Posts

Sore Itu Kudengar Derap Kaki

Sore itu kudengar derap kaki Menjawab dentum dan tatapan ngeri Setiap mata yang menatap nanar Kepada yang seolah dibenarkan untuk bertingkah onar Sore itu kudengar derap kaki Menyeruak masuk dari serambi Ayah mendesakku ke dalam lemari Bersembunyi Aku mendengar popor Aku mendengar jerit Aku mendengar sunyi Sore itu kudengar derap kaki Bersama senja mereka pergi Lalap api kian meninggi Kepada yang hilang, Dedy Hamdun HILANG Mei 1997 Ismail HILANG Mei 1997 Hermawan Hendrawan HILANG Maret 1998 Hendra Hambali HILANG Mei 1998 M Yusuf HILANG Mei 1997 Nova Al Katiri HILANG Mei 1997 Petrus Bima Anugrah HILANG Maret 1998 Sony HILANG April 1997 Suyat HILANG Februari 1998 Ucok Munandar Siahaan HILANG Mei 1998 Yadin Muhidin HILANG Mei 1998 Yani Afri HILANG April 1997 Wiji Tukul HILANG Mei 1998    Kami menunggumu pulang.

Featured: Tax Underground Comunity Zine (TUCzine) #7

Image
Bermula dari sebuah email yang meminta tulisan saya terkait bandung berisik beberapa bulan lalu. Tulisan tersebut dimuat beserta ulasan profil saya di dalamnya. Sungguh, mendapat dua halaman untuk memaparkan tentang diri sendiri semacam ini bukanlah wilayah nyaman untuk saya :D namun terimakasih banyak kepada redaksi Tax Underground Community yang telah berkenan memperbolehkan reporter-penulis amatir (banget) ini menulis untuk zine kalian.  Kunjungi site mereka dan unduk TUCzine edisi edisi sebelumnya di sini download full zinenya di sini

Ied Mubarak

Image
Sedemikian terlupa sama blog inih. Bukan, bukan gara gara saya sibuk pacaran sampe lupa sama dunia maya. Beberapa hari belakangan kegiatan sedang gila gilanya dan sekarang barulah terasa santai, dan sakit pinggang :| eniweeii, selamat Idul Fitri yakk, maap maapin kalo saya ada bikin salah dan berulah melewati batas kewajaran manusia.. Lebaran kali ini, saya melalui rutin lebaran seperti tahun tahun sebelumnya. Ke sana ke mari, sungkem sana sungkem sini. Banyak syukur yang teruntai, syukur masih bisa ketemu puasa dan lebaran, syukur masih bisa berkumpul bersama keluarga, syukur soto mama masih seenak tahun tahun sebelumnya :) penampakan dalam toko bukunya Di sampit kini sudah ada toko buku. Saya heboh soal ini sejak semalam. Namanya Pustaka 2000, ada di dalam kompleks perbelanjaan Barata. Kota saya tidak memiliki toko buku yang memprovide kebutuhan atas buku buku populer. Hanya ada segelintir dan itupun menjual buku buku pelajaran dan beberapa komik-novel bajakan.  ...

Nasionalisme Itu Aku

Image
Nasional. is. Me Meminjam istilah @pandji (enternainer dan penggiat sosial media) yang digaungkan saat tengah ramai sengketa Reog Ponorogo antara Indonesia dan Malaysia, Nasional.Is.Me. Penggalan kata dari nasionalisme. Istilah ini, sedikit banyak mampu menjabarkan makna sesungguhnya dari nasionalisme. Menurut mbah wikipedia,  Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Nah loh, ternyata makna nasionalisme segede gede gambreng begini. Lebih dari penempatan tiga titik dalam struktur kata Nasionalisme. Oke deh, kembali kepada Nasional is Me tadi. Mengapa nasionalisme berkaitan erat dengan term "me" atau "Aku"? Sebab kita adalah penyelenggara negara dengan porsi kekuatan paling besar. Setiap individu yang berstatus warga negara Indonesia adalah yang paling berperan dalam keberlangsungan negara...

Belajar Dari Adik

Yang menyenangkan dari Ramadhan tahun ini adalah saya diberi kesempatan untuk mengalami masa rentang dari keluarga. Berkat itu, saya setidaknya sedikit lebih menghargai nilai keluarga. Sebagai tempat pulang, sebagai wadah menunjukkan kelemahan. Kabar baikpun sedikit demi sedikit berdatangan dari masing masing anggota keluarga. Usaha ayah yang membaik, mama yang kini kesehatannya sudah pulih dan kakak yang telah settle dengan status dan pekerjaannya. Yang terakhir adalah kabar paling menggembirakan. Adik saya naik kelas :'D adik saya kini kelas enam SD di usianya yang beranjak 15. Kaget? Adik saya lahir dengan sedikit kendala, ia tidak menangis hingga beberapa jam setelah kelahirannya. Diduga sempat tertelan air ketuban atau apalah. Ia baru bisa menyelesaikan satu kata di usia 5 tahun (tidak cadel). Daya tangkap yang rendah dan cenderung pemarah. Ini tentu saja menyusahkannya ketika masuk sekolah dasar. Tahun tahun awal, mama adalah yang paling keras membujuknya untuk sekol...

Fearless

Image
have no idea why this parkour cat should represents "fearless" Menghabiskan beberapa belas menit untuk bengong dan menunaikan panggilan alam, saya berujung dengan postingan ini. Tentang rasa takut dan kedisiplinan. Setelah mencoba mengingat ingat kembali rentetan kejadian baik yang mengenakkan maupun tidak tahun tahun belakangan, saya tiba pada kesimpulan, sepertinya saya agak sulit untuk disiplin terhadap komitmen. Saya tumbuh tanpa diajari rasa takut dan keharusan untuk tunduk kepada sesuatu. Bisa jadi karena Ibu tidak mengajarkan saya untuk takut gelap karena ada setan di dalamnya. Tidak melarang saya untuk menembus malam karena banyak orang jahat yang berkeliaran. Atau mungkin memang sayanya yang bebal dan menganggap setiap larangan sebagai tantangan :D Yang pasti, sekarang saya menuai benih ketidaktakutan itu. Saya tidak merasa takut terhadap siapapun termasuk atasan dan orangtua. Sisi baiknya adalah orangtua saya merupakan orangtua terkeren sedunia dan mer...

Rumah

Selama ini, saya hanya punya satu jawaban saat siapapun menanyakan saya bekerja di mana di Jakarta, sebagai apa. Saya bekerja di rumah produksi film, sebagai publicist. Dan ini akan menuai pertanyaan lain,  publicist  itu apa. Maka untuk alasan malas menjelaskan, saya selalu menyebutkan bahwa saya bekerja di rumah produksi film dan di sana jadi penulis. Dan di sanalah saya tujuh bulan terakhir. Sebuah production house bernama Picklock Productions . Kantor hangat yang tidak hanya menjadi tempat bekerja untuk saya, namun juga rumah :) literally, selama Juni saya benar benar menjadikan kantor sebagai rumah. Dalam artian tinggal di sana :P Dalam beberapa post terakhir saya rasanya sudah cukup menumpahkan kegelisahan saya terkait Jakarta dan rasa sepi yang terlampau sepi saat jauh dari rumah. Hingga akhirnya saya pulang dan berhenti bekerja di sana, 30 Juni kemarin. Belum saatnya, atau memang sudah masanya, entahlah. Saya tidak berani membuat pembenaran karena saya tau betul...