesak terlampau jauh dari titik saya berasal. Tidak menuju ke titik terbaik, saya justru kehilangan arah dan akhirnya, tidak lagi memiliki alasan kuat untuk tetap berada di Jakarta.

Berinteraksi dan berproses dengan makhluk hidup itu ternyata sulit. Saya kesulitan menyampaikan maksud, terbentur keterbatasan keterbatasan yang tidak bisa saya ungkapkan. Atas nama harga diri dan etika dalam bekerja. Saya seharusnya tidak asing dengan keadaan ini. Di beberapa tempat sebelum ini, sayapun mengalami kondisi serupa. Hanya saja, saya keburu berhenti, keluar dan pergi tanpa belajar tentang cara mengatasinya.

Maka sebutlah saya tidak cukup bekal untuk menghadapi keterkejutan keterkejutan ini. Perubahan yang rasa rasanya terlampau besar untuk saya peluk. Paradoks terbesar adalah jakarta berisi 10 juta manusia dan saya merasa benar benar sendirian di sini.

Tapi, bukankah tinggal dan hidup di Jakarta telah menjadi mimpi besar saya sejak, sebutlah, 5 tahun belakangan? bukankah saya menghabiskan waktu untuk menakar nakar probabilitas hidup di kota ini nyaris setiap malam? bukankah keinginan untuk keluar dari kota kecil yang tidak menawarkan apa apa kecuali kebosanan tak berujung begitu menggebu selama bertahun tahun?

Lalu apa yang membuat saya seperti kehilangan semangat, dan seperti disebutkan di atas, kehilangan alasan kuat untuk tetap berada di Jakarta?

Temporarily emotion? rasa rasanya bukan, kejenuhan ini terjadi nyaris setiap malam sebulan setelah saya berada di sini. Dan tak kunjung hilang. Tak kunjung merasa nyaman. Selama itu pula saya berusaha mencari tau dan mengentaskannya. Dengan bepergian, dengan mengunjungi kawan kawan, bertemu orang orang baru, dan menghamburkan uang :p

Hasilnya sama saja, saya tidak lagi memiliki pendar ketakjuban anak kampung yang membayangkan kehidupan di kota besar seperti pertama mendapat kesempatan ke Jakarta. Tidak lagi ada keinginan untuk hidup di tengah kemajuan teknologi dan keserbaadaan ibukota. Saya justru terus membayangkan kemungkinan kemungkinan yang bisa saya gali di Sampit.

Membuka kembali dan memperluas percetakan alifa, membangun counter pulsa untuk kakak dan mengembangkan bisnis laundry untuk emak. Semua itu bisa saya lakukan jika kala itu pikiran saya tidak berkutat perihal tinggal di Jakarta dan menjadi besar di sini. Naif, Nani adalah anak 19 taun yang naif pada saat itu.

Simpulan terdekat saya adalah selama ini saya membentuk set pikiran berupa "Saya terlalu besar untuk Sampit." dan resultnya sekarang "Jakarta terlalu besar untuk saya" :D 

photo was taken here
so, yea, I'm going back home..

Monday, April 23, 2012

Cerpen: Terminal

Ia duduk cukup lama di kursi panjang, menunggu. Sesekali pandangannya beredar, melihat yang berlalu. Yang datang, yang pergi..

Jakarta pengap. Sudah lama orang meninggalkan istilah 'panas' atau 'dingin' sebagai definisi cuaca kota itu. Siang itu, panas tidak dingin tidak, Jakarta sedang pengap. Pria bersepeda tua melintas di tikungan pasar, beberapa pedagang mengumbar serapah, pedagang lain sibuk bergosip.

Pria bersepeda tua limbung kayuhnya, nyaris menabrak perempuan yang tengah terengah menyeret koper besar. Ia akhirnya terjungkal, perempuan dan pedagang pasar tak peduli, meneruskan apa yang semestinya mereka lanjutkan. mengumbar serapah, menggunjing dan menyeret koper besar sepanjang jalan.

