Posts

Procrastinate

Saya menunda lagi, niatan yang dengan berapi api dilontarkan sebagai resolusi Januari silam. Beberapa kesempatan yang datang untuk bekerja di luar Sampit saya tampik dengan alasan belum siap terlampau jauh dari rumah. Tidak akan pernah ada kata siap, yang ada hanya kompromi. Kompromi untuk menjadi siap dengan menihilkan satu dua alasan ketidaksiapan. Oh betapa teori ini mudah untuk dituliskan ke dalam posting polesan pretensius. Saya selalu bosan, mungkin ini masalahnya. Sebagai akibat untuk menuntaskan rasa bosan, saya merasa berkewajiban untuk senantiasa bergerak. Urung setahun, saya sudah terpikir untuk berhenti bekerja di televisi. Kapan saya jadi sesuatu kalau karir tidak kunjung dibangun?  Cieehh, sesuatu. Beberapa kabar lain adalah berat badan turun 6 kilo (yay!), saya sendiri tidak mengerti atas keinginan berlebih dalam menjadi kurus ini, padahal komentar orang sekitar hanyalah "Waaa, Nani kurusan sekarang," dan udah itu aja. Nobody gave me gold or money ...

Langgam Maya

Image
Sudah keburu 2013 untuk mengkritisi soal bagaimana internet sudah mengubah generasi sekarang dan bagaimana generasi sebelumnya memaknai perubahan tersebut melalui hashtag #generasi90 yang disebarkan melalu internet jua. Saya sendiri tidak tau berada di generasi mana. Terlalu tua untuk menjadi generasi maya dan terusir dari generasi 90 tadi. Yang pasti, internet telah menjadi bagian dari sekurangnya 24 jam perputaran hidup. Informasi yang sedemikian mudahnya diakses membuat saya menjadi pelupa. Soal mana yang lebih penting dan apa yang sebelumnya saya pikirkan hingga berakhir pada situs situs absurd atau lepas ratusan gambar di 9gag. Sekarang bulan puasa dan saya bekerja di media. Kesibukan justru menemui puncaknya, setiap hari berkutat soal acara acara yang mengkhutbahkan diri sebagai spesial ramadhan namun toh ujung ujungnya profit dan share penonton. Keluh? saya rasa bukan, sejak dulu saya memang seorang yang pahit dan saya sadar betul soal itu. Karenanya tidak banyak yang bisa ...

Let It Rain - Stereofolk #3rd Mixtape

Image
Generasi sekarang akan semakin jauh dengan sensasi perasaan saat menerima sepucuk surat dari pak pos. Atau menunggu nunggu postcard saat lebaran tiba. Stereofolk.blogspot.com tau hal itu dan dengan effort (yang saya yakini tak sedikit) ia mengemas mixtape ketiganya dalam wujud fisik dan dibagikan GRATIS. Jadi jika tidak mampu mengapresiasi dengan resensi panjang lebar soal pemilihan lagu dan keterkaitan tema, maka saya lantunkan terimakasih virtual dalam posting ini.  Let it Rain adalah satu jam duapuluh satu menit yang menyenangkan untuk didengar di siang hari dengan hujan gerimis malas, perut setengah terisi dan kantuk yang menjadi selimut sempurna. Kencangkan headset dan tidur -atau galau- :) dan selepas for folk's sake yang hingga saat ini masih kerap saya putarkan di radio kala malas bicara, Let it Rain adalah sekuel, atau chapter baru yang menarik dari blog ini. Segera menuju stereofolk.blogspot.com untuk mixtape ini, my favorite part : penempatan musikalisasi pu...

Tempus Fugit

Selang semester dalam pekerjaan baru, saya belum (syukurnya) menemui jenuh. Pekerjaan kali ini menawarkan lebih banyak variasi dalam rutin, lebih 'longgar' dan memungkinkan saya untuk melakukan banyak hal. Ditambah dengan gaji yang lumayan sih :p Masih berkutat dengan delapan jam siaran radio per minggu dan empat shift malam sepanjang bulan puasa tentu akan membawa konsekuensi semacam : saya tidak punya banyak waktu luang. Pada titik ini, mencuri curi waktu untuk sekedar menulis posting blog sampitculinary.blogspot.com dan twitteran adalah berkah. Jadi maafkan jika saya tidak punya cukup waktu (dan energi) untuk bersenang senang layaknya anak mudah zaman sekarang yang tengah dilanda gelombang cinta. Maklumi atau berlalu. Saya sudah cukup bersenang senang dengan ide untuk membangun kios kecil untuk usaha kakak dan mendukung ponakan agar menjadi anak berbakti dan berguna untuk nusa bangsa. I might be an outcast, anak kurang gaul yang menyandarkan sembahnya pada New York...

