Posts

I'm An Artist :D

Image
Judulnya saru! hahaha. Aku, sedari dulu memiliki semacam kegilaan terhadap dunia broadcast/media. Menjadi terkenal dan berkarya secara kreatip. An Art-ist. Pelaku dunia seni. Dan berhubung aku gapunya talenta berlebih dalam dunia akting, maka cita cita menjadi artis sinetron kuhapus jauh dari daftar mimpi. Tadi siang ngebongkar dus dus tua di kamar. Menemukan empat buah komik H2-nya Adachi Mitsuru dan dua buah naskah drama. Naskah Drama. Ada apa antara aku dan naskah drama?? (jeng jeng) Tepat, SMA ku dulu memiliki semacam ketentuan untuk mengadakan ujian praktek kesenian. Dan kami memutuskan untuk bermain drama. Keputusan yang salah, anak muda. Terutama jika kalian meminta seorang kutu buku yang punya obsesi berlebih terhadap abad pertengahan untuk menulis naskahnya. Kelompok kami, memintaku untuk menulis naskah drama tersebut. Durasi minimal 30 menit. Setelah berkutat dengan sederet proses kreatif, aku akhirnya menemukan sebuah plot drama yang sungguh spektakuler. Berdasarkan sebuah s...

Pilem Ini Kerennya Gila Gilaan

Image
Aku suka nonton pilem dua taun belakangan. Sejak HBO hadir di layar televisi 21 inci ruang tengah yang harus ditendang kala warnanya goyang. Sekarang kegilaan itu bertambah sejak tipi di rumah udah bisa nangkep starmovie. FYI. Seumur hidup aku ga pernah ke bioskop (silahkan ketawa). Pertama kali nonton kedua film ini sekitar pertengahan tahun lalu. Telat memang, mengingat masing masing release taun 2005 dan 2008. Here they are ; untuk alasannya,, aku bukan orang yang jago ngereview. Jadi jangan harap ada potongan potongan kalimat berisikan nama produser, sutradara plus deretan panjang artis yang memenanginya. Aku suka Pride and Prejudice lantaran udah keburu tau kalo ini based on Jane Austen novel. Dan yak, aku setengah mati suka BANGET sama Jane Austen. Buku pertama tante Jane (beh, berasa akrab abis) yang kubaca adalah Mansfield Park Dan di taun 1999, novel ini juga diangkat jadi pilem. Sayangnya aku rada kecewa dengan pilemnya. Inilah resiko nonton pilem yang nopelnya udah dibaca du...

Creative Time!

Image
Beberapa hari yang lalu menemukan baju tua milik emak. Warna ijo, full bordir plus payet. Konon katanya itu baju emak waktu beliau masih abege. FYI, emak dulunya kembang kampung. Can't figure :D Caranya, potong potong bordiran yang menarik hati, pisahkan mereka dari habitat aslinya. Karantina Terus.. cari baju polos yang udah lama ga dipake. (this is why we called is as 'modifikasi'. Here's my flat bored black dress ; (membosankan, huh?) Langkah selanjutnya : Belilah Lem Lilin Yak, this is a creative time. Tempelkan sesuka hati si potongan bordir tadi. Hasilnya : Super Yay! Tips : Kalau bajunya sering dipake (otomatis sering dicuci), lebih baik sedikit ribet dengan mengganti lem lilin dengan jarum jahit. Lem lilin rada musuhan sama detergen dan air ^^ BTW, I also made something for my flat shoes. Before : After ; Sekarang, sepatu obralan itupun bertransformasi menjadi sepatu kondangan. I Am Genius!! hihihi, bongkar bongkar baju lama ...
Image
Metal, Harga Mati! Di tengah gempuran band beraliran pop-melayu, band beraliran metal seolah tersisihkan dan terancam mati. Di antara yang sedikit itu masih ada yang bersikap idealis dengan mempertahankan aliran metal sebagai perlambang diri. HINGAR bingar musik keras menghentak di sebuah rumah di dalam gang sempit, inilah rumah Upi. Sepintas mereka terlihat seperti kumpulan anak biasa yang kerap nongkrong tengah malam. Namun, ada yang membedakan mereka dengan komunitas nongkrong lainnya. Mereka adala anak nongkrong dengan selera musik metal. Diawali dari hobi bermusik yang sama, mereka lantas membuat grup band. “Dulu kita sempat ngeband juga, spesialisasi kita adalah lagu Dream Theater dan Power Metal,” ungkap Ari sang bassis. “Tapi sekarang kita udah bubar, kadang-kadang juga main walau hanya sekedar jamming atau membedah lagu baru,” lanjutnya. “Di Sampit sendiri penggemar musik seperti ini belum terlalu banyak. Selera pasar masih pop melayu, sekadar keras pun, paling cuma Avange...