Belasan taksi menawarkan jasanya kepada perempuan yang kini nafasnya hampir putus itu. Berpuluh angkutan lain menyorakkan seru agar dirinya segera melompat naik. Namun ia tak peduli, langkahnya terus diseret, seiring roda besar kopor besarnya. Sepanjang jalan, sepanjang siang.

Terminal lengang, hari itu bukan hari besar. Ditambah tempat yang ia tuju bukan rute favorit petualang ibukota. Ada satu-dua petugas sibuk mengatur gambar gambar, peringatan peringatan di dinding dalam terminal. Petugas loket menguap panjang, pengap Jakarta memenangi perputaran kipas angin ringkih dalam kubikalnya.

Di satu kursi panjang di sudut terminal, koper besar perempuan itu disandarkan. Ia menenggak air mineral botol yang digenggamnya sedari tadi. Nafasnya kini teratur, tak lagi terengah. Kini ia sibuk mengatur rambutnya yang lepek bermandi keringat. Semilir angin muncul entah dari mana. Wajah perempuan itu terlihat damai saat angin menyentuh anak rambutnya.

Bising menguar di udara. Deru deru dan debu debu menari dalam lantunan pengap Jakarta. Lalu suara itu perlahan berlalu, meninggalkan bau asap dan debu debu yang harus kembali mengecup bumi Sesekali suara gesek sapu dan lantai semen beradu, perempuan paruh baya terbungkuk memungut bekas permen karet yang menempel mesra di sandalnya.

Terminal masih sepi, perempuan itu bersandar pada koper besarnya, kakinya diselonjorkan. Telapak kakinya berdebu, air dalam botol yang digenggamnya sedari tadi dipercikkan ke sepotong tissu. Perempuan paruh baya yang menyerah atas kemesraan bekas permen karet dan sandalnya berdehem keras saat tissu kecoklatan itu menyentuh semen.

Dari dalam koper diambilnya sebuah tas kecil. Earphone menempel di kupingnya sejurus kemudian. Lantunan suara Sara Bareilles memenuhi rongga dengarnya, beriringan dengan rasa nyaman yang seketika memeluk. Sepotong tiket ia genggam tanpa dibaca. Semalaman dipelototinya kertas itu, menghapal nomor terminal, jam keberangkatan sampai seri kendaraan yang akan ditumpanginya.

"Dua jam lagi.." 

Friday, March 30, 2012

Getting Old

Mungkin menggelikan jika seseorang melihat manusia yang baru menjadi 20 bercerita panjang mengenai perasaannya sebagai orang tua. Mungkin saya akan terlihat seperti anak umur 12 tahun yang sudah menyimpulkan betapa tidak adilnya dunia lantaran ibunya tidak mengizinkan pergi ke diskotik di Sabtu malam (sigh, kids these day). Attention whore yang menyebalkan.

Tapi sejujurnya, saya merasa tua.

Dari segi fisik, saya mengalami sakit punggung ketika mencuci terlalu banyak baju. Kehabisan nafas setelah berbelas menit membereskan kamar dan tulang tulang saya berkeretak setiap waktu. Oke, kesampingkan dulu dua buntilan keras di bawah kulit di sekitar leher dan paha. Kesampingkan juga fakta bahwa saya malas berobat, atau tepatnya, enggan pergi ke dokter. Saya merasa tidak se-energetik dulu. Ditambah dengan tubuh yang kian jarang bergerak dan bertambah lebar dari waktu ke waktu..

Di satu sisi, saya merasa menua dari segi pikiran. Tua, bukan dewasa. Saya mulai memikirkan hal hal yang menurut saya dan sebagian besar manusia (berdasar transkrip bernama kesepakatan sosial) seperti: mulai memikirkan tentang menetap dan berkehidupan. Saya terus memikirkan bagaimana membangun kehidupan yang berpola. Punya rumah, menempatinya, menjalani rutin, punya anak dan sesekali bepergian.