Featured : Zine Late For School #3

Image
Penampakan LFs #3 setelah difisikkan Beberapa waktu lalu saya menemukan Late for School melalui twitter. Kini, sebulan berselang merekapun merilis edisi ketiga. Yang dibahas edisi kali ini adalah curhatan galaw para editor pemilukada yang bakal digelar 2014 kelak. Edisi #3 mengandeng beberapa kontributor yang cukup untuk mem- boost halaman hingga berjumlah delapan.  Tak seperti edisi sudah sudah, kali ini mereka sengaja merilis dalam versi .pdf printable. Jadi, kalau dibaca via .pdf, lumayan njelimet. Versi fisik akan segera beredar di Bloodshine Merch Jl. Ki Hajar Dewantara depan SMKN PGRI. Atau download di sini Saya mendapat kehormatan untuk turut menulis dalam zine ini. Click to enlarge Paradigma Kebebasan Kotak Suara /Sejak awal, pemilihan umum adalah akumulasi lawak sarat/ dimana birokrat, tengkulak, cukong dan militer bersejawat/ Konon, kita telah memasuki masa modern. Di mana demos dan kratos sudah diterapkan pada nyaris seluruh belahan dunia. Demo...

Kemungkinan Itu Bernama New York

Image
Taken from here Pergi dan berkehidupan di New York adalah keinginan terbesar dari sekian keinginan keinginan besar yang saya punya. Untuk menjadi newyorker, untuk berjalan di pagi hari lalu membeli roti untuk sarapan, atau duduk di bangku taman di suatu musim semi. Menjalankan hidup, dan menjadi hidup. Walau hingga sekarang saya belum tau apa definisi hidup itu sendiri. Sejak saya paham bahwa tidak ada yang salah dari bermimpi (yang mengada ada sekalipun), keinginan itu masih sama besarnya. Masih menjadi alasan untuk bergumam gumam dalam bahasa inggris di kamar mandi. Alasan, untuk terus mengayuh ingin dan usaha untuk bisa ke sana. Entah bagaimana. Lalu pagi ini saya bangun tidur dengan beberapa kemungkinan untuk bisa sampai ke New York; Scholarship Ini adalah alasan mengapa saya belajar sedemikian kerasnya hingga lolos masuk ke SMA terfavorit kala itu. Penyebab kantuk bermalam malam untuk menghapal tensis dan verb agak kelak ketika saya melanjutkan ke perguruan tinggi j...

Sampit Berisik Present ; Silent Scream

Image
"Nama acara ini tuh apa ya?" Saya tak sengaja melontarkan pertanyaan ini kepada salah seorang pembesut kegiatan, Mas Edy, saat acara setengah berjalan. Pasalnya, saya mendapat rantaian pesan singkat yang menyebut Sampit Berisik namun kemudian menemukan backdrop panggung berbuyi Silent Scream. Beliau tertawa dan bilang kalau ini (belum) Sampit Berisik, namanya Silent Scream. Gig kecil sebelum nanti digelar Sampit Berisik yang lebih besar. Dan konon akan mengundang nama besar dalam skema blackmetal indonesia. ihiy. Maka begitulah, sebuah gig yang diprakarsai (Mas Agus yang resmi membuka Bloodshine Merch malam itu), Mas Edi, Padung Hitam dan komunitas metalcore Sampit berlangsung sejak pukul setengah delapan malam di halaman gedung KNPI. Saya datang bersama kru dari zine Late for School yang mengemban tugas mulia : untuk membagikan sekurangnya 50 pcs zine laknat itu kepada kawan kawan luar daerah. Yang kemudian habis dalam hitungan menit. Soalnya dikit. Hahahaha. ...