Langit Mengelam di Pasar Malam

Image
Tidak ada satupun yang mengenalinya, ia hanya duduk nyaris tersungkur di jalanan aspal. Menyeruak di tengah keramaian pasar malam. Bersimbah lelah, raut wajahnya mengiba sebisanya. Ya, dengan mengiba rupiahpun datang ke tangan kumuhnya. Dua anak kecil diboyong serta. Cacat? Ya. Sebuah tongkat besi menemani langkahnya. Apa saya iba? Ya. Saya menangis sebisanya. Permasalahan orang miskin memang lekat dengan kehidupan kita. Tatanan hirarki kependudukan laksana timpang tanpa kotak-kotak miskin-kaya, makmur-menderita. Saya tidak tahu siapa namanya, enggan bertanya, sebenarnya. Saya enggan berkawan terlalu lama dengan bau tengik dari baju kumalnya yang entah pernah mengenal deterjen atau tidak selama kurun waktu se-dekade lalu. Sudah penat rasanya melihat para miskin menyempil dalam lensa kacamata minus empatratus saya. Mereka menggelantar di sudut pasar, tempat pembuangan sampah, bergelut sebisanya mencari nafkah. Setidaknya limapuluh sajak dan puisi saya tulis berlatar kehidupan para miski...

Kerusuhan Sampit, 2001

Image
Saya paham sepenuhnya, judul di atas merupakan isu sensitif yang pamali dibahas hingga sekarang. Di postingan kali ini saya hanya sekedar ingin berbagi mengenai apa yang saya alami ketika konflik tersebut terjadi. Bahkan dalam penyebutannyapun, semacam di’atur’ oleh –entah-siapa- Saya sempat bekerja di media dan menemukan bahwa media massa dilarang menyebut peristiwa 18 Februari 2001 dengan istilah ‘kerusuhan’, ‘perang etnis’ maupun ‘pertikaian adat’. Kami, (saya dan redaktur sempat berdiskusi alot mengenai hal ini) kemudian memutuskan untuk mempublishnya dengan sebutan Konflik Etnik. Merujuk pada Peraturan Daerah Kab. Kotim nomor 5 tahun 2004 tentang penanganan penduduk dampak konflik etnik. Di bawah ini adalah tulisan saya untuk media mengenai konflik etnik 2001. (tulisan ini ketika masih mentah dan belum masuk meja redaksi, saya sendiri banyak menggunakan istilah Kerusuhan di dalamnya. Well, bagi saya apa yang terjadi layak disebut kerusuhan, even worse). Napak Tilas Konflik Etnik ...

Kemarin Aku Pulang

Semua ini rasanya sudah terlampau gelap. Sedari dulu. Aku tak peduli, sama sekali tak ingin peduli. Tentang bagaimana hidup ini harus berlalu dan terlewati.. Sore itu gerimis menyapa lembut kota ini. Aku baru pulang. Gerimis pelan berubah menjadi butiran raksasa, lagi lagi kehujanan. Cuaca agak menggila akhir akhir ini. Panas terik yang berlangsung seharian ditimpa hujan badai di sore hari. Bahkan cuacapun mulai lebay.. Aku melintasi satu per satu pengendara yang menepi. Ruko ruko kosong mulai berjamur di kota ini, masih baru. Keberadaannya yang dinilai strategis membuat para investor tak pikir dua kali untuk turut mengeksploitasi. Hujan makin lebat, jarak pandang kian tipis. Aku tak peduli, tidak pada intonasi hujan yang meninggi, pada lampu jalan yang berkedip merah sejak tadi, atau pada jerit sejumlah anak berseragam putih-biru yang tengah menggigil dingin di ruko kosong. “Awas!!!,” Sepenggal kata itu sempat sedikit menyusup ke telinga. Sayang, kedatangannya sedikit lebih lambat dar...