Padahal saya selalu membenci pikiran semacam itu. Ia milik orang orang menuju tua. Sementara saya adalah anak muda yang tidak akan dikalahkan oleh keinginan untuk merasa nyaman dengan menggadaikan harapan harapan tinggi. Saya terbiasa memiliki sikap meletup letup, gerakan yang masif dan angan yang bombastis.


suatu ketika saya berhasil meyakinkan diri saya sendiri untuk menjadi anak metal lengkap dengan segala attitude dan atributnya. di lain waktu saya memiliki khayalan menjadi Hinata, tokoh dalam serial Naruto.


Saya tidak lagi bangun pagi dengan rencana rencana, tidak lagi berangkat tidur dengan khayalan menjadi penulis dan pergi ke Austria. Saya sudah tidak menyimpan resi ATM dan struk belanja, dengan santainya berhenti mengkalkulasi uang yang saya belanjakan dan akan miliki.

Saya menyadari ini tadi pagi. Saat bangun tidur dan saya cuma berpikir 'remote tivinya mana ya..'

Saturday, March 24, 2012

Cerpen: Luka

Tidak ada yang tau mengapa aku bernama Luka. Pun diriku sendiri, ibuku hidup tak cukup panjang untuk memberitau mengapa aku bernama Luka. Ayah? Sejak lahir aku tidak mengenal sosoknya. Hanya ada ibu dan bermalam malam shift kerjanya yang itupun tidak bertahan lama. Ia meninggal saat aku mulai bisa membaca.

Semula kupikir tak ada salahnya bernama Luka. Seorang guruku mengeja namaku sebagai L-U-C-C-A, ia menyebut itu nama yang indah. Hingga tahun ketiga sekolah dasar aku bahagia sebab mempunyai nama Lucca yang indah artinya. Lalu kartu pelajar yang dibuat di tahun keempat harus melongok kembali akta kelahiranku. Seluruh kelas akhirnya tau bahwa aku bernama Luka. Dan mereka mulai menyampirkan kata ‘borok’, ‘koreng’, ‘bopeng’ di belakang namaku.

Pengasuh panti asuhan sempat menambahkan nama marganya di belakang namaku. Ia kemudian diseret ke dalam sidang adat karena sembarangan memberi marga ke seorang asing yang tak jelas asalnya. Ditambah, kata Luka harus berada di depan marga yang konon katanya hanya dimiliki para bangsawan itu.

Ya, aku tinggal di panti asuhan selepas ibu meninggal. Kadang terpikir bagaimana bisa ibu tak memiliki keluarga sama sekali. Sekedar kakak, adik, ibu atau bahkan teman, ibu tidak menunjukkan tanda memiliki mereka. Pemakamannya digelar sederhana, yang bertandang hanya tetangga, yang memandikan dan menguburnya para pengurus masjid. Hingga akhirnya aku ditemukan menangis lapar di dalam kontrakan dan semua orang terusik, membuangku ke dalam panti.

Mungkin, ibu memiliki keluarga dan teman. Tapi mereka hanya enggan memelihara seorang anak dengan nama Luka. Tinggal di panti mengharuskanku untuk tidak egois dalam menuntut kasih sayang. Sebab aku harus berbagi dengan puluhan anak lain. Dipeluk sekali seminggu saja sudah beruntung. Karenanya aku terbiasa mengejar gelar terbaik agar diperhatikan. Menjadi penghafal paling cepat, murid paling pandai, hingga pencuri handal.

Di usia remaja setidaknya enam kali aku mencuri dari kotak amal masjid. Semata lantaran pengurus panti terus mengeluh soal kesulitannya mencari dana untuk memberi kami makan dan kehidupan yang layak. Uang yang kucuri banyak jumlahnya, diam diam kumasukkan ke dalam kotak amal panti. Sesorang melihat aksiku dan mengadu. Aku dikeluarkan dari panti karena mereka tidak bisa memelihara seorang pencuri.

