Posts

Bolehkah Menjadi Jahat?

Image
Betapa membosankannya semua dongeng jika tidak ada sosok yang disalahkan, yang menjadi masalah, yang berbuat salah. Bayangkan seperti apa rupa sinetron Indonesia jika tidak ada satupun tokoh berdandan menor dengan suara tinggi dan bermisi tunggal; merepresentasikan tujuh dosa manusia dalam sekali waktu. Jika bukan karena merasa benar, tidak akan ada manusia yang berbuat jahat. Perasaan benar akan menimbulkan pembenaran, semacam kebenaran, namun hanya untuk konsumsi pribadi. Sebetulnya membahas soal 'kejahatan' itu sendiri rasanya menarik, apa yang membuat kita menyimpulkan satu kejahatan dan memberi vonis jahat kepada pelakunya. Sayangnya tulisan ini akan menjadi semakin panjang dam semakin membosankan untuk dibaca. Kita simpulkan saja, kejahatan adalah label atas tindakan yang tidak sesuai norma (hukum, agama, adat dan susila), yang meresahkan lagi merugikan orang banyak dan pelakunya wajib menanggung konsekuensi berupa hukuman sesuai norma yang diberlakukan. Urusan m...

Yay~

Image
Saya sesungguhnya tidak gemar berkompetisi. Satu satunya lomba yang pernah saya ikuti adalah lomba melukis saat kelas enam SD. Juara? iya, juara 3. Setelahnya saya nyaris tidak pernah mengikuti lomba apapun kecuali dalam tim semasa masih PMR dulu. Namun berdasar pertimbangan 'ga ribet, cakupannya sempit dan kayaknya yang ikut dedek dedek SMA semua', sayapun dengan jumawa mengikuti lomba Cosmic #3 yang diselenggarakan Telkomsel School Community Kalimantan Tengah. Saya mengikutkan satu posting dari blog ini daaannn iyah, juara dua *kalah sama dedek dedek SMA*     Muahahahahaha.

Ouch!

"Coba kalo pintu belakang ga bisa dibuka tuh jangan dipaksa, lewat pintu depan. Kan ga dikunci!" Teriakan pagi buta di lantai bawah. Tepat sesudah saya menyelesaikan renungan pagi untuk memaksakan diri merantau lagi.

Featured: Harian Radar Sampit Edisi Minggu 23 Sept 2012

Image
Oh well..

Objektivitas

Image
the Illusion of Neutrality, Robert A. Divine Seberapa sering kita dituntut, merasa harus, atau bahkan mengklaim diri telah bersikap netral? melakukan penilaian yang sepenuhnya objektif -berdasar atas variabel variabel non konjungtif terhadap standar standar penilaian- tanpa sedikitpun unsur keberpihakan. Atau seberapa sering keputusan diambil tanpa memandang latar belakang kedekatan atau bahasa Orbanya, tanpa nepotisme? Kita memiliki kesadaran. Fungsi limbik di dalam otak hanya mempengaruhi sedikit dari sistem logika. Sistem logika merupakan akumulasi gerakan dan paham yang diserap manusia sedari kanak kanak. Sebabnya bisa muncul berbagai penyakit psikis, seperti schizophrenic, yang memposisikan seseorang di ambang realita dan khayal hingga tidak bisa membedakan keduanya, atau bersikap sesuai keduanya, tanpa memiliki sistem logika yang merunut kejadian berdasar sebab-akibat dan kronologi. Seseorang seharusnya concern dan memeriksakan dirinya jika memiliki sindrom seper...

Featured: Paper Zine Edisi Ketujuh

Image
Kalau bisa memilih, saya pengen tinggal di Bandung. Kalau bisa memilih juga, saya pengen punya pacar. #krik Sebab rupanya di sana selain batagornya enak, udaranyah sejuk dan semua orang terlihat ga mengenal konsep marah, 14 Juli yang lalu Bandung menggelar Zine Fest. Festival Zine. Ichan dalam blognya menulis soal ini.  Kali ini Paper Zine bersedia memberi ruang untuk tulisan ala kadarnya saya. Tentang Nilai Nilai ideal. Sebab seberapa sering saya melontarkan pertanyaan kepada diri sendiri tentang "mau jadi apa" dan "apa rencana ke depannya" Akibatnya, saya sibuk ke dalam upaya upaya merancang rencana ke depan dan menentukan apa yang saya mau hingga lupa untuk menikmati hal hal kecil yang bisa dilakukan sekarang bukan di masa depan. Lupa untuk bersenang senang. Eniwei, PaperZine dirilis dalam bentuk fisik dan dibagikan secara gratis (gratis kan ya?) di beberapa distro kota Bandung. Sukseslah untuk semuanya, dan terimakasih, Ilham dan Ichan! ...

Mengupas "Atheis" Achdiat K. Mihardja

Image
Disclaimer: Penulis adalah pembaca amatir, pengulas amatir, dan pengamat sastra amatir. Satu satunya yang profesional dari Penulis adalah makan rendang tanpa banyak mengunyah. Yang saya kagumi saat membaca roman ini ialah kepandaian penulisnya dalam menjalin kata hingga pemaparan mengenai komunisme menjadi mudah dicerna. Tokoh bernama Hasan nampaknya sengaja dibuat agar berkarakter "mudah" dan gamang. Kiranya dengan sifat demikian, penggunaan sudut pandang orang pertama tunggal tetap mampu mengcover dua ideologi serba bertentangan. Komunisme dan kapitalisme, sosialisme dan anarkisme, atheis dan theis, modern dan mistik. Maka Hasan, menceritakan hidupnya dengan alur yang runut. Tentang jiwanya yang semula kukuh perlahan menjadi goyang dan akhirnya runtuh (ditandai saat ia pulang ke Panyeredan dan menyatakan bahwa ia ingin mengambil jalannya sendiri) lalu menjadi kukuh kembali saat dirinya menjemput maut. Tidak berimbangnya antara tokoh yang menganut paham mistik, ...