Padahal aku hanya butuh pelukan dan tepukan bangga dari mereka.

Sebenarnya bernama Luka-pun bagiku tidak masalah. Ibuku pastilah memiliki alasan indah (setidaknya kuharap begitu) mengapa aku bernama Luka. Kadang hanya kesal sebab ibu tidak memberiku nama yang agak panjang, atau setidaknya satu kata tambahan agar aku tidak kesulitan untuk membuat akun jejaring sosial yang mengharuskanku memiliki last name. Atau agar orang orang tidak sampai di titik kesal karena berkali kali mendapat jawaban “Luka” saat merek menanyakan “Iya Luka, terus nama lengkapnya apa?”

Usiaku bertambah dan aku mengalami mimpi buruk banyak jumlahnya. Mimpi itu berupa seorang pria memukuli ibu. Aku bermimpi ibu lebam berdarah berkat sabetan ikat pinggang pria tinggi besar yang tidak pernah bisa kulihat wajahnya. Ibu terus memohon ampun dan pria itu seakan tak bertelinga. 

Mimpi itu berulang ulang hingga membuatku nyaris percaya bahwa itu adalah kenyataan.

Mimpi itu terulang hingga sekarang. Seperti pemutar kaset yang rusak tombolnya kepalaku mengulang mimpi itu setiap malam. Hingga kemarin akhirnya aku percaya, itu adalah kenyataan. Sebab aku bernama Luka, ibuku mengeram benci saat melahirkanku ke dunia. Aku memberinya luka. Tidak terhitung banyaknya. Ia menyabetkan ikat pinggang dan membenturan kepalaku ke tembok hingga aku lupa akan lukaku dan selalu mengira ia adalah ibu terbaik yang kupunya.

Aku bernama Luka. Aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Usiaku 23 tahun, tidak perlu khawatir saat menemukan tubuhku yang mungkin berserak hancur. Makamkan aku selayaknya manusia, tak perlu repot mencari kerabat sebab aku tak memiliki mereka. Urusan duniaku sudah usai, tidak ada hutang maupun dendam yang belum terpunahkan.

Tidak ada yang tau mengapa aku bernama Luka. Pun diriku sendiri, ibuku hidup tak cukup panjang untuk memberitau mengapa aku bernama Luka. Ayah? Sejak lahir aku tidak mengenal sosoknya. Hanya ada ibu dan bermalam malam shift kerjanya yang itupun tidak bertahan lama. Ia meninggal saat aku mulai bisa membaca..

Thursday, March 15, 2012

Saturday, March 10, 2012

Yang Sampai dan Tidak dalam Kebersampaian dan Ketidaksampaian

Tadinya berniat untuk menulis sedikit review tentang pementasan teater Nabi Darurat Rasul Ad Hoc yang diglar di Gedung Kesenian Jakarta tadi malam. Tapi saya kehabisan kalimat untuk dituliskan. Tak berhasil pula menyaripatikan meski sudah sepanjang jalan pulang saya pikirkan. Jadi ya sudahlah, tinimbang saya berputar putar dalam bahasa sederhana yang nyaris tak memiliki makna, maka saya simpulkan bahwa pementasan teater yang naskahnya ditulis Emha Ainun Nadjib itu luar biasa.

Mengapa? entahlah, ini kali pertama saya menonton pertunjukan seni dalam skala 'serius' (dalam artian tidak ada properti asal jadi dan pemain yang berulang kali keselimpet membaca naskah) sebagai yang pernah membaca tulisan2 cak nun dan dua tiga kali menghadiri kenduri cinta, saya terkagum dengan visualisasi dalam bentuk teater ini. 

Sisanya, mungkin berupa senyum lebar saya yang susah pergi hingga menjelang pagi lantaran untuk pertama kalinya saya menonton Letto secara langsung. #EAAAA #GrupisMurtad
photo was taken here


Sepenggal kalimat kesukaan dari pementasan ini yang saya coba ingat dengan berpayah payah:

"Keluarlah, bermain kelereng dan mengejar layang layang! sebab yang terpenting adalah mengalami" ~ Ruwat Sengkolo

Thursday, March 08, 2012

Kelahiran Tanpa Marka

Hari ini saya menemukan setidaknya empat orang memposting “Selamat Ulang Tahun Ayah/Ibu” di twitter dan facebook. Saya langsung teringat pada ibu dan ayah. Keduanya tak memiliki tanggal lahir. Mereka tidak ingat atau memang tak tau kapan mereka dilahirkan. 

Keluarga ayah adalah para pekerja yang hidup di desa, tak penting kapan bayi itu dilahirkan, yang penting tumbuh dan bisa berladang. Sementara ibu, adalah anak sulung dari tujuh bersaudara. Nenek mungkin terlalu sibuk hingga tak sempat mengurus surat surat kelahiran, atau mengabadikan tanggal di sebuah kalender di masa lalu.

Yang saya tau, ibu lahir di tahun 1968 dan ayah dua tahun lebih tua. Itupun hasil meraba saat ibu sudah menjelang 40an. Untuk kartu keluarga dan KTP, ibu dan ayah mengarang tanggal lahir mereka. Ibu di 23 Nopember dan ayah sekitar bulan Juli.

Keduanya tak punya marka kelahiran. Tak punya tanggal untuk dirayakan. Sedari kecil kami ketiga anaknya tidak sekalipun berkesempatan merayakan ulang tahun ibu atau ayah. Tidak juga menghambur peluk saat pulang sekolah mengucapkan “Selamat ulang tahun mama “ seperti iklan susu formula di televisi.

Namun sebenarnya, perayaan ulang tahun bukanlah hal lumrah di keluarga kami. Kami dibesarkan tanpa kebiasaan menyantap keik manis dan lilin yang ditiup setiap tahun. Saya hanya ingat perayaan ulang tahun di umur sembilan, saat saya mengenakan gaun hijau dan menangis lantaran tak ada kue. Lalu di umur duabelas, saat kelas satu SMP dan saat lulus SMA.


Ini ditulis untuk membayar keinginan saya untuk merayakan ulang tahun ibu dan ayah. Untuk membayar tahun tahun yang terlewat tanpa ucapan “Selamat ulang tahun” dan perayaan perayaan.
photo was taken here

Selamat Ulang Tahun abah, Selamat Ulang Tahun, Mama. Kapan kalian dilahirkan bukanlah perkara yang sebenarnya. Itu hanya tanggal dan marka. Bagian terbaiknya adalah saya bisa mengucapkan selamat ulang tahun kepada kalian kapanpun saya mau, sepanjang tahun, berkali kali :D


Sekali lagi. Selamat Ulang Tahun!!

Tuesday, March 06, 2012

Blurry Blue

It been three month I invaded Jakarta. every night I spend half of hour to think and write down every sense that i've sensed  that day. Named Jurnal Jakarta, handwriting, lay next to my Frank Sinatra cassette. And every single night I wrote "I miss home" on the bottom of it.

I do, its kinda lonely to live in a strange place, barely without friends or family so I rarely in touch with others. But the saddest part is, I have no place called home. I feel insecure, cold, and.. lonely :') maybe I have to re-think about this dream. Yes, I'm the one who refuse to stay at a small place named Sampit. Yes, I'm, the one who insist to share my dream with this monstrous city.

But still, I hate this homeless thingy. The traffic, the poisonous air, the sun that bright too damn hot, the weather that impersonating old-just-had-men-o-pouse-lady, the language that sounds like anger in every words, it takes three month for me to hate Jakarta, yet I'm not entirely see this city.

There, saya akhirnya mengeluh juga terhadap Jakarta :D